
Tepat hari ini adalah tepat di mana siswa dan siswi kelas 12 mengadakan malam perpisahan atau Prom Night. Malam yang mungkin akan bersejarah nantinya untuk mereka semua.
Acara perpisahan ini di adakan di sebuah hotel bintang 5 yang ada di kawasan Bandung, siswa dan siswi pergi bersama menggunakan bis yang telah di sewa oleh sekolah.
Sejak pagi tadi, mereka sudah berangkat menuju hotel tersebut hingga akhirnya mereka sampai di jam 3 sore karena keadaan lalu lintas yang lumayan macet. Semua langsung bergegas masuk ke dalam kamar hotel masing-masing yang sudah di bagi menjadi beberapa kelompok.
Mereka cuma punya waktu 4 jam untuk bersiap-siap sebelum acara perpisahan nanti di mulai. Bulan, Manda dan Mutia satu kamar hotel, membuat ketiganya bahagia.
"Lan, nyokap bokap lo jadi ke Indonesia?" tanya Mutia.
Tadinya, orang tua Bulan ingin pulang bersama ke Indonesia tetapi ternyata ada pekerjaan yang papah nya tidak bisa tinggal waktu itu, makanya mereka tidak jadi pulang bersama dan menjadwalkan ulang nanti.
"Belum tahu sih, bokap gue masih ada urusan katanya." jawab Bulan.
"Lan, lo masih marah sama Bintang?" tanya Manda sambil tangannya mengeluarkan baju yang nanti akan di pakainya.
Bulan menggeleng, "Gue gak pernah marah sama dia Man, gue cuma butuh nenangin hati gue doang sih sebenernya." jelas Bulan.
Manda mengangguk, "Sampai kapan Lan?" tanya Manda lagi.
Bulan mengangkat bahunya, "Belum tahu Man, gue ngerasa lagi ada di titik terendah aja saat ini, makanya gue butuh sendiri dulu. Jangan paksa gue ya?"
Manda mengangguk lalu melangkah ke arah kamar mandi, "Gue mandi duluan ya?" izin Manda lalu masuk ke dalam.
"Jangan pake lama Man, lo kan kalau mandi bisa sejam!" teriak Mutia dari luar kamar mandi dan Bulan hanya tertawa.
"Lo sama Hendra gimana, Mut? Aman?" tanya Bulan sambil tangannya merapikan barangnya kembali ke dalam koper.
Mutia mengangguk, "Aman, gue ngerasa nyaman banget Lan kalau dekat dia."
Bulan tersenyum, "Gak nyangka ya lo akhirnya sama Hendra, dulu aja lo najis-najis eh sekarang ke makan juga rayuan tuh cowok gila." cibir Bulan dan di hadiahi lemparan bantal dari Mutia.
"Lo jangan gitu kenapa sih, malu tahu gue!" gerutu Mutia sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Manda sudah selesai dengan ritual mandinya sekarang giliran Mutia nanti Bulan yang terakhir.
"Man, gue bagi sabun cuci muka lo ya, gue lupa gak bawa!" teriak Mutia dari dalam kamar mandi.
"Lo mah emang kebiasaan Mutia!" gerutu Manda kesal.
Mutia dan Manda memang memiliki sabun cuci muka yang sama. Waktu mereka berlibur ke Amerika pun Mutia mengatakan hal yang sama bahkan memakainya sampai pulang lagi ke Indonesia. Padahal Mutia bisa beli di sana, tetapi selalu saja bilangnya "ah nanggung, punya gue masih banyak di rumah." itu jawaban Mutia. Menyebalkan bukan?
Tak lama Mutia keluar dari kamar mandi, dan sekarang giliran Bulan yang memakai kamar mandi itu. Bulan memang selalu yang terakhir karena geraknya yang cepat, ia yang terakhir tetapi ia duluan yang selalu selesai pertama nantinya.
"Man, kayanya Bulan bosen gitu ya sama Bintang?" ujar Mutia pelan.
Manda mengangguk, "Bener yang Bulan bilang tadi, ada di titik terendah. Dia bingung mau maju atau mundur Mut kalau gue lihat." sahut Manda yang sedang memakai skincare.
"Terus rencana kita gimana nanti?" Manda mengangkat bahunya.
"Gimana pun hasilnya atau jawaban dari Bulan nanti, kita gak boleh paksa dia Mut. Biar bagaimana pun, sesuatu hal yang di paksakan gak akan baik." seru Manda dan di anggukin oleh Mutia.
"Tapi gue berharap, Bulan mau menerima Bintang lagi, Man." seru Mutia dan itu juga harapan Manda.
Pintu kamar mandi terbuka dan Bulan berjalan ke arah ke dua sahabatnya yang sedang sibuk dengan alat make-up masing-masing.
"Gak nyangka ya, kita bakalan pisah setelah ini. Padahal gue nyaman banget tahu temenan sama kalian!" seru Bulan tiba-tiba yang sedang menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
Manda dan Mutia menoleh ke arah Bulan, "Kita gak bakalan pisah, Lan! Kita bisa satu kampus lagi, dan kalau bisa kita ambil jurusan yang sama." seru Mutia.
