
Setelah hari dimana akhirnya Soraya mulai sadar dan mulai mengikhlaskan apa yang pernah terjadi, setelah itu pula kisah cinta antara Bulan dan Bintang semakin bersinar.
Keduanya kerap menghabiskan waktu bersama, sebelum nantinya akan sibuk. Yap, akhirnya Bulan memilih untuk tetap kuliah di Indonesia. Memilih kampus dan jurusan yang sama dengan Bintang.
Sebucin itu kah? Oh tidak, memang sejak dulu Bulan ingin menjadi seorang guru, entah guru apa saja. Karena ibunya dulu juga seorang guru, oleh karena itu ia ingin mengikuti jejak sang ibu menjadi guru muda yang cantik.
Tetapi ternyata, Bintang pun punya cita-cita yang sama, ingin menjadi guru. Bintang bilang sih ingin menjadi guru olahraga tetapi lihat saja nanti ke depannya, semoga saja terwujud.
Hari ini, Soraya mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumahnya, dan yang datang hanya orang tua Manda, sahabat-sabahat Bintang dan satu lagi yaitu orang tua Viona.
Ini kali pertama Soraya bertemu dengan keluarga Viona setelah pemakaman waktu itu. Keluarga Viona pun sayang dengan Bintang seperti Soraya menyayangi Viona. Tetapi takdir berkata lain, ah sudah lah sekarang kan kisahnya Bulan dan Bintang bukan Bintang dan Viona!
Ada pak ustadz yang memimpin doa dia acara syukuran ini, setelah berdoa atas rasa syukur karena di beri kesempatan kedua untuk sadar oleh Tuhan, Soraya juga meminta agar semuanya ikut mendoakan Vania dan Viona agar tenang selalu di sana.
Setelah acara doa telah selesai, semua di persilahkan makan sepuasnya. Di atas meja sudah tersedia sangat bangat makanan yang sengaja di pesan oleh Soraya.
"Ra, gue bersyukur banget lo bisa kembali sehat seperti dulu kaya gini." seru Mariana ibunda Manda.
Soraya mengangguk, "Alhamdulillah Mar, ini semua berkat Bulan. Kata Bintang dia yang punya ide ajak gue ke makam Vania."
"Bulan memang gadis yang baik Ra, gue lumayan kenal sama dia. Selalu bawa hal yang positif untuk Manda selama mereka berteman." puji Mariana untuk Bulan.
"Makanya gue bahagia banget waktu Bintang ngenalin ke gue kalau Bulan adalah kekasihnya saat ini."
"Tapi Ra, Bulan itu suka kesepian karena orang tuanya jauh dari dia. Makanya kadang dia nginep di rumah gue kalau enggak Manda yang nginep di rumah dia."
"Pantes waktu gue undang orang tuanya wajah dia kaya sedih gitu, tapi gue salut sih, meskipun dia jauh dari orang tuanya tapi pergaulan dia terbatas dan prestasi dia itu loh konsisten." Mariana mengangguk-angguk.
Tak lama datang Rieke, ibunda dari mendiang Viona ikut bergabung dengan Mariana dan Soraya.
"Kayanya seru banget nih ibu-ibu, gosipin apa sih?" seru Rieke sambil terkekeh.
Soraya langsung menyuruh duduk Rieke di sofa, "Ini biasa ngomongin anak-anak." sahut Soraya.
Wajah Rieke langsung berubah menjadi sedih, dan menoleh ke arah sahabat-sabahat Bintang yang sedang bersenda gurau.
"Kalau saja Viona masih ada, pasti dia ada di tengah-tengah mereka ya bu." seru Rieke lirih.
Soraya langsung mengelus punggung Rieke pelan, "Iya Bu, tapi ini semua sudah takdir, saya merasa bersalah pernah seperti kemarin jelas-jelas itu membuat Vania serta Viona menjadi tidak tenang dan sedih saat melihat saya seperti kehilangan arah."
Rieke mengangguk lalu tersenyum, "Iya bu saya sudah ikhlas, cuma terkadang masih teringat aja."
Mariana pun mengangguk, "Hal yang wajar kok bu, apalagi itu anak semata wayang pasti susah buat ngelupainnya. Tapi lebih baik lagi, kita benar-benar ikhlas biar mereka bahagia di atas sana."
