COOL BOY

COOL BOY
BAB 58



Kalian tahu kan bagaimana rasanya di cintai sama seseorang yang juga kita cintai? Pasti bahagia banget deh! Merasa paling beruntung karena hal itu, walaupun kenyataannya jatuh cinta itu tidak seindah yang kita bayangkan.


Banyak lika liku yang harus kita hadapin nanti ke depannya, apalagi kalau kita memilih untuk melanjutkan ke jenjang serius. Betul gak? Ada yang punya pengalaman serupa?


Tapi kalian ingat kata-kata ini, cinta itu buta. Benar! Kalau orang sudah jatuh cinta dengan tulus pasti tidak pernah peduli dengan apapun yang ada di sekelilingnya, seakan dunia kita hanya untuk dia seorang. Padahal sebenarnya hal itu tidak baik, karena biar bagaimana pun kita harus tetap bersosialisasi bukan?


*****


Setelah setelah kuliah tadi, Bintang mengajak Bulan untuk berkunjung ke rumahnya. Bintang bilang kalau Soraya ingin bertemu dengannya. Maka dari itu, dengan senang hati Bulan ikut bersama dengan Bintang mengunjungi Soraya.


Di perjalanan menuju rumah Bintang, jantung Bulan berdebar, entah mengapa menjadi gugup seperti ini bertemu dengan Soraya. Melebihi waktu pertama kali ia mengunjungi Soraya waktu itu, apa kah ada yang berbeda?


"Bintang, aku gugup!" keluh Bulan memberitahu Bintang tentang perasaannya.


Bintang menoleh sekilas ke arah Bulan lalu kembali fokus pada jalanan, dan tangannya yang satu mengambil tangan Bulan untuk di genggamnya. Benar, Bulan gugup karena tangannya dingin saat ini.


Bintang terkekeh pelan, "Se gugup itu kah, sampai tangan kamu dingin!" goda Bintang.


Bulan mengangguk lalu memanyunkan bibirnya, "Iya!"


Bintang mengelus tangan Bulan pelan, "Jangan gugup sayang, mamah cuma mau ketemu kok, gak nyuruh kamu nikahin aku!" seru Bintang membuat Bulan melepaskan genggaman itu lalu memukul bahu Bintang sedikit keras.


"Aduh, kok aku malah di pukul!" ringis Bintang.


"Yah abis kamu ngaco, yang seharusnya bilang kaya gitu kan aku!" gerutu Bulan.


"Aku siap kalau di suruh nikahin kamu sekarang!" seru Bintang tak mau kalah.


Bulan memukul bahu Bintang lagi, "Kuliah dulu sampai lulus, gak usah mikirin nikah!" bantah Bulan.


Bintang menoleh ke arah Bulan sekilas lagi, "Emangnya kamu gak mau nikah sama aku?" tanya Bintang dengan nada sedih.


Bulan menoleh ke arah Bintang, "Mau gak ya kira-kira?" Bulan pura-pura berpikir.


"Inget ya, kamu tuh cinta mati sama aku, jadi pasti kamu mau nikah sama aku!" seru Bintang kesal karena Bulan tak menjawab dengan serius.


Bulan tertawa, "Gak semua yang cinta mati berakhir nikah Bintang!"


Bintang berdengus sebal, "Yah kalau kaya gitu kenapa kita ngejalanin hubungan Bulan? Kalau kamu gak di ajak serius sama aku!" kesal Bintang.


Bulan semakin terbahak, lalu tangannya terulur untuk merapikan rambut Bintang yang padahal sudah cukup rapi.


"Yang bilang gak mau di ajak serius siapa? Aku mau kita lulus kuliah dulu baru mikirin tentang nikah, Bintang. Memangnya kamu mau kasih makan aku apa kalau kita nikah sekarang? Pekerjaan aja belum punya!" seru Bulan memberitahu alasan yang sebenarnya.


"Masalah itu kamu gak perlu mikirin Bulan, aku jamin hidup kamu bakalan bahagia dan tercukupi kok." seru Bintang tak mau kalah lagi.


Bulan menghela napasnya, "Kita bahas nanti aja ya masalah ini, sekitar semester 5 lah baru bahas lagi. Sekarang kita fokus kuliah dulu, aku harap kamu ngerti!" ujar Bulan final dan di anggukin oleh Bintang.


Bintang tak mau jadi masalah karena terus membicarakan soal nikah dengan Bulan. Karena ia pun belum bercerita tentang rencananya ini pada Soraya. Tapi dalam hati Bintang, ingin sekali segera!


Sesampainya di rumah Bintang, keduanya langsung masuk ke dalam. Bintang mencari keberadaan Soraya di kamarnya, tetapi tidak ada. Bintang berjalan bersama dengan Bulan di sampingnya ke arah taman belakang, dan terlihat jelas ada Soraya di sana sedang menyiram tanaman.


"Assalamu'alaikum, mah." sapa Bintang membuat Soraya menoleh ke arah suara itu.


