
Suasana pesta Alex sangat meriah, apa lagi saat pemotongan kue dan kue pertama akan di berikan ke siapa. Karena tidak ada orang tuanya di sini, otomatis Alex akan memberikan kue tersebut ke orang yang cukup berarti di hidupnya.
Alex melangkah maju menuju seseorang tersebut dengan senyuman di bibirnya. Suasana menjadi sunyi, karena menunggu kemana langkah kaki Alex.
Alex menghentikan langkahnya saat sudah berada tepat di depan seseorang. Semua orang yang ada di sana penasaran siapa sosok itu.
"Apakah kue pertamanya buat dia?" ujar pembawa acara dan di jawab dengan anggukan oleh Alex.
Alex memberikan kue tersebut ke seseorang di balik topeng, "Kue pertama buat lo." ujar Alex.
Seseorang tersebut pun kaget dengan kedatangan Alex dan memberikan kue itu untuknya.
"Buat gue?" tanya seseorang itu memastikan.
Alex mengangguk mantap, lalu terdengar tepuk tangan dari semua yang ada di sana. Semua orang penasaran sih seseorang di balik topeng tersebut sampai akhirnya mereka semua teriak.
"Buka topengnya." seru semua tamu yang ada di sana.
"Kira-kira siapa ya?" tanya Bulan pada teman-temannya yang juga menyaksikan itu.
Semuanya hanya menggeleng tak tahu, tapi tidak dengan Bintang, dia mengetahui pasti siapa perempuan di balik topeng itu.
"Malah gue kira dia bakalan ngasih lo Lan, secara dia kan dari dulu ngejar-ngejar lo." sahut Mutia dan di anggukin oleh yang lain.
Tak lama suasana kembali sunyi saat seseorang yang di beri kue tersebut membuka topengnya. Dengan dramatis semua tamu yang ada di sana melongo tak percaya saat mengetahui siapa seseorang tersebut.
"Anak baru?"
"Clara?"
Itu lah respon para tamu yang melihat siapa perempuan itu, dan ternyata Clara lah yang di beri kue pertama pada Alex. Semua tak percaya, karena semua pun tahu kalau Alex itu suka dengan Bulan mereka kira itu Bulan.
"Clara?" bro Bulan saat melihat Clara di sana.
"Alex salah orang kali ya? Memang sebelumnya mereka saling kenal?" ujar Mutia heran.
Clara pun bingung mengapa Alex memberikan kue itu padanya, padahal mereka baru bertemu sekali di depan tata usaha waktu itu. Apa Alex salah sasaran? Mungkin Alex kira, ia adalah Bulan?
"Lo gak salah ngasih kue nya ke gue?" tanya Clara.
Alex menggeleng, "Enggak kok, gue memang niat ngasih buat lo."
"Kenapa? kita gak kenal lo sebelumnya?"
Alex mengangguk, "Maka dari itu, kue itu tanda mulai bertemannya kita hari ini Clara." ujar Alex lembut.
Clara tersenyum begitu pula dengan Alex. Tepuk tangan kembali terdengar di barengi dengan teriak heboh dari semua teman-temannya.
"Tembak aja Lex langsung, gak usah temenan." ujar salah satu teman dekat Alex membuat suasana semakin heboh.
Alex yang di teriakin hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal sedangkan Clara langsung memakai kembali topengnya.
"Guys, kita lanjutin acaranya yaa." teriak pembawa acara menggunakan microphone.
Semua kembali teralih ke arah pembawa acara, menunggu acara selanjutnya. Dan ternyata sekarang waktunya berdansa. Semua yang ada di sana bergegas mencari pasangan dansa.
Angga hendak menarik Bulan untuk di ajak berdansa, tetapi lebih dulu di tarik oleh Bintang. Begitu juga dengan Arkana yang langsung menarik Manda dan Hendra menarik Mutia untuk berdansa bersama.
Angga hanya bisa diam melihat teman-temannya berdansa, "Nasib..nasib, padahal gue udah ganteng gini tapi gak ada yang ngajakin gue dansa." gerutu Angga.