Rieke dan Soraya tersenyum dan keduanya berpelukan seakan menguatkan satu sama lain. Setelah melepaskan pelukan itu, Rieke bertanya pada Soraya.
"Bu, itu yang di sebelah Bintang, pacar barunya?" tanya Rieke dan langsung di anggukin oleh Soraya serta Mariana.
"Cantik ya? Sama seperti Viona." celetuk Soraya sambil terus tersenyum ke arah Bulan.
Rieke mengangguk, "Syukur deh kalau Bintang sudah bisa membuat hati lagi untuk orang lain." seru Rieke.
Dalam hati Rieke sangat sedih sebenarnya, karena Bintang sudah bisa bahagia lagi tanpa kehadiran Viona. Tetapi balik lagi kan? Semua sudah takdir, membiarkan Bintang bahagia sama saja membuat Viona bahagia di atas sana bukan?
"Dia gadis yang membuat saya, sadar setelah apa yang pernah terjadi kemarin bu." puji Soraya lagi untuk Bulan.
Rieke mengangguk, "Kelihatan dari wajahnya gadis yang baik, semoga Bintang berjodoh dengan dia ya bu, saya do'ain itu." seru Rieke dan di aminin oleh Soraya serta Mariana.
Mariana sangat setuju jika nanti pelabuhan terakhir Bintang pada Bulan, karena Bintang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Apapun yang buat Bintang bahagia, akan selalu ia dukung dan sepertinya Bulan memang sangat cocok untuk Bintang.
Kita doakan ya guys, agar mereka memang berjodoh! Amin.
Sedangkan di perkumpulan anak-anak muda ini tengah membicarakan kampus dan jurusan yang akan mereka masukin dan tekunin. Mereka semua ingin satu kampus yang sama, tetapi apa daya mereka sadar kalau ikut dengan Bulan dan Bintang sudah pasti tidak akan masuk. Tahu lah ya apa penyebabnya!
Makanya mereka memilih kampus yang sama yang sesuai dengan kapasitas otak mereka. Manda dan Mutia ingin memilih jurusan Ekonomi, sedangkan Arkana ingin mengambil jurusan Hukum, dan Hendra serta Angga seperti Bintang ingin menjadi guru Olahraga.
Kita doakan juga semoga cita-cita mereka semua terwujud! Amin.
"Lo mau jadi guru olahraga karena pengen lihat anak murid lo pake kaos olahraga yang ketat-ketat kan?" tuduh Arkana pada Angga dan Hendra.
"Ohya jelas dong!" seru Angga semangat dan langsung di hadiahi lemparan kacang dari masing-masing orang yang ada di sana.
"Kalau gue mah gak ada niatan begitu, punya pacar satu aja galak, mana sempet gue lirik yang lain, kalau mau langsung di ajak staycation sih gas!" seru Hendra membuat Mutia murka dan menarik rambut Hendra keras.
"Mampus lo!" teriak Angga lalu terkekeh begitu pula yang lainnya.
Mutia melepaskan tarikan di rambut Hendra, "Otak lo ************ doang anjir!" seru Mutia kesal.
"Kok omongan lo jadi bahaya gitu sih Lan, di ajarin siapa hey?" tanya Manda karena kagetan dengan pertanyaan Bulan.
"Gue cuma nanya, siapa tahu kan pernah!" sahut Bulan sambil terkekeh menggoda Mutia.
"Bulan, ****** ya lo sekarang!" teriak Mutia kesal karena jadi bahan godaan.
Ponsel Bulan berdering, tanpa pamit Bulan berdiri dan menjauh dari kerumunan untuk menerima panggilan yang masuk di ponselnya.
Dengan hati yang berbunga-bunga Bulan mulai berbicara di sambungan telepon itu, senyumnya tidak pudar hingga panggilan itu selesai. Setelah itu Bulan kembali duduk bersama dengan sahabatnya yang lain.
"Siapa?" tanya Bintang saat Bulan sudah duduk kembali di sampingnya
"Ada deh." seru Bulan cuek.
