
Keesokan harinya, Zevanya buru-buru mencari keberadaan Adnan begitu sampai di sekolah. Adnan lebih penting dari pada kelas sekarang, sebelum bertemu dengan cowok tersebu, hati Zevanya tidak tenang.
“Kak, kak Adnan…” Panggil Zevanya berbinar. Dia menemukan Adnan berjalan di koridor bersama Ilham. Keduanya menoleh ke belakang dan Zevanya tersenyum lebar sembari berlari kecil untuk menyelaraskan langkah mereka.
“Gue duluan.” Ilham memberikan ruang untuk keduanya. Adnan mengangguk lalu menoleh pada Zevanya yang semakin senang dengan kepergian Ilham. Artinya, dia memiliki banyak waktu berdua dengan Adnan, cowok idaman yang diincarnya.
“Kemarin itu, maaf, kak. Gue…”
“Gue yang harusnya minta maaf.” Potong Adnan cepat sehingga Zevanya mengerutkan dahi tidak mengerti. “Gue harusnya nganter lo pulang. Tapi, gue baru keluar dari konseling. Gue nggak mau bikin keributan lagi.”
Zevanya memandang Adnan sayu, semakin merasa bersalah. “Nggak apa-apa, kak.” Selanya. “Justru gue bangga sama kakak.” Adnan mengerutkan dahi. “Tapi, gue sama kak Ryu nggak ada hubungan apa-apa, kak. Gue nggak tahu kenapa kak Adnan kemarin maksa gue pulang bareng.”
“Gue ngerti.” Ujar Adnan. “Gue dan dia emang nggak pernah akur.” Zevanya terdiam, memang dia sudah mengetahui hal tersebut. Entah apa sebabnya kedua cowok itu selalu memiliki masalah.
“Kenapa bisa?” Zevanya penasaran.
Adnan menggeleng dan menghela nafas berat. “Cuma masalah spele gitu aja.” Katanya. “Dia selalu ngerebut apapun yang jadi milik gue.”
“Maksudnya?” Zevanya semakin tidak mengerti. “Kakak udah kenal lama sama kak Ryu?”
Adnan kembali menggeleng. “Nggak.”
Zevanya menangkap Adnan tidak nyaman dengan bahasan tersebut. Dia buru-buru mengubah raut wajah penasaran dengan ceria. “Eh, iya, kak. Nanti pulang sekolah kakak kemana?”
“Gue?” Adnan berdehem. “Gue nggak ada acara.”
Zevanya melebarkan mata senang dan bertepuk tangan sekali. “Bagus…”
“Bagus?” Adnan mengerutkan dahi.
“Eh, eh… maksudnya, kak. Aduh…”
“Lo mau ngajak gue kemana?” Adnan terkekeh dengan tingkah lucu Zevanya. Cewek itu merutuk dirinya yang terlalu semangat dan buru-buru.
“Hem…” Zevanya salah tingkah. “Ke toko buku.” Katanya cepat. “Gue mau nyari novel biat tugas bahasa Indonesia.” Untung saja Zevanya ingat tugas yang dari kemarin tidak dikerjakannya.
“Jam berapa?”
“Jam berapa aja bisa. Kalau langsung setelah pulang sekolah, gimana?”
“Mau. Boleh, kak, boleh, eh…” Zevanya menutup mulutnya. Adnan tergelak dengan kelucuan Zevanya. Wajah cewek itu memerah menahan malu, Hatinya berlonjak terlalu bahagia sampai tidak sadar dia harusnya menjaga image.
“Oke. Nanti gue jemput lo ke kelas.” Kata Adnan kemudian. “Gih, masuk.”
Zevanya menoleh ke pintu kelasnya, ternyata secepat itu pertemuan mereka pagi ini. Begitu singkat. Untuk pertama kalinya Zevanya ingin kelasnya jauh di ujung saja agar lebih lama bersama Adnan.
“Sorry, kak. Sampe lupa, hehe.” Cengir Zevanya salah tingkah.
Adnan terkekeh dan menggeleng pelan. “Gue pergi. Selamat belajar.”
“Kakak juga. Semangat, ya.” Jawab Zevanya girang sembari melambaikan tangannya pada Adnan yang sudah berlalu. Zevanya masih setia memandang hingga punggung cowok itu tidka terlihat lagi. Setelah itu barulah Zevanya masuk kelas.
“Hayoloh, habis ngapain?” Rara menggoda Zevanya dengan cengiran khasnya.
“Aaaaa… Rara… gilaaa…” Zevanya heboh bukan main. Dia berteriak histeris dan memeluk Rara erat. “Gila, gila… gue barusan sama kak Adnan, astaga….” Rara dibuat kewalahan dengan keagresifan sahabatnya tersebut.
“Gila, lo kayak penghuni rsj, tahu nggak?” Rara memutar bola mata.
Bukannya tersinggung, malah Zevanya tergelak bebas. “Bodo amat. Gue bahagia, anjir! Wuakakaka. Bahagia banget, gilaaa. Nanti siang gue sama kak Adnan janjian ke toko buku.”
Rara menyipit tidak percaya. “Serius lo?”
“Dua rius, anjir!” Zevanya kembali histeris sampai-sampai keduanya menjadi pusat perhatian satu kelas. “Gue nggak pernah nyangka kalau kak Adnan sebaik ini.”
“Sae ae lo, Zee. Kayak anak autis jingkrak-jingkrak cuma gara-gara Adnan.”
“Biarin, wle.. yang penting gue seneng dan bisa jalan sama kak Adnan.” Zevanya meletakkan tasnya di atas meja dan duduk di kursinya. Hatinya begitu berbunga-bunga, semakin semangat menerima pelajaran dan tidak sabar menunggu pulang sekolah. “Pokoknya lo harus dukung dan doain gue biar cepet jadian sama kak Adnan!”
***
Medan, 16.08.19
Siapa nih suka kek anak autis habis di notif sama gebetan? :P