Soraya tersebut setelah melihat siapa yang datang kesini, "Waalaikumsalam, sayang." jawab Soraya.


Bulan dan Bintang bergantian mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Sedangkan Soraya mengelus kepala kedua putra dan putri itu.


"Kalian baru pulang kuliah?" tanya Soraya dan di anggukin oleh keduanya.


"Sudah makan?" tanya Soraya lagi dan di jawab gelengan oleh keduanya.


Soraya terkekeh lalu menarik tangan Bulan menuju ke dalam, ke ruang makan. "Kita makan sama-sama ya." ajak Soraya menyuruh Bulan ikut makan bersamanya dengan Bintang.


Bulan mengangguk, "Iya, tante." jawab Bulan dan mulai mengambil nasi dan lauk pauk ke piringnya.


Saat sedang asik makan, seseorang turun dari tangga, Bulan tak asing dengan orang itu dan benar saja, itu adalah Manda. Untuk apa Manda ada di sini? Pikir Bulan mencoba untuk positif thinking.


"Bulan?" seru Manda saat melihat Bulan tengah berada di meja makan bersama dengan Bintang dan Soraya.


"Manda, lo di sini?" tanya Bulan ada sedikit nada tak suka tapi mungkin tidak bisa di rasakan oleh siapapun.


Manda mengangguk, "Iya tadi tante Soraya minta temenin ke supermarket, beliau belum berani jalan sendirian." jelas Manda.


Bintang menahan napasnya, tahu apa yang akan di rasakan Bulan setelah penjelasan Manda ini.


"Sorry Lan, buat maksudnya ngambil posisi lo, tapi kata tante Soraya lo sama Bintang ada kelas pagi makanya dia hubunginnya gue bukan lo." ujar Manda.


"Iya Bulan, maaf ya kamu tante harus ajak Manda, karena cuma Manda yang lagi kosong waktunya hari ini." seru Soraya ikut meminta maaf.


Bulan mengangguk lalu tersenyum, meskipun senyuman itu tidak bisa bohong kalau dia kecewa dan sedih mendengarnya.


"Iya tante gak papa, aku ngerti kok." jawab Bulan berusaha sesopan mungkin.


"Lain kali, mamah bilang sama Bintang jangan langsung minta anterin Manda ya!" seru Bintang agar Manda tahu sekarang posisinya di mana.


Soraya mengangguk, "Iya Bintang, mamah minta maaf ya."


"Kalau gitu aku pamit pulang dulu ya tante, soalnya ada janji sama Arkana sore ini." seru Manda pamitan pada Soraya.


Manda mengangguk, "Iya nanti aku sampein tante, Bulan gue cabut duluan ya." izin pada Bulan.


Bulan mengangguk, "lo hati-hati ya, jangan macem-macem sama Arkana." goda Bulan membuat Manda terkekeh.


Setelah kepergian Manda, mereka bertiga kembali mengobrol. Hingga datanglag seseorang yang tak pernah mereka duga lagi. Sony! Iya Sony papah Bintang datang kesini, sendirian.


"Assalamu'alaikum." seru Sony saat sudah sampai di ruang makan yang terdapat tiga orang tersebut.


Bintang dan Soraya kaget, begitu pun dengan Bulan. Untuk apa Sony datang ke rumah ini lagi pikir mereka masing-masing.


"Ngapain kesini lagi? Pergi!" usir Bintang tak suka dengan kedatangan Sony.


Bulan menahan tangan Bintang agar tidak maju dan berhadapan langsung dengan Sony, takut malah Bintang tidak bisa mengontrol emosinya dan memukul papahnya sendiri.


"Maafin papah, Bintang." seru Sony tiba-tiba membuat Bintang dan Soraya kaget.


"Maafin papah karena selama ini bikin kamu susah, bikin kamu kecewa, bikin kamu gak pernah dapat perhatian lagi dari papah."


"Papah sekarang sudah sadar Bintang, kalau kebahagiaan papah ada di kalian. Maafin papah Bintang! Papah mohon!" mohon Sony sambil menangis berlutut di lantai.


Bintang menggeleng lalu melangkah maju untuk memukul Sony, meskipun langkahnya susah karena di tahan oleh Bulan tapi akhirnya ia sampai juga di hadapan Sony.


"Permintaan maaf itu udah telat, saya udah gak butuh anda lagi di hidup ini! Lebih baik anda pergi dari sini sebelum saya habisin wajah anda!" ancam Bintang tak suka dengan permintaan maaf itu.


"Pukul papah semau kamu Bintang, papah akan terima asal setelah itu kamu bisa memaafkan papah." seru Sony.


Saat Bintang ingin melayangkan pukulannya, suara Soraya terdengar pilu, dan membuat Bintang tidak jadi memukul ayahnya itu.


"Stop! jangan pernah pukul papah kamu, Bintang!" seru Soraya membuat Bintang bingung.


"Mah?" hanya itu yang keluar dari mulut Bintang.


