
Pagi harinya.
Salsa mulai terbangun dari tidur nya, dia menengok ke samping lalu mendapati Ryan ada di bawah tempat tidur, yang sedang tidur dengan boneka beruang Salsa.
"Ryan. Keluar! Keluar!" ucap Salsa sembari memukul mukul dengan boneka yang dia pegang.
"Berisik sekali." gumam Ryan dengan mata yang masih terpejam.
***
Sekolah SMA Huiming. Lebih tepat nya di perpustakaan nya. Ada Salsa yang sedang di ajari oleh Arka.
"Di sini," ucap Arka sembari menunjuk yang dia maksud lalu, "Tambah kan ke dalam, maka sudah terpecah kan." lanjut nya.
"Sudah bisa?" tanya Arka.
"Aku masih tidak bisa saat kau menjelas kan yang ke tujuh kali. Sekarang sudah yang ke delapan kali, aku sudah bisa. Terima kasih, Guru." jawab Salsa. Arka mengangguk kecil.
Tiba tiba Salsa membuka tas nya, mengambil sesuatu yang ada di dalam tas nya.
"Untuk ku?" tanya Arka.
Salsa mengangguk. "Di Try Out aku naik sepuluh peringkat. Jasa mu sangat besar, sampai tua pun aku tidak akan melupakan nya." ucap nya.
Lalu Arka mengambil pemberian dari Salsa. Lalu Arka buka isi di dalam kotak bekal, dia pun hanya terdiam melihat nya karena isi kotak itu adalah kue kering.
"Ini di nama kan, jasa seorang guru yang sangat besar dan tiada tara nya. Aku memanggang nya tadi pagi, kau yakin tidak mau mencicipi nya?" tanya Salsa.
Arka mengangguk kecil. Dengan ragu ragu dia mulai menyicipi kue pemberian Salsa. Arka hanya menggigit kecil kue itu, tapi setelah dia kunyah tubuh nya mulai beraksi merasa kan ketidak enakan di tubuh nya.
"Saking tidak enak nya sampai menangis. Tidak mungkin, kan?" tanya Salsa yang bingung dengan perubahan wajah Arka. "Pasti seseorang mengacau lagi saat aku tidak ada." lanjut nya menuduh Ryan.
Salsa yang penasaran dengan rasa nya pun, akhir nya menyicipi kue bikinan nya sendiri. "Renyah dan enak, tidak ada masalah." ucap Salsa yang meresa bawah tidak ada yang aneh pada kue nya.
"Jangan pikir sembarangan. Tubuh ku hanya sedikit tidak enak." alibi Arka. Padahal sebenar nya dia tidak bisa makan makanan manis, seperti kue kering contoh nya.
"Apa kah kau mau ke klinik?" tanya Salsa yang mulai panik.
"Tidak perlu. Aku sudah terbiasa. Jangan khawatir, mari kita lanjut mengerja kan soal." ucap Arka berusaha mengalih kan topik pembicaraan agar tidak membahas tentang nya lagi.
"Kau satu satu nya teman ku, tidak boleh ada sesuatu yang terjadi pada mu." ucap Salsa sendu.
Arka pun mengusap pucuk kepala Salsa, untuk menenang kan nya agar tidak khawatir dengan keadaan nya. "Sungguh aku tidak apa apa." ucap Arka agar Salsa tidak terlalu mengkhawatir kan nya.
"Semoga pertemanan kita berlangsung selama nya." ucap Salsa dengan menyodor kan jari kelingking nya, Arka pun langsung menautkan jari kelingking Salsa dengan jari kelingking nya. Simbol sebagai janji pertemanan mereka.
Teng teng teng. Bel berbunyi.
Entah ingin apa, Ryan saat ini menuju ke kantor Guru.
"Lapor." ucap Ryan di ambang pintu.
"Masuk." ucap Guru.
"Guru, Anda mencari ku?" tanya Ryan.
"Sekolah mendapat kan beberapa kuota undangan ke Universitas Tsinghua. Ada beberapa kandidat dan persaingan nya sangat ketat. Aku percaya pada mu. Kau lumayan bagus dalam segala kriteria. Cepat pulang untuk persiap kan diri, semakin cepat semakin bagus." ucap Guru memberi penawaran agar Ryan mau masuk ke Universitas ternama, karena hanya murid genius saja yang mempunyai ke sempatan mendapat kan kuota untuk berkuliah di sana.