Tiba-tiba ada uluran tangan tepat di depan wajahnya membuat Angga menoleh ke orang tersebut.
"Mau berdansa sama gue?" ujar gadis yang berada di depan Angga.
Angga tidak bisa mengetahui siapa di balik topeng tersebut, tidak berpikir panjang Angga menyambut tangan tersebut dan ikut berdansa dengan yang lainnya. Biarlah, meskipun tidak mengetahui dengan siapa ia berdansa, setidaknya ia bisa berdansa.
Sedangkan di sisi lain, Bulan tengah berdansa dengan Bintang. Hal itu membuat jantung Bulan rasanya ingin copot saat ini juga. Gugup, takut dan senang tercampur jadi satu saat ini. Tanpa Bulan ketahui, hal itu pun di rasakan oleh Bintang. Jantung Bintang sangat berdebar saat ini.
Bintang terus bertanya-tanya pada dirinya, apakah ia sudah bisa menerima Bulan di hatinya dengan ikhlas? apakah ini tandanya ia sudah mulai menyukai atau bahkan menyayangi Bulan? Karena semua yang ia rasakan sama seperti dulu saat pertama kali bersama dengan Viona.
Bintang menggeleng, ia mengingat perkataan Bulan. Sebelum ia benar-benar mengikhlaskan Viona jangan harap Bulan mau menjadi pengganti Viona.
"Bulan." panggil Bintang pelan dan terdengar sensual karena posisi mereka sangat dekat.
Bulan langsung menoleh ke atas untuk melihat wajah tampan Bintang yang saat ini sedang di tutupi oleh topeng hitam.
"Iya Bintang?" jawab Bulan dengan suara lembut juga.
"Lo cantik." puji Bintang membuat kecepatan detak jantung Bulan semakin meningkat.
"Lo..lo juga ganteng." puji balik Bulan dengan gugup.
Bintang tersenyum kecil, lalu menaruh keningnya di kening Bulan membuat wajah mereka sangat dekat.
"Kasih gue waktu." ujar Bintang.
Bulan yang tidak mengerti omongan Bintang hanya diam tidak menjawab, menunggu Bintang melanjutkan perkataannya.
"Kasih gue waktu buat ngeyakinin lo lagi,"
Bulan yang sudah paham kemana arah ucapan Bintang hanya mengangguk.
Bulan lagi-lagi hanya mengangguk, ia tidak mau berharap terlalu tinggi tetapi ia sangat berharap kalau waktu itu akan tiba nantinya.
"Ternyata lo jago dansa juga." ujar Bulan memuji Bintang.
Bintang terkekeh pelan dan itu lagi-lagi membuat Bulan terkesima. Mendengar Bintanh tertawa bisa di hitung jari, maksudnya Bulan hanya baru beberapa kali mendengar tawa dari Bintang.
"Bintang."
Bintang menundukkan kepalanya, "Iya Bulan?"
"Clara itu sebenernya siapa?"
Bintang yang mendengar pertanyaan dari Bulan itu langsung menoleh ke atas, seakan mencari jawaban yang pas untuk Bintang berikan kepada Bulan.
"Setelah ini, gue kasih tahu ya." Bulan hanya mengangguk.
Keduanya kembali berdansa. Di lihat pula hal itu di lakukan oleh Manda bersama dengan Arkana dan juga Mutia bersama dengan Hendra. Bulan tersenyum melihat pemandangan itu, tidak menyangka itulah yang ada di benaknya.
"Man," panggil Arkana.
Manda menaikkan alisnya seakan bertanya kenapa, Manda bingung apa yang ia rasakan saat ini. Berdansa bersama dengan Arkana adalah mimpinya dulu waktu perpisahan sekolah menengah pertama, tetapi sayang Arkana lebih memilih berdansa dengan yang lain dari pada bersamanya.
"Lo masih nyimpen perasaan yang dulu gak?" tanya Arkana pelan.
Manda yang mendengar itu hanya diam tidak menjawab, ia pun bingung harus menjawab apa. Ia tidak tahu apakah perasaan itu masih ada atau malah sudah hilang.
"Man, kalau sekarang gue yang nyimpen perasaan itu gimana?"