Manda mengangguk, "Bener tuh kata Mutia!"
Bulan menghela napasnya, "Gue lagi bingung mau kuliah di mana, Ortu gue nyuruh di Amerika aja."
Mutia dan Manda kaget dengan fakta itu, "Serius Lan? Terus lo terima?" tanya Manda.
Bulan mengangkat bahunya, "Belum tahu, makanya gue lagi bingung."
"Kalau buat kuliah di Amerika, gue gak bisa deh kayanya, nyokap gue gak ngizinin gue jauh-jauh soalnya." seru Mutia.
Terdengar helaan napas kecewa dari mereka bertiga, "Udah gak usah sedih, kuliah di manapun gak masalah yang penting kita bikin jadwal ngumpul kalau ada waktu luang." seru Manda.
Mutia menggeleng, "Susah Man, kuliah itu sibuk banget. Apalagi kalau Bulan beneran pindah ke Amrik, waktunya aja udah beda! Kita pasti gak bisa ngumpul kaya gini lagi." ujar Mutia.
"Gak nyangka ya kita sudah sampai di titik ini, gue sedih sih ninggalin kalian berdua nantinya, tapi gimana lagi kita kan punya cita-cita dan tujuan hidup berbeda." seru Bulan.
"Lo tetap di Indonesia ya Lan? Please." mohon Mutia.
Bulan menggenggam tangan Manda dan Mutia bersamaan, "Gue belum nentuin apa-apa Mut, gimana pun nanti kedepannya kita tetap sahabatan kok!" seru Bulan meyakinkan kedua sahabatnya.
Ketiganya berpelukan seakan malam ini adalah malam terakhir mereka bertemu, padahal belum tentu, karena masih ada waktu beberapa bulan lagi untuk masuk ke universitas.
"Yaudah yuk siap-siap." ajak Manda dan di anggukin keduanya.
Mereka langsung merias dirinya masing-masing, Manda yang terlihat tomboy jago make-up loh. Malam ini dresscode nya adalah kebaya. Mereka bertiga memiliki model kebaya yang sama dan hanya berbeda warna.
Bulan memakai warna rose gold, Manda memakai warna hitam sedangkan Mutia memakai warna merah.
Setelah hampir 1 setengah jam akhirnya mereka selesai juga berdandan untuk malam penting ini. Sekarang sudah pukul setengah 7 malam, dan mereka langsung keluar kamar menuju ballroom hotel yang dimana tempat acara perpisahan itu di adakan.
Ternyata di dalam sudah ramai, mereka semua sedang berfoto-foto. Berbaur menjadi satu, tidak memandang jurusan IPA atau IPS, itu lah yang terlihat di situasi saat ini.
"Astaga Bulan, lo cantik banget!" puji Alex saat melihat Bulan masuk ke dalam bersama dengan Manda dan Mutia.
Alex menggaruk kepalanya yang tak gatal, tak bisa di pungkiri Alex juga sangat tampan malam ini menggunakan jas berwarna coklat dengan celana senada, seperti hampir kebanyakan cowok memakai jas deh malam ini.
"Cantik juga kok, tapi kan lo berdua udah ada pawangannya, kalau gue puji juga gue takut mereka marah!" seru Alex menyuarakan isi hatinya.
Bulan terkekeh mendengar kejujuran Alex, "Lo juga tampan Lex, btw Clara mana? Bukannya lo lagi gencar buat deketin dia?" tanya Bulan dan di anggukin oleh Manda dan Mutia.
"Masih di kamarnya belum rapi katanya, lo gak cemburu Lan kalau gue sama Clara?" ujar Alex sambil menaik-naikkan alisnya.
Bulan memukul bahu Alex pelan, "Asal lo bahagia, gue juga bahagia Lex." ujarnya lalu pergi dari sana menuju meja yang kosong.
Manda dan Mutia terkekeh melihat ekspresi Alex, lalu mengikuti Bulan duduk di meja yang kosong tersebut sambil menunggu acara di mulai.
Mereka pun sama dengan yang lain, berfoto dengan siapapun, tetapi bedanya mereka yang di hampiri bukan menghampiri. Tak lama suasana menjadi sangat bising, karena ternyata banyak cewek yang ingin berfoto dengan Bintang malam ini.
Bulan yang melihat Bintang bersama dengan ketiga sahabatnya langsung terpana. Tampan, satu kata itu lah yang pas saat pertama melihat Bintang masuk ke dalam ballroom.
"Gila, kenapa Bintang yang lebih tampan dari pada Hendra sih!" gerutu Mutia saat ikut terpesona melihat Bintang.
Manda menoyor kepala Mutia pelan, "Sejak kapan emang Hendra ganteng?" cibir Manda.
"Eh Hendra ganteng tahu, cuma ketutup aja sama tingkah konyolnya." Bulan membela Mutia.
"Nah, tapi gebetan lo lebih menggoda anjir Lan!" Mutia masih tetap terkagum dengan Bintang.
Manda hanya bisa menggeleng melihat respon Mutia yang menurutnya terlalu berlebihan, "Gue bilangin Hendra lo!" adu Manda dan membuat Mutia menatapnya tajam.
