
Setelah membuat rencana yang matang, agar semua berjalan dengan lancar, Bulan dan Manda segera datang ke rumah Bintang untuk bertemu dan mengajak Soraya pergi ke makam anak bungsunya yaitu Vania Winata.
Ini adalah kali pertama Soraya datang ke makam Vania setelah beberapa tahun Vania di nyatakan meninggal. Waktu itu, kondisi Soraya belum separah ini tetapi ia tidak sanggup untuk ikut ke sana, memakamkan anaknya. Setelah satu bulan, kondisi Soraya menjadi semakin parah, dia mengalami depresi berat.
Tetapi sejak saat itu hingga sekarang, Bintang tidak mengizinkan Soraya di bawa ke rumah sakit jiwa. Bintang tidak mau dan tidak tega melihat itu semua. Makanya Bintang memutuskan agar Soraya tetap di rumah saja bersamanya. Setidaknya Bintang tidak terlalu kesepian jika ada Soraya di rumah meskipun mamahnya itu tidak bisa di ajak bicara dengan serius.
Pertengkaran hebat pernah terjadi antara Bintang dengan papanya Sony. Bintang yang kekeuh agar mamahnya tetap di rumah sedangkan Sony yang terus memaksa agar Soraya di bawa ke rumah sakit jiwa. Tetapi, dengan kedatangan keluarga Manda, dan memberi pengertian pada Sony, akhirnya Sony mengalah.
Membiarkan Soraya di rawat di rumah, dengan perawat rumah sakit jiwa yang setiap hari datang ke rumahnya waktu itu. Sony memang sudah tidak tinggal lagi di rumah, maka karena itu pula Bintang marah. Bintang pikir, untuk apa Sony melakukan itu semua, bukankah salah satu penyebab Soraya begini karena dia?
Saat sampai di kediaman Bintang, Manda langsung masuk ke dalam tanpa permisi lagi. Bulan menguatkan hatinya agar tidak sakit atau merasa kecil di sini. Pikiran Bulan saat ini, yang jadi pacarnya Bintang saat ini gue, bukan Manda.
Bintang sedang duduk di depan kamar Soraya, menunggu dua gadis ini datang. Bintang sudah menawarkan mereka agar di jemput olehnya tetapi Bulan menolak dan ingin berangkat bersama Manda saja.
"Nyokap lo udah rapi?" tanya Manda.
Bintang mengangguk, matanya terus menatap Bulan lalu tersenyum dan di balas senyuman pula oleh Bulan.
Bulan menghampiri Bintang, "Kamu udah siap?" seru Bulan dengan suara lembut.
"Siap, mau kapan?" jawab Bintang.
Bulan menaikkan alisnya, "Mau kapan? Maksudnya? Ya sekarang lah!" seru Bulan.
"Yaudah ayo ke KUA." jawab Bintang cepat membuat Bulan mencubit perut Bintang, kesal dan salah tingkah.
Manda yang mendengar itu pun belaga ingin muntah, "Anjir, lo belajar gombal dari mana?"
Bulan terkekeh sedangkan Bintang menampilkan wajah tajamnya untuk Manda, Bintang tak suka mendengar Manda berkata kasar.
"Paling dari Hendra, Man." sahut Bulan masih terkekeh.
Setelah selesai acara kekehannya, Bintang segera berjalan menuju kamar Soraya. Sebelum masuk Bintang menarik napasnya lebih dulu, untuk menenangkan hatinya. Jujur, sebenarnya hatinya takut dan gelisah, entah mengapa.
Manda ikut memasuki kamar tersebut, begitu pula dengan Bulan yang berjalan paling akhir. Bulan pun takut, takut melihat respon Soraya dan takut sedih melihat kedekatan Manda dengan Soraya.
Nah kan, baru masuk aja Soraya langsung memeluk Manda. Padahal Manda baru berucap, "Hai, tan." tapi sepertinya Soraya sudah mengenalin suara tersebut.
"Kamu kemana aja, Manda? Tante kangen." seru Soraya seperti orang sehat.
"Maaf ya tan, kemarin Manda sibuk ujian. Tante tahu gak, kalau Manda sama Bintang lulus dan Bintang juara 2 paralel loh." beritahu Manda pada Soraya.
"Selamat ya Manda, kalau Vania dimana? terus Viona juga sekarang gak pernah kesini Man, dia juga lulus?" tanya Soraya.
