COOL BOY

COOL BOY
BAB 27



Pagi hari yang sangat cerah sepertinya, lihat saja baru pukul 7 pagi matahari sudah sangat terasa terik seperti ini. Secerah senyum Bulan pagi ini. Entah mengapa mood nya sedang bagus pagi ini, apa karena ia sudah mengetahui fakta yang beberapa hari lalu membuatnya sangat penasaran.


Bulan belum bisa menentukan apakah akan berbalik memperjuangkan Bintang atau malah berhenti di sini. Hatinya masih tetap terpaku pada Bintang begitu pula Bintang yang hatinya masih terpaku pada Viona.


Seorang gadis cantik yang kata Andre memiliki kepribadian yang sama persis dengan Bulan. Sekarang yang buat Bulan penasaran adalah bagaimana wajah Viona dan ada masalah apa sebenarnya Clara dengan Bintang.


Pagi ini, Bulan sekolah kembali di antar oleh Andre. Bulan sudah menolak karena takut merepotkan tetapi jawaban Andre tetap sama, "Untuk calon pacar apasih yang enggak" begitulah.


Di sepanjang perjalanan keduanya tidak berhenti berbincang, selalu ada saja yang mereka bahas kalau bertemu. Bukankah itu adalah sesuatu kenyaman juga dalam hubungan? Cocok di ajak bicara membuat komunikasi lancar.


Saat sampai di depan gerbang sekolah, Bulan langsung turun dari motor besar milik Andre dan memberika helm yang tadi ia pakai kepada Andre.


"Thanks banget loh ya, serasa punya kang ojek gue sekarang." kekeh Bulan dan di sambut kekehan pula oleh Andre.


"Gak papa di anggap kang ojek, asal ongkosnya di bayar pakai cinta gue rela sampai kapan pun." sahut Andre membuat tangan Bulan reflek memukul lengan Andre.


"Ih, kita udah bahas ini kemarin. Lo harus ingat ya, cari pacar dan kenalin ke gue!" Bulan mengingatkan Andre tentang kemarin.


"Emangnya lo udah mutusin buat balik ke Bintang lagi? kemarin aja pas di ngajakin pacaran lo tolak!"


Bulan menggeleng, "Belum sih, yah tapi kan gue gak mau lo terpaku juga sama gue. Gak selesai-selesai cerita kita kalau kita semua terpaku sama orang yang gak mungkin kita gapai."


"Yah gak papa, biar episodenya panjang."


Bulan kembali memukul Andre karena gemas, bukannya mengaduh Andre malah terkekeh. "Malah ketawa lagi ngeselin, bukannya mikir." ketus Bulan.


"Iya Bulan gue paham kok, gue ngejalanin ini kaya air mengalir aja. Selagi lo belum pacaran sama Bintang, lo bukan milik siapapun dan gue masih boleh deket sama lo kan?"


"Boleh, tapi ingat gue gak bisa pastiin kalau perasaan gue bakal berubah buat lo nantinya."


"Iya Bulan, gue akan inget selalu tentang itu." ujar Andre sambil mengelus lengan Bulan dan tersenyum tulus.


"Yaudah sana ke sekolah, jangan bolos!"


Andre memberi hormat pada Bulan, "Siap cantik." ucapnya membuat kedua terkekeh bersama.


Saat ingin memakai helm, Andre dan Bulan di kejutkan dengan kedatangan seseorang. Hal itu membuat Andre menghentikan kegiatannya.


"Andre?" sapa Clara.


Bulan menatap Clara dengan lekat sedangkan Andre menatap Bulan. Andre sama sekali tidak menjawab sapaan itu, membuat Bulan menyenggol lengan Andre.


"Kalian lagi deket ya?" ujar Clara sambil matanya menatap Andre dan Bulan bergantian.


"Enggak kok kita cuma temen baik, btw kok lo bisa kenal Andre?" tanya Bulan pura-pura tidak tahu.


"Iya, Andre dulu temen gue juga. Memangnya Andre gak ngasih tahu?"


"Gak penting." sahut Andre.


Bulan lagi-lagi menyenggol Andre mengingatkan agar tidak bersikap begitu terhadap Clara.


