
Fakta adalah segala hal yang bisa di tangkap oleh indera manusia berupa data dari keadaan nyata yang sudah terbukti kebenaran. Fakta itu harus di terima oleh siapapun, meskipun itu menyakitkan atau malah sebaliknya.
Seperti Bintang, ia harus menerima semua fakta atau kenyataan ini meskipun hatinya tidak terima tetapi ia bisa apa karena semua itu telah terjadi.
Setelah acara dansa selesai, Bintang mengajak Bulan untuk keluar hotel sebentar. Ia sudah berjanji sebelumnya pada Bulan untuk memberitahu siapa Clara sebenarnya. Maka dari itu Bintang mengajak Bulan ke parkiran mobil untuk membicarakan hal ini di dalam mobilnya.
"Kenapa ke sini, pesta Alex belum selesai?" tanya Bulan saat sudah masuk ke dalam mobil Bintang.
"Lo mau Clara siapa?" ujar Bintang dan langsung di anggukin semangat oleh Bulan.
Bulan menjadi tahu tujuan Bintang mengajaknya kesini, agar mereka dapat berbicara dengan bebas tanpa siapapun mendengarnya.
"Tunggu, gue udah tau siapa Clara yang gue mau tahu sekarang sebenarnya lo sama dia ada masalah apa? Karena selama gue lihat, kalian seperti punya masalah besar." ujar Bulan membuat Bintang bingung dengan kata sudah tahu siapa Clara.
"Apa yang udah lo tahu tentang Clara?" tanya Bintang.
"Clara juga sama kaya gue kan."
Bintang menaikkan alisnya, bingung maksudnya apa.
"Iya, dia juga ngejar-ngejar lo kan dari dulu. Apa mungkin alasan dia pindah ke sini karena mau ketemu lo lagi?"
Bintang mengangkat bahunya tidak tahu alasan itu. Bulan menatap Bintang dengan dalam, terlihat jelas ada rasa benci bercampur sedih di matanya.
"Bintang, lo gak papa?"
"Lo cuma tahu itu tentang Clara?" Bintang tidak menjawab pertanyaan Bulan dan malah menanyakan hal lain pada Bulan.
Bulan mengangguk.
"Clara itu saudara tiri gue!" ujar Bintang pelan tetapi bisa di dengar jelas oleh Bulan karena suasana yang sunyi.
Bulan yang mendengar itu sangat terkejut, sangat amat malah. Lalu Bulan berpikir apakah yang lain juga tahu tentang ini, atau tidak ya.
"Kenapa bisa? maksudnya saudara tiri gimana, gue gak paham." ujar Bulan sambil menyengir.
Bintang menghela napasnya, terlalu malas sebenarnya menceritakan ini pada orang lain, tetapi saat ini kan ia sedang berusaha berjuang agar gadis itu percaya lagi dengannya.
"Jadi, bokap gue itu nikah sama nyokapnya Clara." jelas Bintang ada nada emosi yang terdengar dari sana.
Bulan yang mendengar itu lagi-lagi kaget, "itu yang bikin kalian gak akur? Maksud gue, bukankah seharusnya kalau saudara itu rukun?"
Bintang menggeleng, "Lan, nyokap dia ambil bokap gue saat gue udah SMP jadi gue udah paham gimana rasa sakit saat di tinggal bokap gue waktu itu." ada nada sedih sekarang yang terdengar.
"Gue sudah mau dewasa waktu itu, seharusnya seorang ayah bisa mencontohkan yang benar atau bahkan menuntut gue biar gue bisa jadi seorang dewasa yang bijak." keluh Bintang.
Bulan mengambil sebelah tangan Bintang lalu di genggamnya erat, "Sorry, karena gue yang kepo tentang Clara jadinya luka lo ke buka kembali." ujar Bulan merasa bersalah.
Bintang menggeleng, "Gue rasa lo harus tahu ini, sebelum lo tahu lagi dari orang lain dan semakin membuat lo ngerasa gak di anggap."
Bulan tersenyum simpul.
"Lan, lo ingat waktu gue usir lo di rumah karena lo ngelihat sesuatu?"
Bulan mengangguk semangat, "Inget banget Bintang, gue rasa itu gak akan pernah gue lupain deh."
"Yang gak di lupain itu, waktu gue usir atau waktu lo pulang pagi sama Andre?" terdengar nada tak suka saat menyebut nama Andre.
Bulan tersenyum lagi, "Kayanya dua-duanya deh. Soalnya Andre datang di waktu yang tepat." ujar Bulan ingin melihat reaksi Bintang.
"Lo suka sama Andre?"
"Siapa yang bisa nolak pesona Andre?" sahut Bulan membuat Bintang berbalik yang menggenggam tangan Bulan dengan erat seakan tidak ingin pisah.
"Gue serius Bulan."
Bulan terkekeh, "Balik ke topik awal, kita ke sini mau ngomongin soal Clara bukan soal Andre."
Bintang akhirnya mengangguk dan mengendurkan genggaman tangannya agar Bulan tidak merasakan sakit seperti waktu itu.
"Lo tahu siapa yang lo lihat waktu itu?" Bulan menggeleng.
Yah gak tahu lah, orang gak di kasih tau apa-apa sama siapapun gimana mau tahu yang ada langsung di usir gerutu Bulan dalam hati.
"Itu nyokap gue." cicit Bintang sangat pelan dan nada bicaranya sangat amat sedih sekali Bulan saja yang hanya mendengar bisa merasakan itu.
