COOL BOY

COOL BOY
BAB 56



Hanum tak menyangka kalau makan malam bersama dengan sahabatnya menjadi kacau. Berniat mengajak anak masing-masing untuk di kenalkan eh ternyata mereka sudah saling mengenal. Bukan hanya saling mengenal, tetapi mereka pun punya kisah masing-masing.


Begitu pula dengan kekasih anaknya, Bintang. Ternyata Bintang punya peran juga di antara mereka. Yang membuat Hanum kaget, karena mendengar ucapan dari mulut Clara tadi. Hanum sampai tidak dapat berpikir apakah itu benar atau bohong.


Setelah menceritakan semuanya pada Brian di mobil tadi, hingga satu kalimat yang keluar dari mulut Brian membuat Hanum dan Bulan kaget.


"Papah rasa, kamu gak usah berhubungan lagi sama Bintang!" seru Brian.


"Kenapa, pah? Bintang gak seperti apa yang Clara bilang!" seru Bulan tetapi tidak di jawab oleh Brian.


Setelah mereka sampai di rumah, Brian langsung menyuruh Bulan dan Hanum untuk duduk sebentar di ruang keluarga untuk menjelaskan mengapa dirinya melarang Bulan untuk tidak berhubungan lagi dengan Bintang.


"Bulan, sebelumnya papah tanya, apa kamu pernah ada masalah dengan Clara?" tanya Brian.


Bulan menggeleng, "Gak pernah pah, Clara itu anak baru di sekolah Bulan. Jadi Clara gak tahu bagaimana Bulan di sekolah selama 3 tahun kemarin!" seru Bulan membela diri.


"Papah tahu, Bintang itu anak yang baik. Papah bisa menilainya, dek. Tapi yang papah gak suka, latar belakang keluarganya." seru Brian.


"Maksudnya mas?" tanya Hanum yang bingung dengan ucapan Brian.


Brian menghela napasnya, "Iya kamu lihat, papahnya Bintang bisa meninggalkan keluarganya, apalagi sampai istrinya depresi. Dan papah gak mau, Bulan di gituin sama Bintang juga!"


Bulan menggeleng, "Papah, gak bisa samain Bintang sama papahnya! Semua itu jelas berbeda, karena sifat manusia itu berbeda-beda!"


"Tapi buah jatuh tak jauh dari pohonnya Bulan, sedikit banyak pasti sifat papahnya ada yang turun ke Bintang! Dan papah takut, sifat mendua itu lah yang turun pada Bintang!"


Hanum mengelus lengan suaminya pelan, "Pah, mereka masih pacaran, belum menikah!"


"Iya papah tahu, tapi papah cuma gak mau lihat Bulan sakit hati dan menangis karena Bintang, mah! Selama ini papah selalu berusaha buat Bulan bahagia tanpa kurang sedikit pun!"


Bulan menghampiri Brian yang duduk bersebrangan dengannya, lalu berlutut di depan Brian sambil kepalanya di taruh di kaki Brian.


"Pah, please izinin Bulan buat ngejalanin ini sama Bintang, biar Bulan buktiin kalau Bintang gak seburuk itu!" mohon Bulan sambil terisak pelan.


Hanum mengelus kepala putrinya, begitu juga dengan Brian. Sebenarnya Brian pun suka dengan Bintang, tetapi seperti apa yang tadi ia bilang, tak suka dengan latar belakang keluarganya.


Brian menghela napasnya, "Papah kasih satu kali kesempatan buat kalian buktiin kalau kalian memang pantas bersama, kalau sampai papah tahu Bintang nyakitin kamu, jangan harap dia bisa ketemu sama kamu lagi! Paham?"


Bulan hanya bisa mengangguk lemah, tanpa bisa bersuara apapun. Apa Bulan harus menceritakan ini semua pada Bintang?


Bulan bangkit dan izin pamit untuk segera ke kamarnya, walaupun perutnya terasa perih karena lapar tetapi ia sedang tidak mood untuk makan dan memilih untuk tidur saja.


Sedangkan Hanum dan Brian masih berbincang di ruang keluarga.


*****


Pagi hari yang cerah tetapi bagi Bulan tidak secerah biasanya. Entah mengapa di otaknya terngiang-ngiang omongan Brian semalam, yang harus membuktikan kalau Bintang tidak akan pernah menyakitinya. Padahal kenyataannya, Bintang memang sering menyakitinya, bukan?


Bulan belum cerita masalah ini dengan siapapun. Bulan bingunh harus cerita pada Bintang atau tidak kah masalah ini, ia takut nantinya Bintang malah sakit hati karena di sama-samakan dengan Sony, papahnya.


Dalam diri Bulan, ia yakin kalau Bintang tidak seperti Sony. Bintang lelaki yang baik dan penyayang, buktinya saja sudah ada. Meskipun orangnya sudah tidak ada di dunia ini aja, Bintang masih merasa sayang padanya.


