COOL BOY

COOL BOY
BAB 42



Setelah pembicaraannya tadi di sekolah bersama dengan Hendra, membuat Bulan jadi berpikir kalau ia sangat egois selama ini. Menyuruh Bintang melupakan Viona karena tidak ingin rasa sayangnya terbagi, tetapi Bulan sendiri masih terus berhubungan dengan Andre yang jelas-jelas musuh dari Bintang.


Wajar kalau Bintang marah karena Bulan masih berhubungan dengan Andre. Gini, Bulan saja bisa marah karena Bintang masih menyimpan Viona di dalam hatinya yang jelas-jelas sekarang Viona sudah tidak ada, untuk apa ia khawatir kalau Bintang berbalik pada Viona.


Sedangkan, Andre masih berwujud maksudnya masih ada di dunia ini, wajar kalau Bintang takut Bulan akan berpaling kepada Andre.


Memang terkadang cinta itu membuat orang buta, tidak bisa memilah yang mana yang benar dan mana yang salah.


Maka malam ini Bulan, ingin menyampaikan pada Andre kalau ia memilih Bintang untuk menjadi kekasihnya dan meminta Andre untuk menjaga jarak dengannya.


Bukannya Andre pernah bilang, kalau dia akan ikhlas apapun keputusan Bulan nantinya. Semoga saja apa yang Andre bilang waktu itu benar, jadi tidak ada lagi dendam antara Bintang dan Andre dengan masalah yang sama. Yaitu memperebutkan perempuan yang sama seperti dulu.


Bulan sudah menghubungi Andre, mengajaknya bertemu malam ini di rumahnya. Bulan tidak bisa keluar rumah, karena besok masih ujian dan ia tidak di izinkan oleh Alvaro.


Sekarang sudah pukul 7 malam, Bulan sudah menunggu Andre di depan gerbang rumahnya karena mereka memang janjian jam segini, Bulan sengaja ingin mengajak Andre untuk makan malam bersama di rumahnya untuk terakhir kalinya.


Setelah itu ia akan kembali fokus pada Bintang, Bulan rasa cukup sudah pengorbanan Bintang meskipun belum sebanding seperti apa yang pernah ia lakukan dulu untuk cowok itu. Tetapi balik lagi, Bulan mengingat kata-kata Hendra, yang bilang jangan menyesal nantinya.


Tak lama suara deruman motor terdengar, Andre membuka helm full face nya. Bulan membukakan gerbang rumahnya agar motor Andre di masukkan ke dalam halaman rumahnya.


"Tumben amat lo ngajakin makan malam gue, di rumah lagi. Kenapa gak di luar aja?" ujar Andre saat sudah turun dari motornya.


Bulan terkekeh pelan, "Gue gak boleh keluar sama kakak gue, karena besok masih ujian."


Andre mengangguk-angguk, "Tunggu, ini di rumah lo ada orang lain kan selain kita, maksud gue kita gak berduaan kan di dalem?"


"Ada mba Yuni, sama kakak gue kok. Tapi kayanya kakak gue udah tidur sih di kamarnya,"


Andre mengangguk lagi lalu mengikuti Bulan masuk ke dalam rumahnya menuju meja makan.


"Kita makan dulu ya gue laper banget soalnya, setelah itu ada yang mau gue omongin sama lo." beritahu Bulan maksudnya mengundang Andre ke rumahnya malam ini.


"Ngomongin masalah apa?" tanya Andre.


"Ada lah nanti aja setelah makan, sekarang makan dulu. Enak loh masakan gue nih." bangga Bulan.


"Oh ya? Lo bisa masak juga ternyata!" Bulan mengangguk.


Setelah itu keduanya memulai acara makan malam bersamanya, keduanya hanya fokus pada makanan meskipun sekali-kali ada suara dari mereka berdua membahas makanan yang mereka makan saat ini.


Setelah selesai makan, Bulan mengajak Andre berpindah ke ruang tamu. Sebelum memulai pembicaraan serius Bulan berbincang ringan sambil bercanda bersama Andre.