"Biar bagaimana pun dia tetap papah kamu, dia sudah mengakui kesalahannya, apa salahnya kita maafkan dia?" seru Soraya.


Bintang menggeleng tak setuju dengan ucapan Soraya, "Dia udah buat mamah hancur selama bertahun-tahun! Dan sekarang dengan seenaknya dia datang lalu minta maaf! Dimana hati dan otak dia selama ini mah?"


"Dia yang maksa Bintang, buat bawa mamah ke rumah sakit jiwa! Dia yang selama ini nelantarin Bintang berjuang sendiri untuk hidup! Dia dimana mah? Dia bersenang-senang dengan wanita licik itu tanpa memikirkan kita mah!"


Bulan mengelus punggung Bintang dengan pelan seakan menenangkan kekasihnya itu, Bulan tidak mau ikut bersuara karena menurutnya ini adalah masalah kelurga Bintang yang seharusnya ia tidak melihat kejadian ini.


"Mamah tahu Bintang, tapi papah kamu udah mengakui kesalahannya, Tuhan aja maha Pemaaf, lalu kenapa kita gak bisa memaafkan dia?"


"Kita coba kasih satu kali kesempatan lagi untuk papah, buat buktiin kalau dia sekarang sudah sadar. Bagaimana Bintang?"


Tanpa menjawab apapun, Bintang pergi dari sana bersama dengan Bulan di genggamannya. Lalu segera memasuki mobilnya dan pergi dari rumahnya.


Bintang mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, membuat Bulan ketakutan.


"Bintang, jangan ngebut-ngebut aku takut!" seru Bulan tapi tidak di dengan oleh Bintang.


"Bintang, stop! Kalau mau mati sendiri aja jangan ajak aku, aku masih punya cita-cita yang harus di gapai!" Lagi-lagi tak ada jawaban dari Bintang.


Bulan menarik napasnya, "Bintang stop atau aku ngambek!" teriak Bulan akhirnya membuat Bintang memelankan laju mobilnya.


Bintang melihat ada lahan untuk memberhentikan mobilnya, dengan segera ia memarkirkan mobilnya tanpa mikir resikonya.


"Bulan, maafin aku udah buat kamu ketakutan!" seru Bintang sambil menggengam kedua tangan Bulan.


Bulan paham apa yang di rasa Bintang tadi, Bulan mengangguk, "Iya aku paham apa yang kamu rasa, tapi gak seharusnya bikin kamu mau celaka kaya gini apa lagi sekarang ada aku."


"Bulan, aku harus gimana?" tanya Bintang seakan frustasi.


Bulan menggengam erat tangan Bintang, "Bintang, aku gak mau ikut campur tentang masalah keluarga kamu ini. Tapi kalau aku boleh saran, sebaiknya kamu pikirin lagi tentang permintaan maaf papah kamu."


"Aku rasa, apa yang di bilang mamah kamu itu benar. Semua orang punya masa lalu dan kesalahan, bukan? Seperti kasusnya Viona saja. Dan sekarang papah kamu sudah mengakui kesalahannya, jadi apa salahnya beri dia kesempatan? Setiap orang pasti memiliki kesempatan kedua bukan? Untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi?" saran Bulan.


"Tapi aku gak bisa semudah itu memaafkan dia, Bulan. Terlalu banyak luka yang papah kasih untuk aku dan mamah." keluh Bintang.


Bulan mengangguk, "Aku tahu, tapi balik lagi ke diri kamu. Jangan egois Bintang, biar bagaimana pun mamah kamu pasti butuh sosok seorang suami, begitu juga kamu yang masih butuh seorang ayah."


"Bintang, tahu gak kalau sebentar lagi papah sama mamah aku akan balik ke Amerika, dan aku ngerasa sedih banget karena gak bisa nikmati waktu bersama dengan mereka lagi di rumah. Dan kamu punya kesempatan itu, Bintang. Kalau aku jadi kamu, aku akan mikirin kebahagiaan bukan dendam atau keegoisan."


Bintang memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut gadisnya itu, semua yang di ucapkan Bulan seakan menusuk ke relung hatinya yang paling dalam.


Begitu pula dengan alasan Soraya yang langsung memaafkan Sony tadi. Soraya hanya memikirkan Bintang, anak sulungnya itu membutuhkan sosok ayah yang telah hilang selama beberapa tahun kemarin.


Dan Soraya pikir apa salahnya, untuk memberi kesempatan itu pada Sony. Kalau Soraya lihat dari wajah dan tutur kata Sony, memang Sonya menyesal telah melakukan kesalahan itu.


Tetapi yang buat Soraya bingung adalah, mengapa tiba-tiba Sonya datang lalu meminta maaf?


Bersambung... 


Part gak bikin gedeg nih!! 


Please guys, Sama-sama menghargai ya. Author gak bisa ikutin semua kemauan kalian karena semua udah alurnya. Maaf kalau ada yang kecewa, tapi mohon pengertiannya juga.