
"Hai. Kenapa kau juga datang?" tanya Silvi pada Salsa. Karena dia kira hanya dia dan Ryan, yang akan belajar di cafe dekat sekolah mereka.
"Guru menyuruh ku mengajari nya." ucap Ryan singkat.
"Kau juga bisa mengajari orang lain? Apa kah dunia sudah berubah?" sindir Salsa pada Ryan.
Ryan tidak menggubris sindiran Salsa, dia tiba tiba mengambil buku Salsa lalu menyobek tengah nya, setelah di sobek dia kembali kan lagi buku Salsa.
"Apa yang..." ucapan Salsa terhenti karena dia sudah tidak bisa berkata kata lagi, untuk menghadapi Ryan yang seenak nya saja. Lalu Salsa pun lanjut belajar kembali.
"Nanti kerja kan yang ini." ucap Ryan memberi kan soal pada Silvi untuk di kerja kan nya.
"Benar benar mau belajar?" tanya Silvi. Ryan tidak menjawab nya, lalu mereka ber4 sama sama fokus dengan kegiatan nya masing masing.
"Ini juga?" tanya Salsa pada Arka.
"Iya. Gunakan rumus turunan yang ini." ucap Arka sambil menunjuk rumus yang dia maksud.
"Tidak perlu mengguna kan rumus apa pun, gambar sebuah garis bantu dan semua sudah terpecah kan." sindir Ryan pada Salsa namun mata nya menatap ke arah Silvi yang sedang tidur. Lalu Ryan melirik Salsa sekilas untuk melihat ekspresi wajah nya.
"Aku tidak menjelas kan nya untuk mu." ucap Ryan lagi datar.
"Cara memecah kan rumus turunan seperti ini." ucap Arka memberi kan contoh nya.
"Untuk apa mengguna kan rumus turunan, merepot kan sekali. Apa kau tahu aturan L'Hospital? Meski pun di luar topik pembelajaran, tapi bisa di pakai di pilihan ganda dan soal isian. Semua soal bisa di kerja kan dalam sekejap." ucap Ryan menjelas memberi penjelasan pada Silvi, padahal dia tau Silvi sedang tidur. Dia hanya menyindir Salsa dengan halus.
"Satu, dua, tiga, sudah terpecah kan. Begini, mengerti?" ucap Arka memberi penjelasan.
Ryan yang kesal melihat Salsa dan Arka, tiba tiba dia menjitak kening Silvi mengguna kan bolpoin nya. Silvi pun terbangun karena kaget.
"Meski pun sedikit sulit untuk mempelajari nya, tapi aku akan memberitahu kan mu sedikit demi sedikit. Lihat bagai mana aku menulis nya." ucap Ryan lembut pada Silvi. Silvi yang senang Ryan berbicara dengan lembut, dia pun mengangguk dengan senyum nya yang mengembang.
"Dasar tukang pura pura. Biasa nya ketika mengajari ku tidak pernah seperti itu." gumam Salsa dengan kesal menatap Ryan. Ryan dan Salsa pun saling adu tatapan tajam mereka masing masing.
Mereka pun melanjut kan sesi belajar nya, hening beberapa jam hingga Arka mulai bersuara.
"Apa kah bisa di mengerti jika di jelas kan seperti ini?" tanya Arka pada Salsa. Salsa pun hanya mengangguk kecil.
"Per tidak samaan x2 - 4x - 2 - a > 0. ada cara memecah kan nya dalam interval (1,4). Jadi di antara interval a < x2 - 4x - 2, ada cara memecah kan nya dalam (1,4)." ucap Ryan memberi penjelasan pada Silvi.
"Kau benar benar guru matematika terbaik yang pernah ku temui." puji Salsa pada Arka. "Tak ada yang lebih baik." lanjut nya dengan melirik Ryan.
"Di (2,4) pakai fungsi monoton." ucap Ryan yang masih menjelas kan pada Silvi. Lalu Ryan tiba tiba mengambil buku catatan matematika nya Salsa. Salsa ingin merebut nya tapi tidak bisa.
"Selain soal persamaan, yang lain semua nya salah." ucap Ryan yang mengoreksi catatan Salsa. Salsa yang kesal mendengar penuturan Ryan pun berdiri dan merebut buku nua kembali.