"Guru, aku..." ucapan Ryan terhenti.
"Apa yang masih kau ragu kan? Apa kau tahu ini ke sempatan sebagus apa?" tanya Guru yang heran dengan pemikiran Ryan, ke sempatan yang bagus tapi malah dia sia sia kan.
"Karena Kakak mu? Jujur saja, Kakak mu Salsa, masalah nya bukan dia masuk ke Universitas yang mana, tetapi dia itu mampu masuk Universitas atau tidak. Mengerti? ... Ini hal besar. Jangan membuat diri mu terhambat karena Kakak mu." ucap Guru mencoba memberi Ryan nasehat.
"Aku akan mengajari nya, dia pasti bisa masuk Universitas." ucap Ryan mantap dengan perkataan nya.
"Pikir kan baik baik tentang seleksi jalur prestasi. Pikir kan dengan serius. Berikan nomor telepon orang tua mu, aku mau berbicara dengan mereka." ucap Guru, dia ingin agar Ryan tidak menyia nyiakan tawaran yang bagus ini.
"Orang tua ku biasa nya berada di luar negeri, sulit untuk menemui mereka. Mengapa tidak memanggil Salsa saja? Jika orang tua tidak ada, dia adalah wali ku." ucap Ryan dengan hati hati.
"Keluar." ucap Guru singkat. Karena dia bingung ingin menanggapi seperti apa.
"Sampau jumpa, Guru." pamit Ryan lalu keluar dari kantor Guru.
***
Malam harinya.
Saat ini Ryan sedang mengendap ngendap masuk ke dalam kamar Salsa, berjalan menuju meja belajar lalu mengambil buku catatan Salsa. Ryan mulai memfoto lembar demi lembar buku catatan Salsa. Setelah selesai dia keluar dari kamar Salsa lalu menuju kamar nya. Dia melihat foto di ponsel yang baru saja di ambil nya, entah apa yang dia lakukan hingga larut malam.
***
Keesokan harinya.
Lebih tepat nya, di kelas 12-5.
Teng.
Teng.
Teng.
Bel berbunyi, tanda nya waktu nya untuk istirahat.
"Berdiri."
"Sampai jumpa lagi, Guru!"
"Duduk. HUT sekolah akan segera tiba. Kalian siap kan lah sebuah pertunjuk kan, ini sangat bermakna. Kenapa? Di bilang bermakna semua nya langsung mau ikut? Sebermakna apa pun, apa bisa lebih bermakna dari belajar? Bagi siswa yang tertarik, bisa kumpul kan formulir pendaftaran nya pada ku. Kelas berakhir." ucap Guru mengakhiri pembicaraan nya, lalu keluar dari kelas 12-5.
Setelah Guru keluar, semua nya berebut mengambil formulir.
"Aku ingin bernyanyi, pasti sangat menyenang kan."
"Sudah kelas 12, siapa yang masih punya waktu untuk ikut kegiatan ini?"
"Salsa. Aku rasa kau lumayan cocok. Ayo, biar aku jelas kan pada mu. Aku pinjem pulpen mu ya, Arka. Meski penampilan mu ... sedikit pas pasan, tapi ke lebihan mu adalah kau punya waktu luang." ucap Dion mengejek Salsa.
"Aku juga ingin belajar." ucap Salsa.
"Biar ku beri tahu, menampil kan sebuah pertunjuk kan adalah hal yang sangat berarti. Bayang kan saja, seluruh murid sekolah akan melihat mu tampil di atas panggung. Di bayang kan saja rasa nya sangat seru. Saat HUT sekolah nanti, akan ada banyak alumni ternama yang datang. Kalau saja... kalau saja ada pencari bakat uanh melihat mu, dalam sekejap langsung mencapai puncak ke hidupan, bagus sekali, kan?" ucap Dion panjang lebar, dia mencoba mempengaruhi Salsa agar mau ikut mengisi formulir untuk menampil kan pertunjukan di HUT sekolah nanti.
.
.
.
...Bersambung... ...