
Setelah mengetahui fakta yang sangat mengejutkan membuat Bulan mengkhawatirkan Bintang sekarang. Bulan berpikir, dengan cara apa Bintang bisa bertahan sampai titik ini.
Masalah hidupnya sangat besar menurut Bulan, dan Bintang bisa melewati ini semua meskipun Bulan tahu Bintang tidak sendiri karena Bintang memiliki sahabat-sahabat yang sangat care pada dia.
Kalau Bulan yang ada di posisi Bintang, mungkin Bulan sudah mengakhiri hidupnya kali. Bulan saja yang sehari tidak di telepon orang tuanya bisa marah, apa lagi seperti Bintang yang tidak memiliki kesempatan untuk menerima perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.
Setelah pulang sekolah nanti, Bintang akan mengajak Bulan untuk ke rumahnya dan bertemu dengan mamah nya. Bintang berharap mamahnya bisa menerima Bulan seperti beliau menerima Manda selama ini.
Rasanya lega saat Bintang sudah menceritakan semua tentang rahasianya yang selama ini jaga. Bintang merasa omongan Manda waktu itu benar, Bulan bukan perempuan yang akan membuka rahasia seseorang ke yang lain.
Saat ini jam pelajaran sedang berlangsung, tetapi saat ini kelas Bulan sedang tidak ada guru pengajar alias jam kosong karena guru pengajar tidak datang hari ini. Jam kosong adalah waktu kedua setelah istirahat yang membuat siswa senang.
Jam kosong di kelas Bulan di manfaatkan oleh Hendra dkk mengadakan konser dadakan, ada pula yang sedang bermain game di ponsel masing-masing ada juga yang tengah merumpi seperti Bulan dkk.
"Man, nyokapnya Bintang suka apa?" tanya Bulan.
Manda yang mendengar pertanyaan itu langsung menatap Bulan sebentar lalu mengalihkan pandangannya, ia bingung harus menjawab apa. Manda tidak tahu kalau Bulan sudah tahu semuanya tentang keluarga Bintang.
"Nyokapnya Bintang gak ada di Indonesia Lan." jawab Manda membuat Bulan menaikkan alisnya.
Manda berbohong lagi? Eh tunggu, pasti karena Manda kira gue belum tahu semuanya batin Bulan.
"Man, gue udah tahu semuanya. Makanya gue tanya sama lo, biar gue juga bisa di terima beliau seperti beliau terima lo." ujar Bulan pelan agar tidak ada yang mendengar.
Manda kaget dengan itu semua, dari mana Bulan tahu? Karena Andre tidak tahu masalah ibunya Bintang, yang Andre tahu cuma sebatas ayah Bintang menikah lagi itu saja.
"Bintang udah cerita semuanya sama gue waktu ulang tahun Alex, Man." ujar Bulan tahu kalau Manda bingung dari mana Bulan tahu tentang itu.
Manda menarik napasnya menetralkan detak jantungnya yang tadi sempat berdetak terlalu cepat. Mutia yang mendengar pembicaraan mereka terlihat bingung, karena Manda tidak menceritakan tentang ibunya Bintang. Manda cuma menceritakan tentang Clara.
"Emang nyokapnya Bintang kenapa?" tanya Mutia dengan nada suara yang lumayan keras sampai sebagian siswa melihat ke arah mereka.
Bulan langsung menutup matanya dan menggeleng, entah apa maksudnya Bulan begitu. Mungkin maksudnya tak habis pikir dengan Mutia.
"Lo bisa gak sih kalau ngomong suaranya kecilin! Budek lama-lama gue temenan sama lo!" gerutu Manda kesal dengn respon Mutia.
Mutia hanya menyengir, "Iya sorry, gitu aja marah, gak laku lo kalau galak terus!" cibir Mutia.
"Kaya lo laku aja!" cibir balik Manda membuat Bulan menggeleng lagi.
Manda dan Mutia selalu begitu, tetapi entah mengapa mereka masih bertahan berteman sampai sekarang padahal selalu selisih paham.
"Jadi apaan Man? setelah pulang sekolah nanti gue mau ke sana." beritahu Bulan tujuannya menanyakan hal itu.
Manda pun kaget, sama seperti Bintang. Manda khawatir ibunya Bintang menyakiti Bulan nantinya. Karena sejak kejadian itu, ibunya Bintang tidak suka melihat perempuan asing.
Manda menggeleng, "Gue rasa gak perlu kesana deh Lan." ujar Manda mencegah Bulan agar tidak menemui ibunya Bintang.
Bulan yang melihat respon Manda mengangkat alisnya seakan bertanya, memangnya kenapa.
"Dia gak suka di jenguk siapapun Lan."
"Cuma suka di jenguk lo, maksudnya?"
Manda pun bingung dengan respon Bulan, karena sepertinya Bulan terlihat sedikit emosi terdengar dari nada suaranya.