"Terus lo sama Bintang, gimana Lan?" tanya Andre tiba-tiba membuat Bulan yang tadi terkekeh karena jokes Andre langsung terhenti.


Terlihat wajah serius di antara keduanya sekarang, Bulan memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Andre yang juga ternyata melakukan hal yang sama.


"Gue nyuruh lo kesini, buat bahas tentang itu." ujar Bulan.


Andre mengangguk sekali, "Ada masalah?"


Bulan menggeleng, "Gak kok, gue cuma mau ngasih tahu keputusan gue Ndre."


"Lo udah ambil keputusan tentang ini Lan?" Bulan mengangguk.


"Lo akan terima apapun keputusan gue kan Ndre, seperti apa yang lo bilang dulu?" Andre mengangguk.


Wajah Andre berubah murung, meskipun ia belum tahu pasti apa keputusan Bulan tetapi di dalam hatinya yakin kalau Bulan akan lebih memilih Bintang dari pada dirinya.


Dan dugaannya benar!


"Gue lebih milih Bintang, lo gak papa kan?"


Andre menghela napasnya, "Seperti apa yang udah gue bilang dari dulu, gue akan terima apapun keputusan lo Lan."


"Mungkin itu pun salah satu bentuk perjuangan gue buat lo, maaf kalau selama ini belum bisa berbuat lebih buat ngeyakinin hati lo untuk pilih gue."


"Gue punya cara sendiri dan mungkin Bintang pun punya cara sendiri buat menangin hati lo, dan sekarang gue kalah lagi dari Bintang." hela Andre.


Bulan merasa bersalah pada Andre, terlihat sekali wajah Andre sangat kecewa saat ini. Tetapi bukankah Bulan berhak memilih? Bulan tahu, Andre adalah cowok yang baik, tetapi sayang sejak dulu memang hatinya milik Bintang meskipun hati Bintang bukan miliknya.


"Lo marah?" tanya Bulan hati-hati.


Andre menggeleng lalu tersenyum lirih, "Gak kok," jawab Andre singkat karena bingung mau berkata apalagi pada Bulan.


Andre menggeleng, "Gue gak yakin kalau tentang itu Bulan. Gue tahu persis gimana Bintang ke pasangannya!"


Bulan menggeleng, "Tapi gue sama Bintang pun belum jadian kok Ndre." beritahu Bulan.


"Meskipun belum jadian, kalau Bintang sudah ngeklaim sesuatu yang miliknya sudah pasti gak bisa ganggu sama siapapun, apa lagi orangnya gue, lo tahu sendiri hubungan gue sama dia gimana kan?"


Bulan mengangguk lemah, "Tapi, sebisa mungkin gue akan tetap jadi temen lo Andre, lo tetep mau berteman sama gue kan?"


Andre mengangguk, "Yaudah kalau gitu gue balik ya?"


"Gak mau main PS dulu sama gue?"


Andre menggeleng lalu bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu keluar, dan Bulan mengikuti Andre sampai di depan motor cowok itu.


"Andre, lo beneran gak papa kan sama keputusan gue ini?" tanya Bulan sekali lagi membuat Andre yang ingin memakai helm nya jadi terhenti dan menaruu kembali helm nya di atas motor.


Tanpa di duga Andre menarik tubuh Bulan masuk ke dalam pelukkan nya, dan Bulan tidak menolak perbuatan Andre itu karena Bulan pikir mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. Mengingat apa yang Andre katakan, kalau Bintang pasti tidak akan mengizinkan lagi untuk bertemu cowok ini.


"Thanks buat waktunya selama ini Lan, itu semua berarti banget buat gue. Kalau gue boleh jujur memang gue gak suka sama keputusan lo ini, tapi balik lagi lo berhak memilih dan gue udah janji bakal nerima ini semua."