Manda sama sekali tidak bereaksi, ia terlalu kaget dengan ujaran Arkana tadi. Sejak kapan Arkana menyimpan perasaan itu pikirnya.
"Gue siap kok memperjuangkan lo seperti Bintang yang akan memperjuangkan Bulan."
Manda menggeleng, "Buat apa Ar?" tanya Manda.
"Gue telat menyadari perasaan itu dulu Man, makanya sekarang gue mau tebus kesalahan itu."
Manda lagi-lagi menggeleng, "Gue rasa gak perlu, semua sudah lewat Ar."
Arkana menggeleng, "Biarin gue berjuang ya Man, untuk hasilnya nanti lo yang nentuin dan gue akan terima apapun keputusan lo nantinya."
Manda hanya bisa diam mendengar penuturan dari Arkana yang menurutnya terlalu membebankan.
Sedangkan di sisi lain lagi, terlihat Mutia dan Hendra tengah berdansa, tidak seperti kedua pasangan tadi yang terlihat sangat romantis dan calm down. Pasangan yang satu ini terlihat berbeda, karena keduanya berdansa sambil terkekeh terus menerus tidak berhenti entah apa yang membuat keduanya tertawa begitu.
"Lo yang gak bisa dansa atau gue sih yang gak bisa?" gerutu Mutia pada Hendra meskipun di selingi tawa, karena menurut Mutia, Hendra seseorang yang humoris.
"Gue yang gak bisa dan lo juga gak bisa jadi kaya badut kita." ujar Hendra terkekeh.
"Lo lihat deh yang lain gerakannya anggun gitu, lah kita kaya cacing ke sirem air panas." ujar Mutia.
"Biarin deh, yang penting gue bisa dansa sama lo."
Mutia yang mendengar ujaran itu langsung menatap Hendra selama beberapa detik lalu akhirnya memutuskan tatapan itu.
"Mut, lo lagi gak di deket sama siapa pun kan?" tanya Hendra memastikan kalau Mutia saat ini sedang sendiri.
Mutia menggeleng.
"Kalau gue ngajuin diri buat deketin lo, boleh?"
Mutia menggeleng lagi.
"Kenapa?" tanya Hendra kaget dengar respon Mutia.
"Gue gak mau kehidupan gue di sekolah jadi kacau, kalau mantan-mantan lo tau, gue deket sama lo. Lo kan tahu sendiri gimana mereka!" gerutu Mutia, jujur tentang mengapa ia malas berdekatan dengan Hendra apalagi waktu di sekolah.
Hendra yang kaget dengan alasan Mutia menolaknya hanya terkekeh pelan, "Yaudah kalau gitu kita backstreet aja. Nanti kalau lo udah siap baru kita publikasiin ini."
"Termasuk sama sahabat-sahabat kita?" Hendra mengangguk.
"Tapi tunggu, lo suka juga sama gue, Mut?" tanya Hendra.
Mutia mengangguk pelan lalu terkekeh, entah apa yang lucu. Mungkin karena perasaannya yang lucu, terlihat seperti musuh selama ini eh malah kesandung cinta seorang Hendra juga.
Hendra tuh tipe cowok humoris, hal itu yang membuat Mutia nyaman. Wajahnya pun tak kalah tampan dengan sahabat dia yang lain.
"Kalau gitu, lo mau kan jadi pacar gue mulai detik ini?" ujar Hendra pelan.
Mutia mengangguk, "Iya mau." sahut Mutia membuat Hendra bersorak kencang dan membuat siapa saja langsung menoleh ke arahnya, dengan cepat Mutia menyadarkan Hendra kalau mereka sedang jadi perhatian.
"Lo mah bilangnya backstreet tapi lo pake teriak-teriak segala!" gerutu Mutia kesal.
Hendra menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Hehe, iya maaf sayang." ujar Hendra pelan membuat Mutia senyum-senyum tak jelas.
Bersambung....
Nah lo siapa tuh yang salah sangka tadi, katanya mau ngasih ke Bulan! Eh ternyata Clara yang di kasih.
Gimana menurut kalian, cocok gak mereka?