Bulan merapikan bajunya sebelum turun dari kamarnya untuk pergi ke kampus pagi ini. Setelah di rasa sudah rapi, barulah Bulan turun ke bawah untuk sarapan lebih dulu bersama dengan keluarganya.


"Selamat pagi." sapa Bulan lesu.


Tidak ada semangat seperti biasanya, bahkan senyumnya pun belum muncul pagi ini.


Hanum yang tengah membereskan meja makan langsung menatap putri kecilnya dan tersenyum, "Pagi sayang, sarapan dulu ya?"


Bulan mengangguk dan duduk di meja makan, hanya ada Bulan di sana, tidak ada Brian dan Alvaro.


"Papah sama kakak kemana mah? Belum keluar kamar?" tanya Bulan sambil tangannya mengambil sepiring nasi goreng, maklum karena semalam tidak makan makanya ia merasa sangat lapar pagi ini.


"Papah lagi ke kantor sama kakak kamu," jawab Hanum yang ikut duduk di samping Bulan sambil memakan kue kering buatannya.


"Tumben, kakak ikut ke kantor."


"Iya, papah mau ngajarin kakak bisnis, biar perusahaan yang di sini dia yang pegang, soalnya papah sama mamah harus balik lagi ke Amerika."


"Kakak pegang perusahaan? Gak salah mah? Yang ada bisa bangkrut tuh perusahaan!" terkekeh Bulan mendengar kalau Alvaro yang nantinya akan menggantikan Brian di kantor yang ada di Indonesia.


"Hus, kamu tuh bukannya support kakaknya, lagi kan kamu gak mau di suruh pegang perusahaan dan memilih menjadi guru, kalau bukan kakak siapa lagi."


Bulan mengangguk membenarkan apa yang Hanum bilang, "Kenapa mamah sama papah harus balik ke Amerika lagi? Bukan tinggal di sini aja sama Bulan." ujar Bulan dengan nada sedih.


Harus di tinggalkan lagi oleh kedua orang tuanya. Meskipun hanya beda negara, tetapi rasanya kangen banget!


"Iya haruslah nak, perusahaan di sana siapa yang ngurus kalau papah sama mamah di sini terus? Om Alvin belum mengerti semuanya masalah di sana."


"Memang papah gak punya orang kepercayaan di sana, yang bisa handle semua?" seru Bulan yang masih berusaha membujuk Hanum agar tidak pergi lagi.


Hanum bingung dengan respon Bulan yang tidak seperti biasanya, "Kamu kenapa sih dek, tumben banget. Biasanya fun fun aja mamah tinggal." seru Hanum.


Bulan menggeleng, "Bulan cuma butuh mamah sama papah di sini, ngawasin Bulan seperti anak yang lainnya. Sudah terlalu lama mamah sama papah pergi dari pelukan Bulan selama ini."


"Dek-" ucapan Hanum terpotong.


"Please, stay with me?" mohon Bulan dengan nada sedih.


Hanum menghela napasnya, "Nanti kita bicarain ini sama papah ya?" seru Hanum dan di anggukin oleh Bulan.


Setelah selesai makan, Bulan berpamitan dengan Hanum untuk segera pergi ke kampus. Setelah mengecup pipi Hanum, Bulan segera melangkah menuju pintu bersama dengan Hanum yang ingin mengantarnya sampai luar.


Tak di sangka, ternyata Bintang tiba tepat Bulan membuka pintu utama. Bulan dan Hanum kaget melihat sosok Bintang yang tengah berdiri di depan pintu.


"Astaghfirullah." seru Bulan dan Hanum bersamaan.


"Assalamu'alaikum, tante." seru Bintang yang seakan-akan tidak terjadi apa-apa dan langsung mengambil tangan Hanum untuk di kecup.


"Waalaikumsalam, kamu ngagetin aja ih Bintang!" sahut Bulan.


"Waalaikumsalam, iya nih Bintang bikin tante kaget aja." seru Hanum juga.


"Kamu udah sarapan Bintang?" tanya Hanum.


Bintang mengangguk, "Sudah kok tante." jawab Bintang.


Hanum mengangguk, "Kalian janjian buat ke kampus bareng?" tanya Hanum.


Bintang mengangguk sedangkan Bulan menggeleng, membuat Hanum bingung dengan tingkah anak muda di depannya.


"Yang benar yang mana?" tanya Hanum lagi.


"Iya." sahut Bintang.


"Enggak!" sahut Bulan.


Hanum menghela napasnya, "Terserah deh, bingung mamah. Karena Bintang udah ada di sini, jadi kamu berangkat bareng Bintang ya!"


Bulan menggeleng, "Nanti Bintang telat kalau harus nganterin aku dulu mah!"


