
Setelah berkumpul di cafe tadi, mereka semua bergegas untuk ke rumah Manda, sebelum Manda pergi ke Bandung sore ini. Bulan sudah mencoba menghubungi Manda setelah Bintang memberitahu pesannya waktu itu, tetapi ponsel Manda tidak aktif.
Apa Bulan di block oleh Manda? Ah rasanya tidak mungkin seperti itu. Lalu ada apa?
Setelah menghabiskan waktu sekitar 30 menit mereka langsung masuk ke dalam rumah Manda. Untung saja Manda masih ada di rumah, belum berangkat.
"Saya panggilin mba Manda dulu ya, mas." seru pembantu di rumah Manda.
Semuanya menunggu di ruang tamu, hingga Manda turun dari kamarnya untuk menemui sahabat-sahabatnya. Manda kaget, karena semuanya ada alias lengkap.
"Manda!" teriak Bulan lalu memeluk Manda.
Manda pun membalas pelukan itu sambil mengelus punggung Bulan, "Bulan!" seru Manda sambil melepaskan pelukan itu.
Setelah pelukan terlepas, Bulan mengambil napasnya dalam-dalam. "Lo kenapa harus pindah ke Bandung sih? Terus kenapa juga ponsel lo gak aktif? Kenapa juga harus ngabarin Bintang lebih dulu dari pada gue?" pertanyaan beruntun yang keluar dari mulut Bulan.
Manda mengulas senyum, "Yang bilang gue mau pindah ke Bandung siapa?" tanya Manda.
Bulan mengerutkan keningnya, bingung, "Maksudnya? Bukannya lo yang chat Bintang waktu itu, ngasih kabar kalau lo harus kuliah di Bandung?"
Manda terkekeh, "Bulan, ini semua skenario dari Bintang, gue di suruh dia chat kaya gitu tanpa chat lo juga."
Bulan semakin tidak mengerti, makanya tidak ada ucapan apapun yang keluar dari mulutnya.
"Gue di suruh Bintang, buat tahu gimana respon lo waktu itu. Lo tahu gak kalau kebetulan juga gue sama Arkana ada di sana waktu lo kasih tahu respon lo terhadap chat itu." jelas Manda.
"Gue sedikit kaget sih sama respon lo, tapi balik lagi kalau itu emang wajar, lo khawatir sama hubungan lo, dan tandanya juga lo beneran sayang sama Bintang, sahabat terbaik gue." lanjut Manda.
Bulan menatap Bintang yang sedang menatapnya juga, seulas senyum terbit dari Bintang tetapi tidak dengan Bulan. Entah mengapa Bulan meras seperti tidak di percaya, kecewa dengan semua yang di lakukan oleh Bintang dan juga Manda atau bahkan sama yang lainnya juga.
"Lo semua juga tahu tentang ini?" tanya Bulan sambil melihat ke arah mereka satu persatu dan mereka mengangguk.
"Kenapa, seakan gue gak di percaya ya?" seru Bulan membuat yang lain kaget karena respon itu.
"Terulang lagi seperti kemarin, gue doang yang gak tahu masalah ini, bener-bener gue kaya di jadiin badut sama lo semua! Kalian ngetawain gue, karena cuma gue yang seperti orang sedih di tinggal sahabat gue!"
Bulan mengatur napasnya, "Ini namanya pertemanan toxic gak sih?"
Bintang langsung menghampiri Bulan untuk menenangkan gadisnya itu, "Bulan, bukan bermaksud kaya gitu!" jelas Bintang.
Bulan mundur beberapa langkah agar Bintang tidak mendekatinya, tetapi Bintang tetap berusaha mendekati Bulan.
"Bintang, stop! Jangan deketin aku, aku ngerasa kecewa sama kamu. Seakan kamu gak percaya sama rasa aku buat kamu, padahal selama ini yang berjuang aku. Harusnya yang di test seperti ini kamu, bukan aku!" seru Bulan.
"Gue balik!" ujar Bulan langsung pergi dari sana, untung saja ia membawa mobil sendiri.
Menurut kalian respon Bulan berlebihan gak sih?
Bintang berusaha mengejar Bulan, dengan menggunakan mobilnya juga. Ia harus menjelaskan semuanya, maksud dan tujuannya. Meskipun apa yang Bulan bilang tadi memang benar, seharusnya dia lah yang di test seperti itu.
Bintang menyesal, mengapa harus ada pikiran seperti itu. Mengapa harus meragukan lagi rasa sayang yang Bulan miliki untuknya, terus kalau sudah seperti ini bagaimana?
Memang penyesalan itu selalu datang di akhir, karena kalau di awal itu namanya pendaftaran. Betul apa betul?
