
Seperti ajakan Bulan waktu itu, tepat malam ini Bintang pertama kalinya bertemu dengan kedua orang tua Bulan setelah beberapa tahun mengenal gadis ceria itu.
Tidak bisa di pungkiri kalau hatinya gelisah, takut dan juga bingung. Bintang takut kalau nanti orang tuanya Bulan tak suka dengannya dan bingung harus bersikap bagaimana di depan mereka.
Ah sudah lama sekali, ia tidak pernah merasakan kegelisahan ini, dulu waktu pertama kali ketemu dengan orang tua Viona tidak semenakutkan ini. Apa ia merasa pernah salah pada Bulan yang membiarkan terus mengemis cintanya waktu itu.
Masuk akal sih, makanya ia pun merasa bersalah pada kedua orang tua Bulan. Karenanya Bulan di cap cewek tidak punya harga diri di sekolah. Lalu apakah selama ini Bulan menceritakan itu semua pada kedua orang tuanya? Kalau iya, Bintang harus beralasan apa dong?
*****
Bintang sudah sampai di rumah Bulan, tepat waktu seperti apa yang Bulan minta di pesan pendek tadi pagi. Bintang menggunakan kemeja lengan pendek di padukan dengan jeans warna hitam dan sepatu putih kesayangannya.
Bintang melangkah masuk saat di persilahkan oleh Yuni, pembantu rumah Bulan. Yuni bilang kalau Bulan masih di kamarnya. Bintang duduk di ruang tamu rumah Bulan, dengan perasaan yang gelisah dan jantung yang berdegup kencang tak karuan.
Tak lama terdengar suara deheman dari ruangan sebelah, dan otomatis membuatnya langsung menoleh ke arah suara tersebut. Terlihat jelas di sana, seseorang bertubuh tegap dan berkulit putih berjalan ke arah Bintang.
"Pasti itu bokapnya Bulan." seru Bintang dalam hati.
Tanpa sadar, ternyata keringat Bintang mulai bercucuran hal itu membuat Brian heran karena sepertinya di ruang tamu begitu sejuk tidak panas, mengapa teman anak gadisnya berkeringat.
"Selamat malam, om." sapa Bintang berdiri lalu membungkuk sedikit.
"Selamat malam." sahut Brian menanggapi sapaan dari Bintang.
Brian menyuruh Bintang untuk duduk kembali, sambil menunggu Bulan keluar dari kamarnya Brian berkesempatan untuk mengobrol dengan Bintang.
"Kamu namanya Bintang?" tanya Brian basa basi.
Bintang mengangguk, "Iya om." jawab Bintang sedikit gugup.
Brian mengamatin setiap gerak gerik Bintang, yang terlihat jelas sedang gugup. Brian terkekeh pelan, ia jadi ingat masa lalu saat pertama kali berkunjung ke rumah Hanum mamah Bulan waktu itu.
"Jangan gugup gitu, kita santai aja." seru Brian membuat Bintang menjadi kikuk karena ketahuan kalau sedang gugup.
Bintang hanya tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya.
"Bintang dan Bulan, nama kalian cocok. Kapan?" celetuk Brian tiba-tiba membuat Bintang semakin gelisah.
"Hah?" hanya itu yang keluar dari mulut Bintang.
Brian terkekeh melihat ekspresi wajah Bintang, "Santai aja bro." seru Brian lagi.
Bintang lagi-lagi hanya mengangguk lalu tersenyum, bingung harus merespon apa.
"Kalian pacaran?" tanya Brian.
Dengan cepat Bintang mengangguk, "Iya, boleh kan om?" izin Bintang lagi-lagi membuat Brian terkekeh.
"Kenapa tingkah laku kita sama ya, seperti dulu om pertama kali ketemu sama kakeknya Bulan." ujar Brian.
"Begini juga om?" tanya Bintang yang sudah sedikit lebih tenang.
Brian mengangguk, "Iya, om tahu kok di posisi kamu saat ini. Makanya om bilang santai aja," Bintang mengangguk.
"Sudah lama pacarannya?" Bintang menggeleng.
"Baru pas malam perpisahan kemarin om." jawab Bintang jujur.
"Om minta tolong sama kamu, buat jagain Bulan karena dia gak mau kuliah di Amerika mungkin ini salah satu penyebabnya. Bertahan disini karena ada orang yang dia sayangin." seru Brian.
"Pasti om, saya akan jagain Bulan." sahut Bintang cepat agar Brian yakin padanya.
"Kalian juga pacaran harus tahu batasan, jangan sampai kejadian hal yang tidak diinginkan, pacaran yang sehat. Om akan selalu dukung apapun yang Bulan mau selagi itu positif."
"Iya om, terima kasih banyak sudah mengingatkan hal itu."
Brian mengangguk, "Jangan pernah buat Bulan nangis, karena sejak dulu saya tidak pernah membuat dia menangis. Kalau kamu gak percaya bisa langsung tanya sama orangnya nanti."
Hati Bintang tersentuh, ia jadi mengingat ayahnya. Sudah lama ia tidak berbincang, sudah lama juga ia tidak merasakan hangatan pelukan seorang ayah. Bulan beruntung memiliki keluarga yang harmonis seperti ini.
"Apa aku pantes untuk kamu, Bulan?" seru Bintang dalam hati.