"Gue cuma bisa berdoa agar lo selalu bahagia sama semua pilihan lo yang menurut lo terbaik ini. Gue harap Bintang bisa jaga lo dengan sepenuh hati agar kejadian Viona dulu gak terulang lagi sama lo,"


"Bulan inget satu hal ya, gue akan selalu ada buat lo kapan pun di mana pun kalau lo hubungi gue. Gue juga orang pertama yang bakal ngehajar Bintang kalau tuh anak bikin lo sakit atau pun nangis!"


Bulan mengangguk, tanpa sadar ia menangis saat ini, Andre sangat amat dewasa menurutnya. Jarang lo seseorang bisa menerima keputusan yang menyakitkan ini dengan tenang.


Andre melepaskan pelukan itu lalu menghapus air mata di pipi Bulan, "Gak perlu nangis Bulan, gue masih hidup kok. Kalau gue udah mati, baru lo boleh tangisin gue!" goda Andre membuat Bulan tersenyum lalu memukul bahu Andre pelan.


"Kenapa lo dewasa banget sih Ndre? Gue jadi ngerasa bersalah banget tahu karena respon lo begini." ujar Bulan jujur.


Andre menaikkan alisnya, "Ngaco, mau lo gue marah-marah terus nyamperin Bintang ngajakin dia duel gitu?"


Bulan menggeleng, "Yah gak gitu juga sih."


Andre mengusap pucuk kepala Bulan lalu mengecup sebentar pucuk kepala itu, Bulan pun kaget dengan perlakuan Andre tadi.


"Gue tetep sayang lo Lan, gue balik ya? Kabarin gue kalau lo udah jadian sama Bintang!"


Bulan menggeleng, "Gak ah, gue gak mau lo tahu kapan gue jadian sama Bintang, gue gak mau lo semakin sakit denger berita itu."


Andre terkekeh pelan, "Meskipun gue gak tahu, tapi waktu itu akan kejadian kan?" secara tidak langsung Andre menyindir Bulan.


"Udah ah gue balik, lo belajar gih besok kan masih ujian!" ujar Andre menyudahi obrolan mereka.


Bulan mengangguk, "Lo juga langsung pulang ya, belajar dan tetap fokus buat ujian besok. Maaf karena gue ngomongin masalah ini di waktu yang gak pas!"


Andre mengangguk, "Siap komandan,"


Setelah itu Andre melajukan motornya keluar rumah Bulan dan Bulan kembali masuk ke dalam rumah.


Tanpa mereka sadari ternyata sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan keduanya dari luar gerbang, setiap inci yang Bulan dan Andre lakukan terlihat jelas meskipun orang tersebut tidak bisa mendengar apapun yang mereka bicarakan.


Tetapi tetap saja hal itu membangunkan emosinya, emosi karena melihat Bulan di peluk bahkan sampai di kecup oleh musuhnya.


Siapa kira-kira orang tersebut?


Yap benar, Bintang!


Bintang ada di sana dan melihat semua kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya. Emosinya muncul begitu saja melihat perlakuan Andre terhadap Bulan yang menurutnya di luar batas pertemanan, dan Bintang tak suka itu.


Saat Andre keluar rumah, Bintang langsung bersembunyi di antara pohon-pohon yang tertanam di sana. Tanpa masuk ke dalam rumah Bulan, Bintang memutuskan untuk langsung pergi dari sana.


Mengapa Bintang ada di rumah Bulan? Karena Bintang ingin mengantarkan makanan dan belajar bersama dengan Bulan, sebelumnya Bintang sudah mengirim pesan bahkan menghubungi Bulan tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari gadis itu, makanya ia langsung datang ke rumah Bulan.


Bintang tidak menyangka kalau Andre juga ternyata ada di rumah gadis itu, Bintang merasa di sini Bulan lah yang tidak serius dengan perjuangannya, buktinya Bulan masih berhubungan dengan Andre yang jelas-jelas Bulan tahu kalau Bintang tak suka itu.


Lalu apa yang akan Bintang lakukan setelah ini?


Bersambung....