COOL BOY

COOL BOY
BAB 47



Malam perpisahan, membuat siswa dan siswi merasa sedih. Setelah tiga tahun bersama, belajar bersama, tertawa bersama akhirnya mereka kembali di pisahkan. Di pisahkan oleh kehidupan yang nantinya akan jauh lebih baik lagi.


Semuanya terus berjalan, perjalanan hidup sangat lah penting. Kita bisa mengambil hikmah apa yang telah kita dapat di kehidupan sebelumnya. Menjadi lebih baik lagi dari pada sebelumnya.


****


Kecemburuan terlihat dari wajah Bintang saat ini, saat mengetahui Bulan akan bernyanyi di depan bersama dengan Dico. Bukan karena Dico punya masalah dengannya, tetapi ia tak suka melihat Bulan dekat dengan cowok lain.


Benar kan apa yang Andre bilang waktu itu? Bintang tidak akan memberikan apa yang sudah di klaim menjadi miliknya di ganggu oleh orang lain.


"Ada yang cemburu, guys!" cibir Hendra saat melihat wajah Bintang yang memerah dan matanya terus menatap gerak gerik Bulan di atas sana.


"Sabar kenapa Tang, bentar lagi lo yang ada di sana! Lo udah siap belum?" tanya Arkana.


Bintang hanya mengangguk tanpa matanya beralih sedikit pun dari ujung sana. Memang, rencana mereka adalah menembak Bulan di malam ini. Bintang akan maju dan naik ke atas panggung untuk mengungkapkan itu semua. Menurut kalian berhasil gak?


"Lo harus bisa ngeyakinin Bulan agar dia punya alasan buat tetap di Indonesia!" seru Manda membuat yang lain menoleh ke arah Manda termasuk Bintang hanya sebentar lalu kembali fokus pada Bulan.


"Maksud lo?" tanya Angga.


"Iya, dia bilang orang tuanya nyuruh dia kuliah di Amerika, tapi dia belum nentuin pilihannya." sahut Mutia memberitahu yang lain.


"Makanya, lo harus bisa yakinin Bulan, biar kita bisa sama-sama terus kaya gini." ujar Manda dan di anggukin oleh yang lain.


Tak lama mulai terdengar petikkan gitar dari atas sana, bertanda kalau Bulan akan mulai bernyanyi yang di iringi oleh Dico di sampingnya.


****


T'lah kucoba t'rus bertahan Tentang cinta yang kurasa Ku mencinta, kau tak cinta Tak sanggup ku terus bertahan


Sadar ku tak berhak untuk terus memaksamu Memaksamu mencintaiku sepenuh hati Aku 'kan berusaha untuk melupakanmu Tapi terimalah permintaan terakhirku


Genggam tanganku, sayang Dekat denganku, peluk diriku Berdiri tegak di depan aku Cium keningku 'tuk yang terakhir


Ku 'kan menghilang jauh darimu Tak terlihat sehelai rambut pun Tapi di mana nanti kau terluka Cari aku, ku ada untukmu, ho-oh


Suara Bulan terdengar merdu di telinga siapa saja yang mendengar saat ini, bahkan sampai ikut menghayati setiap bait yang di nyanyikan Bulan.


"Deep banget anjir Bulan nyanyinya!" seru Hendra yang ikut merasakan.


"Dia mau pergi Tang, lo cegat buruan sebelum dia pergi beneran!" sahut Angga.


Bintang bangkit dari duduknya dan langsung di tarik kembali oleh Angga, "Santai bro, ada waktunya lo naik nanti biarin Bulan ngeluapin apa yang ada di perasaan dia dulu, biar dia tenang!" ujar Angga dan di setujui oleh semuanya.


Sampai di akhir lagu, mata Bintang tetap menatap Bulan tanpa beralih sedikit pun. Hingga suara sorakan terdengar dari anak-anak yang lain meminta Bulan untuk bernyanyi lagi.


"Aduh guys, gue cuma latihan lagu itu." seru Bulan seakan meminta maaf kalau ia tidak bisa menyanyi lagi.


Setelah mengucapkan terimakasih pada semuanya yang berada di sini, Bulan juga mengucapkan sesuatu untuk seseorang yang selama ini mengajarkan banyak hal.