Sedangkan di lain sisi, di rumah Manda. Mereka masih berkumpul memikirkan bagaimana caranya agar Bulan mau memaafkan Bintang. Mereka pun kaget dengan respon Bulan tadi, mereka pikir Bulan tidak akan berpikir sejauh itu ternyata....
"Kita harus bantuin Bintang, jangan sampe hubungan mereka hancur karena hal ini." seru Hendra dan di setujui oleh yang lain.
"Lagian si Bintang ada-ada aja anjir, ngapain coba ngelakuin kaya gitu, gue juga kalau jadi Bulan bakalan marah sih." ujar Mutia.
"Iya gue gak habis pikir sama Bintang, bisa-bisanya masih gak percaya sama rasa yang Bulan kasih buat dia, kalau begitu mending Bulan buat gue deh!"sahut Angga.
"Gue jadi ngerasa bersalah sama Bulan, gimana kalau kita susulin mereka aja sekarang? Bantu Bintang buat jelasin semuanya?" ajak Manda dan di anggukin oleh semuanya.
Akhirnya semuanya menyusul Bulan dan Bintang yang entah sudah di mana, mungkin Bulan pulang ke rumah makanya mereka menuju rumah Bulan saja.
Di sepanjang perjalanan, Bulan menangis. Ia tidak menyangka akan di kerjain lagi oleh sahabatnya, meskipun dengan tujuan baik tapi entah lah Bulan merasa ini tidak adil menurutnya.
Terserah kalau kalian mau bilang Bulan lebay!
"Apa dulu lo ngetest Viona kaya gini juga, Tang?" Bulan bermonolog dengan dirinya sendiri seakan sedang bertanya pada Bintang.
"Kalau iya mungkin wajar karena dulu Viona dekat dengan Andre, kalau gue kan cuma fokus sama lo. Tapi lo masih gak percaya sama rasa yang gue punya buat lo!"
"Lo sakit Tang! Apa lo ngejalanin ini karena terpaksa? Kalau terpaksa, gue rela lepasin lo Tang!" seru Bulan lalu menambahkan teriakan di tangisannya.
Bulan tahu kalau Bintang mengikutinya di belakang, makanya Bulan tidak ingin pulang ke rumah, takut orang tuanya malah mengecap Bintang yang tidak baik. Biar bagaimana Bintang masih kekasihnya.
Bulan menuju ke makam, tempat peristirahatan terakhir Viona dan Vania. Entah mengapa Bulan jadi suka datang kesini kalau suasana hatinya sedang seperti ini. Bercerita pada baru nisan milik Viona, membuatnya sedikit lega. Padahal tidak ada jawaban apapun dari sana, kalau terdengar jawaban Bulan langsung lari kabur, karena takut cui!
Bintang bingung, mengapa mobil Bulan malah mengarah ke makam. Tetapi tetap saja Bintang mengikuti Bulan kemanapun gadis itu pergi. Pokoknya masalah ini harus selesai hari ini!
Bulan telah sampai di parkiran TPU, begitu pula dengan Bintang. Bulan melangkah menuju makam Viona dan Vania, sedangkan Bintang berjalan di belakang gadis itu, membiarkan apa saja yang akan di lakukan Bulan di sini.
"Hai Vio, gue dateng lagi ke sini. Sorry kalau gue jadi sering dateng kesini, apalagi datangnya dengan kondisi gue yang lagi kaya gini." ujar Bulan pada baru nisan.
"Entah mengapa gue ngerasa nyaman aja cerita sama lo, meskipun lo gak pernah jawab apapun sih hehe. Pasti dulu lo orang yang sangat menyenangkan ya, buktinya gue yang belum pernah ketemu lo aja ngerasa nyaman."
"Vio, apa dulu Bintang memperlakukan lo sama kaya dia memperlakukan gue? Ah pasti beda ya, karena lo pasti spesial banget di hati dia. Lo sama gue kan beda ya, lo yang di kejar dia sedangkan sekarang gue yang ngejar dia!"
"Viona, gue kecewa deh sama Bintang. Lo bisa bantuin gue buat omelin dia gak sih? Kasih tahu dia, gak perlu raguin lagi rasa yang gue punya buat dia, gue beneran sayang sama dia tulus kok."
"Lo sedih gak sih denger gue curhatin pacar lo? Pasti sedih dan cemburu ya? Maafin ya Vio, tapi gue bingung mau cerita kesiapa lagi, gue ngerasa sahabat gue yang lain pun gak percaya sama gue."
"Andai lo masih ada di sini Vio, eh tapi kalau lo masih ada gue gak mungkin curhat ke lo begini sih, kan lo pasti jadi kekasih Bintang bukan gue."