"Bukan gitu Lan. Gue takut lo terluka, entah fisik atau hati nantinya." Jujur Manda memberitahu kekhawatirannya agar Bulan tidak salah paham maksud ia mencegah Bulan agar tidak menemui ibu Bintang.
Bulan menarik napasnya, seakan meredakan emosinya yang tadi sempat muncul. Bulan kira Manda melarangnya karena tak suka Bulan mendekati ibunya Bintang dengan maksud tertentu tetapi Bulan salah, Manda hanya ingin melindunginya.
"Bintang udah izinin?"
Bulan mengangguk.
Manda menarik napasnya, "Kalau Bintang udah izinin, yasudah. Nyokapnya suka mawar putih sama permen kiss. Gue kalau kesana selalu bawa itu." jelas Manda dan di anggukin oleh Bulan.
Mutia yang sejak tadi tidak di ajak bicara hanya bisa menggerutu tak jelas, ia akan menanyakan soal ini pada kekasihnya nanti dan pasti kekasihnya tahu tentang ini.
"Sudah ngobrolnya sampe gue di lupain?" gerutu Mutia saat melihat Manda dan Bulan selesai berbicara.
Bulan menyengir tak berdosa, "Abis kalau lo di ajak, suara lo terlalu cempreng!" cibir Bulan membuat Manda mengulurkan tangannya mengajak Bulan 'tos'.
"Bener tuh, mulut atau toa itu gede banget." cibir Manda.
Mutia yang di ledekin seperti itu sama kedua sahabatnya langsung memajukan bibirnya, "Ih Hendra, Bulan sama Manda ngeselin!" gerutu Mutia tak sadar mengadu pada Hendra membuat Bulan dan Manda saling tatap.
"Anjay Lan, lo denger gak tadi?" sahut Manda dan di anggukin oleh Bulan.
"Lo pacaran ya sama Hendra?" tuduh Bulan pada Mutia dan langsung membuatnya menutup mulut.
Hendra yang mendengar namanya di panggil oleh kekasihnya langsung menghampiri ke meja Mutia dengan senyuman yang merekah.
"Siapa yang berani jahilin Mutia, hah?" ujar Hendra sambil menggebrak meja. Bukannya membuat takut malah membuat siapapun yang melihat tertawa.
"Lo apaan sih, sono pergi ih." usir Mutia alibi agar acara backstreet nya tidak ketahuan.
Hendra yang di usir menaikkan alisnya, "Tadi di panggil, giliran di samperin malah ngusir emang aneh nih bocah!" gerutu Hendra.
Sebelum Hendra pergi dari sana, Bulan melayangkan pertanyaan, "Lo pacaran ya sama Mutia?" tanya Bulan sedikit kencang membuat perhatian siswa mengalih ke arah mereka.
Hendra dengan cepat menggeleng, "enggak anjay, lo kan tahu sendiri dia sok jual mahal sama gue!" ujar Hendra membuat Mutia menggerutu dalam.
"Sialan, malah menjatuhkan gue!" gerutu Mutia dalam hati.
"Yah lah, gue mana mau sama modelan cowok kaya lo!" balas Mutia sengit.
"Lo berdua padahal cocok lo kalau gue lihat-lihat. Udah jadiin pacar aja Dra." ujar Wawan.
"Tembak, tembak." sorak teman sekelas Bulan.
Hendra tersenyum sedangkan Mutia menatap Hendra dengan tajam, bermaksud agar Hendra tidak melakukan itu di sini. Mutia tidak mau kehidupannya di sekolah menjadi tidak tenang.
"lo semua berisik!" ujar Hendra membuat sorakan itu terhenti.
Clara yang berada di dalam kelas itu hanya bisa diam, sejak tadi ia hanya fokus pada ponselnya tanpa ikut menimbrung dengan teman-temannya yang lain. Entah karena tidak ada yang mau menemaninya atau karena Clara sendiri yang malas berbaur.
"Gue kangen kita bertiga lagi, Man, Vio." ujar Clara pelan sambil melihat ke arah meja Bulan.
Dulu memang Manda, Clara dan Viona adalah sahabat. Semua berubah saat Clara tahu Viona menjadi pacar Bintang. Padahal Viona tahu, kalau Clara menyukai Bintang.
Awalnya Manda pun memihak pada Clara, dan menjauhi Viona setelah mendengar bahwa Viona berpacaran dengan Bintang. Tetapi lama kelamaan situasi itu berubah, Manda kembali bersahabat dengan Viona setelah mengetahui kasus mamah Clara yang merebut papah Bintang.
Manda tak suka, karena mamah Bintang sudah di anggap ibunya sendiri sejak dulu. Mamah Bintanh waktu itu sangat terpukul, makanya Manda menjauhi Clara. Sejak saat itu lah pertemanan ketiganya hancur padahal dulu di sekolah sering di sebut bestfriend goals.
Bersambung.....