COOL BOY

COOL BOY
Episode 4



            Adnan sedang duduk di atas kap mobilnya sembari menghisap nikotin sesekali memainkan ponselnya. Di tepi jalan yang sepi menuju sebuah perumahan, kerap kali dijadikan tempat mencari mangsa oleh para begal.


            Dia hanya sendirian di sana, sedang menunggu mangsa empuk untuk disamsak. Tidak berapa lama kemudian, dia menyimpan ponselnya serta turun dari kap mobil tersebut. Puntung rokok yang terselip di bibirnya dibuang begitu saja dan mencegar seorang pengendara sepeda motor.


            Pengendara tersebut mengerem mendadak dan melepas helm dari kepala. Sebelum meletakkan helm di kaca spion, tubuhnya tiba-tiba melayang ke udara sehingga helm tersebut jatuh ke aspal.


            Adnan menghampiri dan meraih kerah seragamnya. “Anak haram sialan!” Makinya, sembari melayangkan kepalan tangannya ke wajah coowk tersebut.


            Cowok itu hanya terkekeh sembari menyeka darah dari sudut bibirnya. “Gimana rasanya?”


            Adnan kian tersurut emosi, kembali membaku hanta, tubuhnya sampai cowok itu ringsek. “Zevanya milik gue! Gue peringatin, gue akan bunuh lo kalau berani nyentuh dia!” Ancam Adnan sadis.


            Ryu menyeringai kejam, “Udah jadi kodrad gue, ngerebut apa yang lo punya, Adnan.” Ejeknya santau sembari melepaskan paksa tangan Adnan dari kerah seragamnya. “Semua akan gue rebut dari lo!”


            “Sialan, anjing!” Adnan kembali memaki penuh emosi. Menginjak dada Ryu kuat lalu berlalu meninggalkan cowok tersebut tergelak di aspal. Adnan melaju kencang, meninggalkan Ryu berbaring sambil menyeringai tanpa merasa kesakitan atas apa yang dilakukan oleh Adnan padanya.


            Adnan pergi ke sebuah warung langgannya, moodnya sedang hancur sehingga apapun yang menghalanginya, langsung kena semprot sumpah serapah. Baru saja hari ini dia hampir berhasil pulang bersama Zevanya, cewek yang sudah lama ditaksirnya, namum si brengsek Ryu mengacaukan segalanya.


            Sudah lama Adnan ingin mendekati cewek tersebut, namun keberadaan Ryu yang diyakini akan tetap menjadi pengacau dalam hidupnya mengurungkan niatnya. Dia hanya bisa bersikap biasa saja agar tidak menimbulkan kecurigaan maupun penolakan barangkali Zevanya tidak menyukainya.


            Sikap Zevanya akhir-akhir ini menyakinkan Adnan bahwa perasaannya terbalaskan. Zevanya sering mencuri-curi waktu agar bisa bertemu dengannya di beberapa kesempatan. Juga, selalu menyemangati ketika cowok itu terlihat masalah, terutama dengan Ryu.


            Bisa saja Adnan melawan Ryu ketika di parkiran sekolah tadi. Namun, dia belum genap dua puluh empat jam keluar dari ruang konseling. Tidak terhitung sudah berapa banyak surat peringatan yang diterimanya, dan semuanya bisa di atasi oleh ibunya. Sehingga sampai sekarang cowok itu tidak dikeluarkan dari sekolah.


            “Lo kenapa sih, bro?” Ilham, salah satu sahabat Adnan mengerutkan dahi melihat Adnan yang marah-marah baru sampai.


            “Anak haram itu udah melewati batasannya!” Geram Adnan sembari mengepalkan tangan.


            “Maksud lo?” Ilham kian tidak mengerti. “Ryu nantang lo apa lagi?”


            “Dia mau ngerebut Zevanya dari gue.” Ilham melebarkan mata.


            “Dia udah tahu lo suka sama Zevanya?” Adnan menghela nafas kasar. Setelah ini, pertikaian akan semakin


sengit di antara dia dan Ryu. “Secepatnya lo harus nembak Zevanya sebelum Ryu duluan.”


            “Pasti! Gue akan lindungi Zevanya dari dia!” Guman Adnan tegas.


            “Secepatnya, bro. Jangan ngasih celah buat Ryu mendekat atau melewati lo.” Ilham menepuk-nepuk bahunya menyemangati.


 


***


Medan, 14.08.19