Bintang mengangguk, "Iya, nyokap gue depresi." terang Bintang menjelaskan keadaan ibu nya yang memang sekarang sedang depresi walau tidak separah dulu.
"Karena di tinggal bokap lo?"
"Salah satu penyebabnya itu, tapi ada penyebab lain yang bikin mamah sangat depresi Lan."
"Apa?"
Bulan memang seperti ini, terlalu kepo. Padahal itu tidak baik untuk kesehatannya apalagi kepo dengan percintaan bisa menyakiti hatinya sendiri kalau tahu fakta yang seharusnya tidak ia ketahui. Bener gak?
"Adik perempuan gue meninggal karena kecelakaan mobil bareng Viona waktu itu!" saat mengatakan itu hati Bintang seperti sedang di remas dan raganya seperti di bawa lagi ke kejadian waktu itu. Ia bisa merasakan lagi bagaimana rasanya waktu itu.
Bulan yang mendengar itu langsung ikut merasakan apa yang tengah Bintang rasakan. Ternyata di balik sikapnya yang cuek dan dingin, Bintang menyimpan banyak rahasia bahkan bukan hanya rahasia tetapi juga menyimpan banyak luka di hidupnya.
Bayangkan saja, dia harus menerima kepergian ayahnya bersama dengan wanita lain dan harus menerima juga kenyataan adik perempuan satu-satunya meninggal dan mungkin yang paling menyakitkan untuk Bintang adalah saat ibu nya depresi. Biar bagaimana pun anak seusia Bintang masih butuh bimbingan dari kedua orang tua agar tidak keluar batas anak remaja.
Tetapi balik lagi, Bintang harus menelan pil pahit itu dengan lapang dada. Bulan tidak bisa ngebayangin itu semua di lalui oleh Bintang selama bertahun-tahun.
"Bintang," panggil Bulan lembut.
"Hidup gue gak sesempurna yang lo lihat Lan, hidup gue penuh dengan rasa pahit selama ini."
"Apa ini penyebabnya lo jadi pendiem Tang?"
Bintang mengangguk, "Dari dulu gue juga pendiem, tetapi gak separah sekarang."
"Gue ngerasa gak bisa percaya sama orang lain selain temen-temen gue."
"Temen lo, termasuk Manda?"
Bintang mengangguk, "Manda itu orang yang selalu ada untuk gue dari dulu Lan, Manda yang selalu nenangin mamah kalau mamah lagi kumat. Karena Manda dekat sama mamah sejak dulu, mungkin mamah merasa aman kalau sama Manda." jelas Bintang panjang lebar.
Bulan yang mendengar itu langsung merasa sedikit sakit, ternyata hubungan Bintang dengan Manda sudah sejauh itu. Ah ya jelas, mereka kan sahabatan sejak kecil batin Bulan.
"Gue boleh coba ketemu nyokap lo?" tanya Bulan ingin mencoba apakah ia bisa di terima juga oleh ibunya Bintang.
Bintang menggeleng, "Gak bisa Lan, gue gak mau lo kenapa-napa."
"Gak akan terjadi apa-apa sama gue. Boleh ya?"
Bintang lagi-lagi menggeleng, "Gak bisa Bulan, mamah gak bisa melihat perempuan lain selain Manda dan ibunya. Mamah merasa perempuan asing adalah ancaman baginya dan pasti dia langsung kumat." jelas Bintang tidak ingin terjadi sesuatu pada Bulan nantinya.
Bulan menggeleng, "please Tang, izinin gue." ujar Bulan dengan nada sangat amat memohon pada Bintang.
Bintang nampak sedang berpikir, apakah keputusan yang tepat kalau ia mengajak Bulan untuk bertemu dengan ibunya.
Akhirnya Bintang mengangguk, "Iya boleh." ujarnya dengan penuh ke khawatiran.
Bulan tersenyum lalu tangannya yang sudah terlepas dari genggaman terulur untuk merapikan rambut Bintang yang padahal sudah rapi.
"Bulan, kalau gue minta lo buat jauhin Andre bisa?"
Bulan terdiam lalu menggeleng.
"Kita belum punya hubungan apapun Tang, dan Andre itu temen gue. Gue gak bisa jauhin dia dengan alasan gue lagi deket sama lo."
"Gue tahu kok masalah lo berdua, makanya lo ngelarang gue kan buat deket-deket sama dia."
"Bintang, gue gak sesempurna Viona, gue tuh gak pantes di perebutin sama dua laki-laki yang menurut gue baik. Gue deket sama Andre pun cuma anggap dia teman, dan lo gak perlu khawatir tentang perasaan gue buat lo. Selama lo gak bikin gue kecewa berat, perasaan itu akan tetap ada." jelas Bulan akhirnya membuat Bintang mengangguk.
Bintang tidak mau terlalu memaksa Bulan agar menjauhi Andre takut terkesan jahat nantinya. Bintang pun merasa gela saat Bulan mengatakan perasaannya masih tetap sama untuknya, dan itu membuat Bintang semakin semangat untuk perjuangkan Bulan.
"Kita balik ke acara yuk?" ajak Bulan.
Bintang menggeleng, "Gimana kalau kita dinner berdua di luar?"
Bulan yang mendengar ajak kan itu akhirnya mengangguk lalu tersenyum cantik khas dirinya. Rasanya malam ini Bulan tidak bisa tidur karena memikirkan Bintang.
Lebay!
Bersambung....
Nah itu dia fakta yang sebenarnya, gimana nih yang nebak-nebak..