Wajah Bintang berubah, "Siapa, Bulan?" tanya Bintang sekali lagi.
Bulan terkekeh melihat wajah Bintang yang sudah merah, "Guys, lihat Bintang kenapa nih mukanya merah begini." seru Bulan malah memberitahu yang lain.
Yang lain langsung menoleh ke arah Bintang, dan memang benar apa yang di katakan Bulan tadi. "Itu tandanya dia lagi nahan boker!" seru Hendra dan di ketawain oleh yang lain.
"Bukan anjir, dia lagi nahan kentut karena depan Bulan jadi jaim." sahut Angga dan di ketawain lagi.
"Salah, dia lagi cemburu guys, gak gue kasih tahu siapa yang nelpon gue tadi." seru Bulan memberitahu mengapa wajah Bintang berubah.
"Siapa Bulan!" seru Bintang dengan tegas.
Tanpa basa-basi lagi Bulan langsung mengeluarkan ponselnya dan memberikan kepada Bintang supaya dia melihat sendiri siapa yang tadi menghubunginya.
"Puas?" seru Bulan.
Bintang langsung mengembalikan ponsel Bulan, dan memeluk Bulan dengan gemas, "Pinter bikin aku cemburu ya sekarang!" seru Bintang lalu menggelitik ini perut Bulan.
Bulan meronta-ronta karena merasa geli, sedangkan yang lain hanya menggeleng-geleng kepala melihat pasangan bucin di depan mereka.
"Berawal dari telepon rahasia, lalu cemburu dan berakhir dengan bermesraan. Nasib jomblo, tiap hari ngelihatnya beginian!" cibir Angga sambil mengelus dadanya.
"Makanya, nanti di kampus cari cewek biar lo gak jadi nyamuk mulu." seru Arkana.
"Tenang, itu udah jadi liat pertama gue saat mulai kuliah nanti." ujar Angga sambil terkekeh dan merapikan rambutnya sendiri.
"Najis, sama lo kaya Hendra, otaknya cuma cewek sama ************!" cibir Mutia yang masih kesal dengan Hendra.
Semua kembali asik membicarakan kuliah dan jurusannya nanti, sedangkan Bulan dan Bintang kembali berbicara berdua.
"Besok malam, kamu datang ya ke rumah aku." seru Bulan dan di anggukin oleh Bintang.
"Tanpa di suruh, aku pasti datang." sahut Bintang.
"Tapi ini beda, aku mau ngenalin kamu sama orang tua aku. Besok mereka sampai Indonesia, dan pasti malamnya mereka ngajakin aku makan malam, makanya aku mau kamu ikut sama aku."
Bintang mengangguk, "Papah kamu galak gak, Lan?" tanya Bintang membuat Bulan terkekeh.
"Kamu takut sama papah aku?"
"Gak sih, cuma grogi aja."
Bulan terkekeh mendengar jawaban dari Bintang menurutnya lucu, "Ehm, dulu waktu pertama kali ke rumah Viona, ketemu papahnya kamu gimana?"
"Bulan!" seru Bintang dengan nada tak suka.
Bintang sudah sering bilang pada Bulan, kalau jangan pernah bahas Viona lagi. Selain ia tidak ingin melihat Bulan sedih, Bintang juga tidak mau mengingat kembali masa lalunya bersama dengan Viona, biarin ia kubur rapat-rapat kenangan itu.
"Aku cuma mau tahu Bintang, seperti itu saja yang nanti kamu lakukan saat ketemu sama papahku juga." ujar Bulan menyuruh Bintang agar bersikap dan berperilaku yang sama saat pertama kali ketemu orang tua Viona dulu.
"Aku ajak mamah gak?" tanya Bintang.
Bulan menggeleng, "Kayanya gak usah dulu deh, kitakan bukan mau lamaran cuma mau kenalan dulu. Buru-buru amat sih pak!" kekeh Bulan.
Bintang langsung memeluk Bulan lagi dan mengecup kening Bulan beberapa kali, "Takut kamu di ambil yang lain. Entah Tuhan atau manusia!" seru Bintang membuat jantung Bulan berdetak sangat cepat.
Bersambung.....
Nah, gimana part ini? Maaf ya kemarin gak update.