
Zevanya buru-buru keluar dari kelas begitu jam pelajaran usai. Rara yang kesulitan mengikuti memutar bola mata jengah. Perasaan sahabatnya itu cukup merepotkan, terutama dengan curhatan-curhatan yang tiada habisnya setiap hari.
“Zee, tunggu kampret!” Maki Rara ngos-ngosan.
“Cepet, Ra. Keburu kak Adnan pulang.” Zevanya berlari meninggalkan sahabatnya sedang menyumpah serapah. Seperti keinginannya, Zevanya melihat Adnan berjalan keluar dari kelas bersama teman-temannya.
Senyum Zevanya merekah, jantungnya mulai menggila untuk cowok tersebut. Dia berhenti sejenak untuk mengatur nafas, lalu melangkah hati-hati sambil meremas kedua tangannya.
“Hai, kak.” Sapa Zevanya ramah.
Segerombolan kawanan yang terdiri dari empat orang tersebut menoleh dan tersenyum tipis. “Hai, Zee.” Balas Adnan tak kalah ramah.
Teman-teman cowok itu mulai ricuh menggoda. Adnan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bergitu juga dengan Zevanya, menunduk malu serta wajahnya memerah. Adnan mengusir mereka pulang duluan, sehingga akhirnya hanya tinggal mereka berdua saja.
“Hem, kakak nggak kenapa-napa, kan?” Zevanya memberanikan diri untuk bertanya. Keduanya berjalan beriringan di koridor sekolah.
“Nggak apa-apa, kok. Santai aja.” Zevanya menghela nafas lega.
“Zee…” Teriakan itu tiba-tiba terhenti. Rara menyengir lebar kala kedua remaja tujuannya menoleh padanya. “Kalian pulang bareng? Gue duluan ya…”
“Eh, Ra…, bukan.” Zevanya menggeleng cepat.
“Iya, Zee pulang sama gue.” Adnan menambahkan sambil memegang pergelangan tangan Zevanya. Kedua cewek itu saling berpandangan dan melebarkan mata. Setelah sekian lama, akhirnya Zevanya mendapatkan respon sebaik itu.
“Kak…” Zevanya terbata.
“Lo pulang sama gue.” Adnan tidak menerima penolakan.
“Oke. Kalau begitu, gue duluan.” Rara tersenyum lebar. “Have fun, ya.” Tambahnya sambil mengedipkan mata menggoda Zevanya.
“Oke, hati-hati.” Balas Adnan. Zevanya melambaikan tangan malu-malu. Jantungnya tidak lagi bisa di ajak bekerja sama. Zevanya takut jika Adnan mengetahui degupannya yang menggila. “Lo nggak dijemput atau bawa kendaraan sendiri, kan?”
Zevanya menggeleng cepat. “Nggak, kak. Tadi gue ke sekolah bareng Rara. Rumah kita searah.” Jawabnya lengkap. Agar Adnan mengetahui sedikit demi sedikit tentangnya.
“Bagus!” Adnan tersenyum tipis.
“Gue cuma dikasih surat peringatan. Nggak di skors.” Jawaban Adnan seperti angin segar untuk Zevanya. Dia sangat senang, besok mereka akan bertemu lagi. Zevanya sangat frustasi kalau cowok itu di skors, mereka tidak bisa bertemu sebelum hukumannya berakhir. Sangat menyiksa. Zevanya menerka-nerka apa saja yang dilakukan cowok idamannya selama di hukum. Pikiran-pikiran jahatnya sering kali membuatnya uring-uringan. Adnan bukan tipe cowok yang gemar menyebarluaskan kegiatannya di sosmed.
Meskipun Zevanya mantengin akun Adnan tiap saat, tidak akan merubah apapun. Postingannya saja hanya beberapa. Adnan berbeda dengan teman-temannya yang sering posting kegiatan. Semua yang dekat dengan Adnan, Zevanya mengikuti akun sosmednya. Berharap di postingan mereka ada Adnan.
Lebih parah, Zevanya mengaktifkan notifikasi akun-akun tersebut kala membuat postingan, untuk memudahkannya mengintai Adnan. Cintanya untuk Adnan sudah berurat, terutama waktu Rara mengatakan bahwa Adnan juga tertarik padanya.
Meskipun tidak sampai tahap dekat, namun jika mereka bertemu Adnan selalu ramah padanya. Berbeda jauh pada cewek-cewek yang mendekatinya, Adnan menyueki mereka. Tapi, Zevanya tidak berani meminta cowok itu untuk mengikuti balik sosmednya atau meminta merecoki seribu pesan perhatian.
Hanya sahabatnya yang tahu bagaimana perasaan Zevanya untuk Adnan.
“Makasih,” Zevanya berguman malu-malu ketika Adnan membuka pintu mobil untuknya. Mobil sport warna hitam metallic, Zevanya nyaris sesak nafas. Dia tidak mengira akan secepat ini duduk di samping cowok itu di dalam mobil kesayangannya.
“Turun!”
Sebuah suara mengembalikan kesadaran Zevanya. Pintu mobil itu kembali dibuka oleh orang yang berbeda. Adnan yang tadinya hendak masuk dari pintu seberang kembali keluar dan menghampiri cowok pengacau
tersebut.
“Zevanya pulang sama gue!” Adnan menjawab.
“Turun, Zevanya!” Suara itu meninggi penuh amarah. Zevanya beringsut takut, namun tangan cowok itu memaksa keluar.
“Masuk, Zee.” Adnan menghentikan cowok tersebut. “Dia udah sama gue dari tadi, cari cewek lain buat lo anter pulang!”
Cowok di hadapan Adnan menyeringai setan. “Gue mau dia! She is mine!” Lalu menarik lengan Zevanya menjauh dari Adnan.
“Ryu!” Adnan emosi.
***
Medan, 10.08.19