COOL BOY

COOL BOY
BAB 34



Setelah bel pulang berbunyi,Bulan merapikan mejanya dengan semangat. Bulan bergegas keluar kelas meninggalkan Manda dan Mutia yang masih membereskan meja masing-masing.


"Tuh anak semangat banget." ujar Mutia melihat Bulan yang telah keluar kelas.


"Mau ketemu calon mertua, ya semangat lah." sahut Manda sedikit keras agar Clara mendengarnya.


"Oh iya, mau ketemu nyokapnya Bintang ya." ujar Mutia ikutan keras karena tahu mengapa Manda melakukan itu.


"Iya lah, dari pada ngejar terus gak dapet eh malah nyuruh nyokapnya ngambil papahnya tuh cowok. Murahan banget gak sih?" sindir Manda.


Clara pun mendengar itu semua dengan jelas, dan tahu itu semua tertuju untuknya. Clara berusaha menahan sabarnya agar tidak meledak mendengar sindiran dari Manda.


"Murahan atuh," sahut Mutia lalu tertawa bersama dengan Manda.


Ternyata kesabaran Clara tidak bisa di tahan, Clara pun menghampiri meja Manda lalu menggebraknya keras.


"Maksud lo apa ngomong begitu?" bentak Clara tak suka.


Manda hanya tertawa dan di ikuti pula oleh Mutia, "Ada yang kesindir ternyata Mut." ujar Manda sangat sambil tangannya masih terus merapikan mejanya.


"Gue gak ngusik lo, kenapa lo usik gue!" ujar Clara.


"Dengan lo dateng lagi ke hadapan gue, sama aja lo ngusik gue!" desis Manda tajam Mutia yang mendengar saja langsung menciut.


"Gue ke sini buat sekolah, bukan buat ngelihat lo!" bela Clara untuk dirinya sendiri.


Manda tertawa, "Sekolahan banyak, kenapa lo malah milih di sini kalau lo gak ada maksud dan tujuan tertentu Clara! Gue bukan cewek bego kaya lo!"


Clara emosi mendengar ucapan Manda yang menurutnya sangat keterlaluan, tanpa aba-aba Clara menarik rambut Manda dengan keras membuat Manda mengaduh kesakitan. Mutia pun berusaha melepaskan tangan Clara dari kepala Manda.


"Lo emang bukan cewek bego, tapi lo itu cewek munafik!" bentak Clara.


"Gue tahu sebenernya sejak dulu lo juga sukakan sama Bintang? Sampe-sampe lo nyuruh orang tua lo buat jodohin lo sama Bintang! Tapi sayang Bintang nolak perjodohan itu! Sekarang yang murahan siapa kalau faktanya begitu?" ujar Clara lagi membuat Mutia melongo tak percaya sedangkan Manda masih terus mengaduh tanpa mengelak, memang benar itu semua lalu dari mana Clara tahu tentang itu?


Tak lama datang Bintang dan langsung menepis tangan Clara dari kepala Manda dengan sekali tepisan saja. Bintang langsung menarik Manda kedalam pelukannya sambil mengelus kepala Manda.


"Pergi!" usir Bintang pada Clara.


Sebelum pergi dari sana, Clara melirik Bulan yang berada di samping Bintang. Terlihat dari mata Bulan, ada kecemburuan di sana mungkin karena melihat Manda yang tengah di peluk Bintang saat ini.


"Lo lihat Lan, sahabat lo sendiri begitu sama orang yang lo suka. Di depan mata lo lagi, gue saranin lo hati-hati sama dia." ujar Clara lalu pergi dari sana.


Bulan yang mendengar itu hanya diam sambil matanya terus menatap Manda dan Bintang. Terlihat sekali kedekatan mereka berdua, bohong kalau di bilang Bulan tidak sakit melihatnya.


Lalu dari mana Bintang tahu kalau Manda tengah bertengkar dengan Clara di dalam kelas. Ada siswa kelas Bulan yang memberitahu Bulan sebenarnya tentang kejadian ini, tetapi saat itu Bulan sedang bersama dengan Bintang makanya mereka datang berdua ke kelas Bulan.


"Sakit?" tanya Bintang lembut dan di anggukin oleh Manda.


Meskipun ketua karate, Manda pun perempuan pasti akan merasakan sakit. Bintang masih terus menenangkan Manda dengan mengelus kepalanya.


"Gue anter pulang?" ujar Bintang.


Bulan yang mendengar itu langsung berbicara, "Bukannya kita ada janji?" ujar Bulan seakan mengingatkan Bintang.


Bintang langsung menoleh ke arah Bulan tanpa melepas pelukannya dengan Manda, "Kita anter Manda dulu, boleh?" ujar Bintang.


Bulan hanya bisa mengangguk, ingin protes pun tidak bisa melihat kondisi Manda yang terlihat sangat shock seperti ini.


"Manda itu ada trauma kalau rambutnya di tarik, makanya dia bisa sampai kaya gini." ujar Hendra yang datang tiba-tiba dari belakang.


Bulan yang mendengar fakta itu hanya mengangguk, berusaha untuk ikhlas atau berusaha untuk nyaman melihat memandang di depannya. Biar bagaimanapun Manda lah yang lebih dulu mengenal Bintang.