Saat ingin menjawab omongan Brian tadi, Bulan sudah tiba di sana, berdiri di samping sang papah sambil merangkul baju Brian.
"Hayo, ngomongin Bulan ya?" seru Bulan.
Brian langsung mengelus kepala anak gadisnya, "Dari dulu pede nya gak pernah hilang ya ternyata."
Bulan terkekeh, "Pah, di Indonesia kalau gak modal percaya diri gak akan punya temen tahu!" seru Bulan.
Bintang yang asik dengan tontonan di depannya alias melihat ke akraban Bulan dengan Brian langsung kaget.
"Eh apa om?" sahut Bintang yang tak mendengar ujaran dari kedua orang itu.
"Ah Bintang gak seru dek, dia cuma bisa fokus sama kamu doang!" rajuk Brian membuat Bulan terkekeh.
"Hayoloh Bintang, papah aku ngambek!" seru Bulan membuat Bintang ikut terkekeh.
"Maaf ya om, abis Bulan terlalu cantik." seru Bintang.
Saat akan menjawab ujaran Bintang, tiba-tiba Hanum datang menghampiri mereka bertiga di ruang tamu.
"Cantikkan mana sama ini?" seru Brian sambil menarik tangan Hanum dan melupakan Bulan yang berada di sampingnya.
"Begitu tuh Tang, papah udah tua aja masih bucin terus." gerutu Bulan.
Hanum terkekeh, sudah biasa melihat perdebatan kecil antara suami dan anak gadisnya itu.
"Udah,,, udah ayo kita makan, semua sudah siap!" ajak Hanum lalu menggandeng tangan Brian menuju ruang makan.
Bintang bangkit dari duduknya dan melangkah bersama dengan Bulan di sampingnya, "Kamu lama, aku kangen tahu!" seru Bintang pelan.
Bulan menghadiahi cubitan di perut Bintang, "Kamu belajar modus dari mana sih!" seru Bulan sambil terkekeh begitu juga dengan Bintang.
Semua sudah duduk di kursi masing-masing, hari ini Alvaro tidak bisa ikut makan malam bersama karena sedang keluar kota, ada tugas kampus katanya entahlah benar atau bohong namanya juga anak muda.
"Makan yang banyak nak Bintang, ini semua tante yang masak loh." seru Hanum.
Bintang mengangguk, "Iya tante." sahut Bintang.
Mereka semua makan dengan tenang, meskipun sekali-kali ada pembicaraan eh bukan deh perdebatan antara Brian dengan Bulan lagi.
Setelah selesai makan, mereka berpindah ke ruang keluarga. Bintang merasa hangat di tengah keluarga ini. Sangat sangat keluarga idaman menurutnya.
"Nak Bintang, kamu lanjut kuliah di mana?" tanya Hanum.
"Sama kaya Bulan tante," jawab Bintang.
"Oh pantesan nih anak ngebet banget masuk kampus itu." cibir Brian.
"Namanya juga cinta pah, harus di pepet terus biar gak hilang!" sahut Bulan.
Hanum hanya menggeleng, "Kalian berdua kebiasaan, gak pernah bisa di ajak bicara serius!" gerutu Hanum.
Mereka berbincang panjang kali lebar, membicarakan tentang pendidikan yang akan mereka tempuh nanti. Banyak pesan dari Brian dan juga Hanum untuk Bulan dan Bintang yang memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadi guru.
Waktu semakin malam, dan Bintang ingin berpamitan pulang. Padahal dalam hati Bintang, ingin sekali rasanya tetap di sini di tengah keluarga yang hangat ini.
"Om, tante, saya ingin izin pamit pulang." pamit Bintang.
Brian mengangguk, "Next kita dinner di luar ya, sekalian ajak mamah papah kamu." seru Brian.
Ajakan itu membuat Bintang langsung terdiam, begitu juga Bulan yang langsung menatap Bintang khawatir.
"Iya, om. Nanti saya sampaikan pada mereka," jawab Bintang dengan nada pelan.
Bintang bangkit dari duduknya, lalu mencium punggung tangan Hanum dan Brian. Bulan pun ikut berdiri dari sana, "Aku anterin Bintang ke depan dulu ya, pah, mah." dan di anggukin oleh kedua orang tuanya.
Bintang berjalan bersama dengan Bulan menuju pintu keluar, perasaan Bulan tak enak karena Bintang langsung terdiam, setelah sampai di depan mobil Bintang, Bulan baru berani berbicara.
"Maafin papah ya, kalau karena itu kamu jadi inget papah kamu." seru Bulan meminta maaf.
Bintang mengangguk lalu mengusap rambut Bulan pelan, "Gak papa, papah kamu kan gak tahu gimana keluarga aku."
Bulan tersenyum lalu mengelus pipi Bintang, "Makasih ya karena sudah mau datang kesini."
"Sama-sama sayang. Makasih juga ya, udah buat aku ngerasa di hargain."
Bulan mengangguk lalu memeluk Bintang sebentar, "Hati-hati di jalan ya sayang, kalau sudah sampai langsung kabarin aku." pinta Bulan.
"Pasti sayang." kecup singkat Bintang di kening Bulan.
Bersambung...
Part santai aja dulu ya guys, nanti baru kita war lagi sedih dan senangnya!! Siap untuk kedepannya?