"Mereka ke sini anjir, gue gak tahan lihat Bintang, mau pingsan!" seru Mutia lagi membuat Bulan terkekeh.
Keempat cowok tampan itu mendatangi meja yang sudah terisi ketiga cewek cantik. Mata Mutia masih terus menatap Bintang, begitu pula dengan mata Bulan yang tak lepas dari Bintang.
"Eh, cowok lo tuh yang ini bukan Bintang!" adu Manda membuat Mutia memukul lengan Manda keras.
"Sialan lo!" gerutu Mutia pelan dan di hadiahi kekehan dari Manda.
"Oh jadi kamu terpesona sama Bintang, bukan sama aku?" ujar Hendra membuat Mutia mengangguk polos.
Angga tertawa paling keras lalu di ikutin oleh Arkana, "Anjir sakit gue mah jadi lo Dra!" kompor Angga membuar Arkana semakin terpikal begitu pula dengan Manda.
Bulan dan Bintang hanya melihat tingkah para sahabatnya dengan senyuman kecil. Moment indah yang tercipta seperti ini yang nantinya bakal di kangenin.
"Kok kamu jahat banget sih Mut!" rajuk Hendra.
Mutia langsung melangkah menuju Hendra, "Gak gitu, cuma ya gimana ya." ujar Mutia sulit menjelaskan pada Hendra.
Perdebatan keduanya kembali terjadi, membuat Manda, Arkana dan Angga terus tertawa melihat drama Mutia dan Hendra. Sedangkan Bintang kembali fokus pada Bulan, begitu pula dengan Bulan.
"Lo tampan." puji Bulan lebih dulu membuat Bintang mengembangkan senyumnya.
"Dari dulu." sahut Bintang membuat Bulan terkekeh pelan lalu mengangguk.
"Udah mulai percaya diri ya lo?" cibir Bulan.
Bintang mengangguk lalu tersenyum lagi pada Bulan. Hati Bulan menghangat melihat Bintang yang sepertinya sudah bisa membuka diri. Seperti tadi, dia tersenyum saat berfoto dengan teman-teman yang lain, biasanya kan hanya menampilkan wajah datarnya.
Tak lama terdengar suara dari atas panggung, mengatakan bahwa acara sebentar lagi akan di mulai dan menyuruh siapapun yang masih lalu lalang segera duduk di kursi yang telah di sediakan.
Acara berjalan dengan lancar, sambutan dari kepala sekolah, guru dan juga ketua panita sudah berjalan, hingga pembagian piagam untuk seluruh murid SMA Prada Jaya.
Setelah semua selesai, waktunya acara hiburan yang akan di persembahkan dari siapa saja yang sudah mendaftar waktu itu. Termasuk Bulan, salah satu yang ikut mendaftar di sana. Bulan akan bernyanyi, diiringi oleh Dico. Tidak ada yang tahu tentang ini, dan memang Bulan sengaja merahasiakan ini.
Setelah beberapa penampilan dari siswa siswi yang lain, sekarang giliran Bulan yang naik ke atas panggung bersama dengan Dico.
"Guys, ada yang bisa tebak gak setelah ini siapa yang akan nyanyi?" seru Hany sebagai pembawa acara malam ini.
"Gue kasih clue ya, dia cewek, cantik, baik dan selalu nebarin senyumannya setiap hari. Dia juga pinter dan juga populer di sekolah kita. Tapi ada yang bilang dia gak punya malu karena mengejar cowok yang selalu nolak dia. Ada yang tahu siapa dia?" seru Hany membuat siapa saja langsung menoleh ke arah Bulan.
"Lo mau nyanyi Lan?" tanya Hendra.
"Maksud lo, gue yang gak punya malu gitu? Kok lo bisa langsung nebak gue?" ketus Bulan berpura-pura.
"Eh bukan gitu, ciri yang lainnya pun nunjukin itu lo, bukan dari gak punya malunya, ih lo kok jadi sensitif gini!" seru Hendra.
"Positif kali." sahut Angga langsung mendapat tepukan dari Arkana.
"Gak perlu lama-lama, kita sambut ini dia, Bulan feat Dico!" seru Hany membuat semuanya terbelalak kaget.
Bulan bangkit dari duduknya lalu menoel dagu Hendra, "Jawaban lo benar my bestie!" ujar Bulan lalu tersenyum pada Hendra.
Bintang ikut bangkit membuat Bulan bingung, "Ngapain ikut berdiri?" tanya Bulan.
"Kenapa harus sama Dico? Gue juga bisa main gitar!" cemburu Bintang membuat Bulan gemas.
Bulan menepuk bahu Bintang pelan, "Duduk, dan nikmati aja persembahan dari gue, oke?" seru Bulan lalu melangkah menuju panggung meninggalkan Bintang yang kembali duduk di bangkunya.
Bersambung....
Hayo, part ini gimana?
Kira-kira Bulan nyanyi apa ya cocok? Coba komen kasih masukan! Siapa tahu aku bisa pakai, meskipun aku udah simpan satu lagu yang menurut aku pas dengan kisah mereka.