"Yaudah ayo, ke parkiran." ajak Bintang pada Bulan.


Bulan mengangguk lalu mengikuti langkah Bintang dari belakang, sedangkan Bintang sedang merangkul pundak Manda yang masih sedikit terisak.


Di kelas hanya menyisakan Mutia dan Hendra.


Tanpa aba-aba Mutia melempar tasnya pada Hendra untuk saja dengan sigap Hendra mengambil tas tersebut.


"Kamu mah tadi ngomongnya menjelekkan aku tahu!" ujar Mutia yang masih kelas dengan ucapan Hendra tadi.


Tangan Hendra terulur untuk mengelus kepala Mutia, "Iya maaf ya, itu kan biar akting kita totalitas sayang."


"Tapi kan gak gitu juga ih!"


"Udah ah gak usah ngambek lagi, gimana kalau hari ini kita makan es krim?" ajak Hendra dan di anggukin senang oleh Mutia.


"Jangan lama tapi." ujar Mutia dan di anggukin oleh Hendra.


Keduanya berpisah setelah keluar dari kelas, tidak mau terlihat jalan bersama karena itulah kemauan Mutia. Sebenarnya Mutia pun maunya semua warga sekolah tahu kalau Hendra sudah jadi miliknya, agar tak ada lagi yang menggoda Hendra apa lagi adik kelas.


Sepanjang perjalanan Hendra dan Mutia pun mendengar desas desus yang barusan terjadi. Yang Manda di rangkul dengan Bintang, sedangkan Bulan berjalan di belakang keduanya.


Banyak yang mencibir Manda karena teman makan teman, banyak juga yang bingung sejak kapan Manda dekat dengan Bintang. Dan semua berasumsi, kalau itu alasan Bintang menolak Bulan terus karena sedang dekat dengan Manda.


*****


Di sepanjang perjalanan, Bintang masih terus menenangkan Manda yang tengah duduk di sampingnya sedangkan Bulan duduk di kursi belakang.


"Se trauma itukah?" batin Bulan semakin lama memberontak tak suka.


Lalu terdengar suara deringan ponsel, ternyata itu ponsel milik Bulan. Dengan cepat Bulan mengambil ponselnya yang berada di tas.


"Iya, Andre?"


"...."


"Sorry, gue ada acara. Nanti gue kabarin lagi ya?"


"...."


"Bye, Andre."


Bip


Bintang mendengar itu semua lalu melirik Bulan lewat kaca spion, ada rasa tak suka mendengar percakapan Bulan dengan Andre tadi.


"Mau pergi sama Andre?" tanya Bintang tiba-tiba membuat Bulan yang sedang memasukkan kembali ponselnya terhenti.


"Iya, nanti." sahut Bulan jujur.


Bintang tak suka, "Jangan pergi sama Andre." larang Bintang.


"Kita udah bahas tentang ini Bintang, gak perlu di bahas lagi sekarang." seru Bulan tak suka di larang begitu.


"Gue ikut kalau gitu." seru Bintang.


Bulan menghela napasnya, nanti saja lah membahas ini setelah membawa Manda pulang.


Manda sudah tenang dan sekarang mulai sadar dengan situasi yang ada saat ini. Manda menoleh ke belakang terdapat Bulan yang tengah memandang jalan dari kaca.


"Bulan." panggil Manda pelan merasa tak enak hati.


Bulan yang mendengar namanya di panggil dan suaranya perempuan langsung menoleh ke sumber suara dan terlihat Manda sedang memandangnya.


"Lo udah baikkan Man?" tanya Bulan memastikan kondisi Manda.


Manda mengangguk, "Maaf."


Bulan mengangguk, "Gak papa, lo gak salah kok. Lagian gue kan bukan pacar Bintang, gak punya hak juga untuk marah. Apalagi lo yang lebih dulu dekat sama Bintang sejak dulu."


Bintang yang mendengar itu merasa tersindit dengan ucapan Bulan. Tak ada hak marah karena tidak memiliki status lebih selain teman itulah.


"Pindah tempat duduk yuk Lan." ujar Manda.


Bulan menggeleng, "Gak usah Man, sebentar lagi sampai kan? Nanggung juga."


"Tapi,"


"Gak papa Manda." ujar Bulan untuk menepis rasa tak enak hati Manda itu. Padahal dalam hati Bulan pun merasa tak nyaman.


Tak lama ketiganya sampai di rumah Manda. Manda turun lebih dulu, lalu di susul oleh Bintang dan Bulan. Manda mengajak Bulan dan Bintang untuk masuk lebih dulu ke dalam, tetapi di tolak oleh Bintang karena ingin segera membawa Bulan ke rumahnya.


"Oh gitu, yaudah deh. Next kalian main ke sini ya." ujar Manda dan di anggukin oleh keduanya.


"Oh iya, Lan jangan lupa beli apa yang gue bilang tadi, Bintang tahu kok toko langganan gue." seru Manda mengingatkan.


Tanpa bertanya lagi, Bintang hanya mengangguk pada Bulan karena Bintang paham barang apa yang akan mereka beli nantinya. Setelah itu keduanya masuk ke dalam mobil Bintang.


"Sudah siap Bulan?" tanya Bintang memastikan dan di anggukin oleh Bulan.


Bersambung....