Tanpa sadar Bulan tersenyum miris, hatinya seperti di remas, sakit. Tiba-tiba muncul rasa bersalah di hatinya terhadap Viona dan juga Soraya. Tetapi, ah sudah lah susah untuk di jelaskan.
"Tante, tahu gak kalau Manda kesini sama kekasih barunya Bintang loh, namanya Bulan, dia pernah kesini waktu itu. Tante mau ketemu dia gak?"
Soraya diam lalu tiba-tiba menangis, memanggil nama Vania terus menerus. Dengan cepat Bintang memeluk ibunya seakan menenangkan Soraya.
"Mah, tenang ya. Setelah ini aku mau ajak mamah ke rumah baru Vania. Mamah mau ikut sama aku kan?" ajak Bintang dan di anggukin oleh Soraya.
Manda membantu Soraya bangun dan memeganginya menuju pintu keluar, Bulan yang berdiri di depan pintu langsung bergeser memberi jalan untuk Soraya dan juga Manda. Sedangkan Bintang langsung menggenggam tangan Bulan lalu mengikuti langkah Manda.
"Tante, kita kunjungin Vania ya, dia sama Viona juga di sana." seru Manda sambil terus menuntut Soraya.
Saat melewati ruang tamu, terlihat jelas pajangan foto keluarga Bintang, lengkap di sana, kembali membuat Soraya menangis mengingat semuanya.
"Kamu jahat mas! Kamu lebih perempuan murahan itu dari pada aku! Aku benci banget sama kamu." teriak Soraya histeris.
Dengan sigap Manda mengusap punggung Soraya pelan, lalu segera membawa Soraya keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya.
Manda duduk di belakang bersama dengan Soraya, sedangkan Bulan duduk di depan bersama dengan Bintang yang menyetir. Bintang segera melajukan mobilnya menuju ke makam Vania dan Viona.
"Semoga mamah kamu, bisa menerima ini semua ya setelah melihat makam Vania nanti." seru Bulan berharap.
Bintang langsung mengambil tangan Bulan sebelah kanan dan menggenggamnya erat, "aku harap juga begitu, makasih ya buat ide kamu ini." seru Bintang dan angguki oleh Bulan.
Sepanjang perjalanan, Soraya kadang menangis kadang tertawa membuat Manda sedikit kewalahan saat menenanginya. Untung saja kalau bersama dengan Manda, Soraya tidak pernah mengamuk.
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit akhirnya mereka sampai di tujuan. Ke empat nya turun dari mobil dan melangkah menuju baru nisa bertuliskan nama Vania dan di sebelahnya Viona.
Saat awal memasukin makam, Soraya sempat histeris seakan sedang memutar kembali kejadian di mana dulu saat Vania meninggal dunia dan sempat ingin kabur dari sana. Untung saja mereka bisa menahan Soraya, hingga sekarang sudah berdiri di depan makam anak bungsunya itu.
"Bintang benar tante, Vania sudah bahagia di atas sana bareng Viona. Tante tahu gak kalau Vania pernah nitip pesan ke Bulan." seru Manda membuat Bulan tersenyum.
Bulan mulai memberanikan diri untuk mendekat ke arah Soraya, "Iya tante, Vania bilang kalau dia kangen dan sayang banget sama tante. Vania mau lihat tante, sehat lagi seperti dulu. Vania sedih melihat kondisi tante seperti sekarang, yang gak pernah ikhlasin Vania buat pergi." seru Bulan sambil ikut mengelus punggung Soraya.
"Vania? Mana Vania?" seru Soraya mencari keberadaan anak gadis bungsunya itu.
Bintang menuju pusaran makam Vania, "Vania sudah di dalam sini mah, Vania mau mamah bisa biarin dia pergi dengan tenang, dia sudah bahagia mah dan dia juga mau mamah bahagia di sini bersama Bintang."
"Tante ikhlasin Vania ya, Bulan yakin setelah ini pasti Vania akan muncul di mimpi tante dan mengucapkan apa yang Bulan bilang tadi." seru Bulan.
"Vania anakku, anak gadis ku. Aku mau bertemu dia! Dimana dia!" histeris Soraya sambil menarik rambut Bulan.
Bintang dan Manda berusaha melepaskan tangan Soraya dari kepala Bulan. Sedangkan Bulan hanya bisa meringis merasakan sakit di kepalanya.