"Buat Bintang, thanks karena lo, gue tahu betapa indahnya masa SMA ini, karena lo juga gue tahu gimana harus bersabar dan berusaha agar mendapatkan apa yang kita inginkan, meskipun sampai saat ini lo belum juga jadi milik gue haha." ujar Bulan dengan kekehan di akhir katanya.


"Maaf kalau selama sekolah, hidup lo jadi gak tenang karena gue yang selalu mengacau di hari-hari lo. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita, sebelum nantinya kita sibuk sama urusan masing-masing."


"Seperti lirik yang tadi gue nyanyiin, gue gak bisa terus maksa lo buat jadi milik gue, tapi kalau emang lo butuh gue nantinya entah sebagai apa, gue akan siap selalu buat lo."


"Bintang, bahagia selalu ya sama pilihan lo, dan sekali lagi terima kasih banyak." ujar Bulan lalu bangkit dari duduknya dan ingin segera turun dari sana.


Ternyata tanpa sadar Bintang sudah menunggu Bulan di bawah tangga. Bintang mengulurkan tangannya membantu Bulan untuk turun dari tangga.


Keduanya saling berhadapan, Bintang menatap Bulan dengan dalam, begitu pula sebaliknya. Tersirat jelas keduanya memiliki rasa yang sama.


"Naik lagi ke atas mau?" tanya Bintang ingin mengajak Bulan kembali ke atas panggung.


Bulan menaikkan alisnya bingung, "Mau ngapain?" tanya Bulan.


Tanpa menunggu lama, Bintang membawa Bulan kembali naik ke atas, dan Bulan hanya menuruti apa yang akan Bintang lakukan nanti di atas.


Bintang mengambil alih microfon yang tadi di gunakan Bulan, dan kembali berdiri berhadapan dengan Bulan.


"Bulan, jangan pergi." kalimat pertama yang keluar dari mulut Bintang.


Bulan tidak berani menatap mata Bintang, terlalu takut kembali terbuai pikirnya. Biar bagaimana pun, sekarang posisinya Bulan sedang menata hatinya kembali.


"Bulan, kamu mau gak jadi milik aku mulai sekarang?" seru Bintang dengan nada bergetar karena baru pertama kalinya ia mengucapkan kalimat yang panjang di depan banyak orang.


Terlebih lagi saat ini ia tengah mengungkapkan perasaannya untuk Bulan di depan satu angkatan sekolahnya dan masih ada beberapa guru di sana.


Bulan terbelalak kaget, tidak menyangka kalau Bintang bisa mengatakan itu di depan publik alias di depan banyak orang. Belum sempat bersuara, suara teriakan dari yang lain membuat Bulan menunduk.


"Terima!" sorak semuanya bersamaan.


"Terima!" sorak mereka lagi.


Bulan mengambil napasnya dalam, setelah itu kembali mengangkat wajahnya untuk melihat wajah tampan di depannya. Bulan tersenyum khas dirinya, begitu pula dengan Bintang.


"Bintang, tapi sorry gue gak bisa." seru Bulan membuat suasana yang tadinya heboh menjadi hening.


Bintang yang kaget dengan respon Bulan langsung bertanya, "Kenapa?" hanya itu yang bisa Bintang tanyakan.


"Tunggu dulu, gue belum selesai ngomong jangan di selak!" gerutu Bulan.


Bintang hanya mengangguk patuh, jantungnya berdebar hebat, badannya panas dingin, semua sudah di luar bayangannya, lalu apa yang akan ia lakukan kalau Bulan benaran menolaknya.


"Maksudnya, gue gak bisa nolak lo lagi Bintang." seru Bulan sambil tersenyum.


"Gue mau kok jadi milik lo mulai sekarang, Bintang!" ujar Bulan lagi membuat senyum Bintang mengembang begitu saja.


"Serius?" tanya Bintang dan di anggukin oleh Bulan.


Tanpa di duga Bintang langsung memeluk Bulan dan di terima baik oleh Bulan. "Jangan pernah pergi, Bulan." seru Bintang di sela-sela pelukan mereka.