"Vio, kapan-kapan dateng ya ke mimpi gue, gue mau cerita banyak sama lo. Bahagia juga di sana ya, gue pamit dulu soalnya pacar lo ada di belakang tuh mungkin mau nemuin lo juga." seru Bulan lalu bangkit dan kembali berjalan ke arah mobilnya.
Rasanya sedikit lega mencurahkan isi hatinya tadi, meskipun masih ada rasa kecewa sedikit sih. Bintang terus mengikuti Bulan dari belakang, hingga di parkiran Bintang menarik tangan Bulan.
"Bulan, dengarin penjelasan aku dulu!" seru Bintang sedangkan Bulan sedang berusaha melepaskan cengkraman tangan Bintang.
"Gak perlu jelasin apa-apa, semua udah jelas. Kamu masih belum percaya sama aku, buat apa lagi?" tolak Bulan.
"Bukan begitu maksud aku, Bulan please maafin aku. Aku tahu aku salah, seharusnya gak ngelakuin itu."
Bulan tersenyum simpul, "Gak perlu minta maaf, karena apapun yang di lakukan seseorang itu pasti punya alesan masing-masing, kan?" seru Bulan semakin menambah rasa bersalah Bintang.
"Bulan please, jangan pernah tinggalin aku." mohon Bintang.
Bulan menggeleng, "Gak ada yang bilang aku akan ninggalin kamu Bintang, aku butuh waktu sendiri sebentar aja, kamu ngerti kan perasaan aku?"
Bintang mengangguk, "Nanti malam aku jemput untuk makan makan di rumah ya?" ajak Bintang dan Bulan menggeleng.
"Maaf Bintang, mamah papah ngajak aku makan malam di luar untuk ketemu sama teman lama mamah katanya." beritahu Bulan yang memang benar adanya begitu.
Bintang menghela napasnya, "Kabarin aku ya?" Bulan mengangguk lalu segera masuk ke dalam mobil karena cengkraman Bintang sudah terlepas.
Tanpa pamit lagi Bulan langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya. Karena sekarang sudah hampir magrib dan ia harus segera bersiap-siap untuk ikut makan malam bersama dengan teman mamahnya.
Menghabiskan waktu di jalanan, dengan jalanan yang cukup macet membuat Bulan sedikit lelah. Belum lagi saat sampai di rumahnya, Hanum menyuruh agar cepat bersiap-siap tanpa di beri waktu untuk beristirahat sebentar.
Hanum dan Brian menunggu anak gadisnya di ruang keluarga, setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam akhirnya Bulan sudah siap untuk ikut makan malam bersama dengan orang tuanya.
"Lagian kamu kemana dulu sih, tadi temen-temen kamu kesini, mereka bilang kamu sudah pulang sama Bintang, tapi gak sampai-sampai." seru Brian di dalam mobil karena mereka sudah mulai berjalan menuju lokasi makan malam.
"Pacaran!" sahut Bulan.
"Bulan, kamu sudah mulai kuliah. Mamah gak larang kamu berhubungan sama Bintang, tapi kamu harus tahu waktu juga, gak setiap saat kalian harus bersama bukan?" ujar Hanum.
Bulan mengangguk, "Iya mah, maaf." sahut Bulan pelan.
Tak memakan waktu lama karena jalanan sudah lenggang tidak terlalu macet, mereka sudah sampai di restoran yang sudah di pesan oleh teman Hanum, baru mereka yang sudah sampai.
"Mah kenapa harus ngajak Bulan sih, ini kan acara orang tua!" tanya Bulan yang heran mengapa ia di suruh ikut.
Bulan memicingkan matanya pada kedua orang tuanya, "Jangan bilang, kalian mau ngadain perjodohan Bulan sama anaknya temen mamah ya?" tuduh Bulan membuat Brian dan Hanum terkekeh.
"Kebanyakan nonton drama nih anak!" seru Brian.
"Tahu aneh deh kamu! Mamah sama papah kan tahu, kamu sudah punya Bintang buat apa juga nyariin jodoh buat kamu lagi, yang ada buat kakak kamu tuh!" seru Hanum.
Bulan terkekeh, "Yah abis kebanyakan novel yang Bulan baca begitu sih, ujung-ujungnya di jodohin sama anaknya temen orang tuanya!" Brian dan Hanum menggeleng.
"Tapi kenapa, Bulan di ajak?" tanya Bulan lagi.
Bersambung.....
Nah, pasti banyak yang kecewa deh di part ini, tapi gak papa deh hehe.
Hargai juga karya author ya, maaf kalau gak bisa ngikutin permintaan kalian satu persatu.