Teman-teman Bintang yang lain berada di kejauhan melihat jelas apa yang terjadi di sana. Ingin menghampiri dan membantu, tetapi Bintang sudah berpesan jangan mendekat saat Soraya datang, takut nanti malah Soraya tidak nyaman karena banyak orang.
Akhirnya tangan Soraya terlepas dari kepala Bulan, dengan cepat Bintang berpindah posisi menjadi di samping Bulan lalu mengusap kepala Bulan sayang.
"Maafin mamah ya." seru Bintang pelan.
"Gak papa, aku paham kok." sahut Bulan meskipun tidak di pungkiri kalau kepalanya merasakan sakit.
Manda mengelus punggung Soraya yang sedang terisak sambil terus berkata dengan kata-kata menenangkan untuk Soraya. Tanpa di duga, Soraya mengucapkan kata yang membuat Bintang, Bulan serta Manda kaget.
"Mamah, ikhlas sayang." seru Soraya sambil mengelus baru nisan bertuliskan nama Vania di sana.
"Maafin mamah kalau bikin kamu sedih di sana selama ini. Setelah ini mamah akan berusaha agar bisa bikin kamu bahagia nak. Yang tenang di sana bersama kak Viona ya." seru Soraya lagi.
Tanpa sadar mereka yang ada di sana meneteskan air mata, terharu. Karena setelah beberapa tahun akhirnya bisa melihat Soraya menerima kenyataan ini. Ini semua berkat Bulan, ini semua ide Bulan.
Bulan bangkit lalu menukar posisinya dengan Bintang, tanpa menunggu lagi Bintang langsung memeluk Soraya dengan erat.
"Maafin mamah nak," seru Soraya membuat tangis Bintang semakin kencang.
Bintang melepas pelukan itu lalu mengecup kening sang ibu, "Maafin Bintang juga ya kalau selama ini belum bisa bikin mamah bahagia."
Soraya menggeleng lalu mengelus kepala Bintang sayang, "Engga sayang."
Bintang menoleh ke arah Bulan lalu menggenggam tangan Bulan, "Mah, kenalin ini Bulan, kekasih Bintang. Ini semua ide Bulan, yang ngajak mamah kesini."
Soraya menatap Bulan datar, lalu tak lama senyuman indah terlukis, senyuman yang sudah lama hilang entah kemana.
"Makasih sayang," hanya itu yang bisa di bilang Soraya pada Bulan.
Soraya merentangkan tangannya menyuruh Bulan masuk ke dalam pelukannya, dengan cepat Bulan masuk ke dalam pelukan itu dan merasakan hangatnya pelukan ibu.
Bulan jadi kangen mamahnya di Amerika sana.
"Tante, masih inget sama aku gak?" seru Manda saat Bulan sudah melepaskan pelukan itu.
Soraya langsung menoleh ke arah Manda, dan langsung memeluk gadis yang sudah di anggap sebagai anaknya itu.
"Tante gak mungkin lupa sama kamu sayang, kamu anak tante." seru Soraya sambil mengelus rambut hitam milik Manda.
"Manda kangen banget sama tante yang bahagia dan sehat kaya dulu, tante janji sama Manda ya buat ikhlasin semuanya?" seru Manda dan membuat Soraya mengangguk.
Setelah itu, Teman-teman yang lainnya ikut menghampiri Soraya dan memberi salam pada Soraya.
Mengapa secepat ini Soraya bisa sembuh atau bisa kembali pulih? Bulan pun tak menyangka. Tetapi semua tidak ada yang tidak mungkin bukan? Ini semua menurutnya sebagai keajaiban.
Semoga setelah ini, kehidupan Bintang dan Soraya menjadi lebih bahagia dengan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dahulu. Menjadi lebih baik lagi dari kehidupan sebelumnya. Bulan selalu berharap seperti itu, dan berharap kalau hubungannya dengan Bintang tidak ada lagi rintangan atau masalah nantinya. Meskipun ia tahu, Cinta dan Sakit itu adalah satu paket.
Kalau sudah jatuh cinta, berarti sudah siap juga dengan kecewa nantinya. Benar?
Bersambung....
Maaaf telat updatenya, lagi gak enak badan guys! Duh musim sakit soalnya nih:(
Gimana part ini?