Bintang menggeleng, "Enggak kok tante, hari ini aku masih free jadi gak masalah."


"Tuh dengar apa yang Bintang ngomong? Udah gih sana, kamu gak kasihan sama Bintang yang udah jauh-jauh buat jemput kamu!"


Mau tak mau Bulan mengangguk, lalu berjalan ke arah mobil Bintang, begitu pula Bintang setelah berpamitan dengan Hanum.


Bintang mulai melajukan mobilnya menuju kampus Bulan lebih dulu. Di dalam mobil Bulan hanya diam sambil melihat jalanan dari jendela, moodnya sedang tidak baik makanya ia malas bicara!


"Kenapa pesan sama telepon aku gak di balas?" tanya Bintang yang memang dari semalam Bulan tidak merespon apapun.


"Tidur!" jawab Bulan singkat.


Bintang menghela napasnya, "Kamu masih marah?"


Bulan menggeleng.


"Itu buktinya masih cuek, artinya masih marah!"


"Jangan sok tahu!" ketus Bulan.


Tangan Bintang terulur untuk mengusap kepala Bulan dengan pelan, hal itu dapat membuat Bulan salah tingkah. Jantungnya berdebar tak karuan, selalu saja begitu!


"Maafin aku ya, aku janji gak akan ngulangin lagi!" mohon Bintang.


"Udah di maafin!" Bulan berusaha keras agar terlihat biasa saja di depan Bintang, walau sebenarnya ingin sekali sekarang ia memeluk kekasihnya itu dari samping dan menceritakan semuanya.


"Senyum dong," seru Bintang sambil menoleh ke arah Bulan sekilas.


Bulan tersenyum, walau awalnya terpaksa tetapi lama kelamaan menjadi ikhlas dan menunjukan senyum terbaiknya untuk Bintang.


"Makasih sayang." seru Bintang semakin membuat Bulan kalang kabut, salah tingkah!


Sebel!!


Tak lama mereka telah sampai di kampus Bulan, keduanya turun dari mobil awalnya Bulan bingung mengapa Bintang ikutan turun tetapi saat di tanya Bintang hanya diam saja tak menjawab.


"Kamu ngapain ikut aku turun? Bukan langsung jalan ke kampus!" seru Bulan bertanya lagi.


Bintang menoleh ke kanan ke kiri melihat segala yang ada di depannya, di kampus Bulan. Ternyata memang lebih mewah aslinya dari pada iklan di internet.


"Bintang ih!" seru Bulan karena merasa di cuekin oleh Bintang.


"Ini kan udah di kampus!" jawab Bintang.


"Iya tahu, tapi ini kan kampus aku!"


"Sejak kapan papah kamu beli kampus ini? Pantesan waktu test kamu lolos, ternyata ada orang dalam!"


Bulan menepuk bahu Bintang pelan, "Ih bukan gitu maksud aku, kamu mah nyebelin!" gerutu Bulan.


Bintang mengacak rambut Bulan lalu menarik pucuk hidup mancung milik Bulan itu, sampai yang punya meringis sebentar.


"Aku pindah kamu, ke sini!" seru Bintang membuat Bulan kaget.


"Se..serius?" seru Bulan tergagap.


Bintang mengangguk, "Kenapa? Kamu gak suka ya kita satu kampus akhirnya?"


"Suka banget malah! Akhirnya kita bisa satu kampus Bintang!" seru Bulan antusias.


Bintang terkekeh, gemas melihat tingkah Bulan, "Yaudah yuk kita ke gedung ekonomi?" seru Bintang sambil menggandeng tangan Bulan.


"Ekonomi? Kamu masuk jurusan yang sama juga sama aku?" Bintang mengangguk membuat Bulan memeluknya dari samping karena senang luar biasa.


"Tapi kita beda kelas, sayang!" beritahu Bintang membuat Bulan berhenti memeluk dan menatap Bintang dengan sedikit sedih.


Lalu tiba-tiba senyuman indahnya terbit lagi, "Gak papalah, yang penting kita satu kampus dan jurusan sekarang!"


Keduanya berjalan menuju gedung Ekonomi. Di tengah perjalanan, Bulan melihat Cinta yang tengah berjalan sendiri sambil mendengarkan sesuatu lewat earphones-nya.


"Cinta!" panggil Bulan hingga orang yang di panggil menoleh.


Saat Cinta menoleh, Bintang sangat terkejut melihat siapa yang ada di depannya itu. Tanpa sadar, Bintang menepuk pipinya sendiri, ingin mengetahui ini mimpi atau bukan!


Bersambung..... 


Nah kan... 


Jangan ada yang komen ngira, kalau orang tua Bulan akan meninggal ya, karena itu gak akan! 


Part ini gimana? 


Kira-kira Cinta siapa ya?