"Kau sengaja cari masalah, kan?" tanya Salsa kesal.
"Kau ini... lupa kan saja tentang les." ucap Ryan santai.
Salsa yang kelewat kesal nya, dia pun membanting buku yang dia pegang ke meja.
"Kau jangan ke terlaluan! Apa kau ingin mati ke laparan?" ancam Salsa.
"Kau..." Salsa geram dengan sikap Ryan.
"Kenapa mereka berdua bertengkar?" tanya Silvi sedikit berbisik pada Arka. Arka pun hanya mengidik kan bahu nya, tanda kalau dia pun tidak tahu.
Ryan berdiri mengambil tas nya dan tas Salsa lalu menarik tangan Salsa.
"Lepas kan!" ucap Salsa memberontak. "Lepas kan!" lanjut nya.
"Kami punya masalah keluarga yang harus di selesai kan." entah Ryan berucap kepada Silvi atau Arka. "Ku serah kan Silvi pada mu." lanjut nya meninggal kan Arka dan Silvi. Lalu dia pun menarik tangan Salsa untuk di bawa nya pulang ke rumah.
"Ryan." panggil Salsa geram oleh sikap Ryan yang selalu seenak nya.
***
Akhir nya Ryan dan Salsa saat ini sudah sampai di rumah. Salsa yang kesal lalu menarik kursi dan duduk di kursi meja makan, dia yang melihat Ryan di depan nya hanya memasang wajah cemberut sambil mengerucut kan bibir nya.
"Sekarang kau sudah puas, kan?" tanya Salsa.
"Yang Arka bisa, aku juga bisa." ucap Ryan. Pasal nya dia tidak terima Salsa lebih milih belajar dengan Arka dari pada dengan nya.
"Tidak perlu. Aku lebih memilih untuk menyobek kertas jawaban." tolak Salsa. Lalu tiba tiba notifikasi di handphone Salsa dan Ryan berbunyi secara bersamaan.
Ibu.
Ya, ada pesan masuk dari Ibu ke ponsel kedua nya.
Ibu : Ayah dan Ibu tiba tiba harus melaku kan perjalanan bisnis, jaga diri mu sendiri dan Adik baik baik. Muah.
Itu lah pesan yang masuk di ponsel Salsa.
Ibu : Ayah dan Ibu tiba tiba harus melaku kan perjalanan bisnis. Jangan terlalu sering membuat Salsa marah, dan hati hati jangan sampai kelaparan.
Pesan yang masuk dari ponsel Ryan.
Salsa menatap Ryan kesal, Ryan yang di tatap seperti itu pun berpura pura sakit perut.
"Lambung ku ini, kenapa tiba tiba begitu sakit?" ucap Ryan yang berpura pura sakit, lalu duduk di hadapan Salsa. "Aduh ssshhh." lanjut nya pura pura menahan sakit.
"Benar benar ke habisan akal dengan mu." ketus Salsa lalu dia pergi menuju ke dapur. Yang akan membuat kan makanan untuk Ryan.
Beberapa menit kemudian makanan yang Salsa masak sudah siap untuk di makan, lalu Salsa berjalan menuju Ryan menaruh makanan yang dia bawa ke hadapan Ryan. Setelah itu dia balik lagi menuju ke dapur. (karena dapur dan meja makan berhadapan ya guys) Ryan pun memakan masakan Salsa.
Hari sudah berganti menjadi tengah malam.
Di mana Ryan sedang memasuki kamar Salsa, dia melihat ke ranjang Salsa, namun dia tidak ada. Ternyata Salsa sedang berdiri di depan jendela. Jadi Salsa punya ke biasaan tidur berjalan, mangka nya Ryan kalau pagi selalu ada di kamar Salsa, meski pun cuek dan suka seenaknya nya, namun dia diam diam selalu menjaga Salsa.
"Tidur berjalan lagi." gumam Ryan lalu berjalan menghampiri Salsa. Dia pun menurun kan Salsa dari jendela lalu di arah kan nya menuju ranjang tidur Salsa, dengan hati hati Ryan membaring kan Salsa.
Ryan berjalan menuju jendela, untuk menutup jendela Salsa. Lalu Ryan tidur di bawah tempat tidur Salsa.
...Bersambung......