Bulan melepaskan pelukan itu, lalu mengangguk, "Gak akan Bintang." jawab Bulan dan kembali membuat Bintang membawa masuk Bulan ke dalam pelukkan nya.


Hingga teriakan seseorang membuat mereka melepaskan pelukannya, "Woi udah kali, kasihan sama yang jomblo!" teriak Angga lalu di sorakin oleh yang lainnya.


Sebelum turun, Bintang sempat berkata, "Thanks buat kalian semua!" serunya pada siapapun yang ada disana.


Menurutnya, semua teman-teman angkatannya sangat berjasa untuk moment tadi. Hingga akhirnya Bulan menjadi miliknya sekarang.


Bulan dan Bintang kembali ke meja mereka bersama sahabat-sahabatnya. Senyuman indah milih Bulan dan senyuman tampan milik Bintang tidak luntur sampai acara selesai nanti mungkin.


Acara kembali berjalan dengan semestinya, hingga akhirnya sudah sampai di penghujung acara untuk malam yang indah ini.


"Akhirnya kita sampai juga di penghujung acara untuk malam perpisahan ini, sedih gak? Sedih pasti ya, kita akan berpisah. Kita akan memulai kehidupan baru lagi dengan lingkungan baru. Gue harap, kalian gak pernah lupa dengan masa SMA di Prada Jaya." seru Hany.


"Untuk terakhir kalinya, sebelum acara ini selesai, gue mau minta kalian buat nyalain flash di hp masing-masing dan di angkat ke udara, kaya gini." seru Hany sambil memperagakan apa yang di minta pada teman-temannya.


Satu angkatan tersebut ikut melayangkan ponselnya sambil menyalakan lampu flash dan menggerakan ponselnya ke kanan dan ke kiri.


"Kita nyanyi bareng-bareng ya guys, tolong matiin lampunya ya." seru Hany dan lampu mulai padam bersamaan dengan musik yang mulai mengalun.


****


Datang akan pergi


Lewat 'kan berlalu


Ada 'kan tiada bertemu akan berpisah


Awal 'kan berakhir


Terbit 'kan tenggelam


Pasang akan surut bertemu akan berpisah


Hey, sampai jumpa di lain hari


Untuk kita bertemu lagi


Kurelakan dirimu pergi


Meskipun ku tak siap untuk merindu


Ku tak siap tanpa dirimu


Kuharap terbaik untukmu


Du-du-du-du


Du-du-du-du


Du-du-du-du


Du-du-du-du


****


Semua bernyanyi sambil mengayunkan ponselnya. Ada yang menitipkan air mata, karena mengingat moment apa saja yang telah tercipta selama bersekolah di SMA Prada Jaya.


Suasana bertambah haru, karena di atas panggung di layar proyektor terdapat video-video amatir yang selama ini di ambil oleh panitia pelaksana.


Tertawa sambil menangis adalah hal yang sangat menyayat hati bukan? Seperti itu lah keadaan di dalam ballroom hotel ini.


"Gue kenapa culun amat sih dulu." gerutu Hendra saat melihat wajah dulu waktu masih kelas 10.


"Sampai sekarang juga masih culun." sahut Mutia sambil terkekeh, padahal di pipinya sudah banjir air mata.


"Thanks guys, karena sudah bertahan di pertemanan yang amburadul ini." seru Arkana.


"Gue harap, kita terus sama-sama kaya gini." seru Angga dan di anggukin oleh yang lain.


Bintang terus menggenggam tangan Bulan dengan erat, "Makasih karena sudah mau ngasih aku kesempatan, Lan." seru Bintang.


Bulan mengangguk, tanpa mengucapkan kata apapun.


"Kamu hutang penjelasan sama aku tentang Andre, setelah ini bisa jelasin?" pinta Bintang dan di anggukin oleh Bulan.


"Makanya, apa-apa tuh dengerin dulu jangan main marah aja." cibir Bulan.


Bintang tersenyum lalu mencium pucuk kepala Bulan dengan sayang. Bintang berharap akan selalu bersama Bulan mulai saat ini.


Bersambung.... 


Sesuai ekspetasi gak guys lagunya? 


Menurut kalian part ini gimana? Menguras emosi atau air mata?