Bukannya marah mendengar cibiran itu Clara malah terkekeh, "Sekarang memang gak penting, tapi dulu gue sangat penting bukan buat lo?" ujar Clara.


Bulan bingung dengan kata-kata itu, apakah sebelumnya mereka pernah berpacaran? itulah yang ada di kepala Bulan sekarang.


Tiba-tiba datang lagi seseorang dan membuat ketiganya langsung menatap orang tersebut. Siapa lagi kalau bukan Bintang yang menghampiri mereka.


"Ikut gue!" ujar Bintang lalu kembali menarik tangan Bulan.


Andre yang melihat itu tidak terima dan berusaha menepis tarikan Bintang hingga terlepas.


"Jangan kasar sama cewek!" ujar Andre membuat Bintang tersenyum miring.


"Cocok lo berdua!" ujar Bintang sambil menunjuk Andre dan Clara bergantian.


"Lo gak boleh deket-deket mereka! Bahaya!" desis Bintang pada Bulan.


Bulan menatap ketiganya bergantian, bingung sebenernya ada masalah apa di masa lalu hingga permusuhan mereka sangat kental seperti ini.


Bintang kembali menarik tangan Bulan dan membuat Andre ingin menepis kembali tetapi Bulan menggeleng dan membiarkan tangannya di tarik Bintang lalu kakinya mengikuti arah kemana Bintang pergi.


Andre yang melihat itu menghela napas kecewa karena tidak bisa melindungi Bintang, dan hal itu pun di lihat oleh Clara.


"Lo bersaing lagi sama Bintang?" tebak Clara.


Andre tidak menjawab dan segera memakai helmnya agar cepat pergi dari sana, terlalu malas melihat wajah Clara.


"Lo gak belajar dari masa lalu? Lo gak akan menang Ndre kalau lo gak punya teman buat kerja sama." bisik Clara pada Andre.


"Bacot!" bentak Andre lalu menyalakan mesin motornya dan melaju cepat meninggalkan Clara yang tersenyum miring.


"Oh ternyata Bulan yang berhasil ngegantiin posisi Viona." ujar Clara pada dirinya sendiri.


Sedangkan di tempat lain, Bulan tengah duduk di meja kantin bersama dengan Bintang dan hal itu membuat siapa saja yang melihatnya berkomentar.


Bintang masih terus menatap Bulan sedangkan orang yang di tatap terus saja menghindar.


"Bulan."


"Bintang."


Ujar keduanya secara bersamaan.


"Lo duluan," ujar Bintang.


Bulan menggeleng, "Lo aja."


"Ladies first." seru Bintang dan membuat Bulan menghela napas.


"Setan berwujud manusia." seru Bintang cepat membuat Bulan menggeleng.


"Yang bener Bintang!"


"Itu bener!"


Bulan menghela napasnya lagi, berbicara dengan Bintang memang harus penuh dengan sabaran.


"Lo mau tahu?" ujar Bintang dan membuat Bulan mengangguk.


"Setelah lo jadi pacar gue."


"Maksudnya?" ujar Bulan bingung.


Belum sempat Bintang berbicara lagi, suara Bulan kembali terdengar lagi tetapi ada nada sedih di sana.


"Lo mau, gue jadi pacar lo, tapi hati lo bukan buat gue. Percuma Bintang, gue gak bisa ngebagi perasaan itu buat siapapun." Bulan menyadari kalau ia egois tetapi itulah yang Bulan inginkan, menjadi satu-satunya.


Siapa sih di sini yang mau jadi orang kedua di hati seseorang yang sangat kita cintai?


Bintang menyerengitkan dahinya, "Maksud lo?"


Bulan menarik napasnya, "Iya, lo masih terpaku sama mantan lo yang dulu kan?"


Pertanyaan itu membuat kejadian di masa lalu berputar kembali di otak Bintang. Kejadian yang sangat membuatnya hancur.


"Kenapa sih Bintang lo gak bisa buka hati lo, gue tahu lo ngelakuin ini biar gue gak deket-deket sama Andre alias lo terpaksa!"


"Buat apa Bintang menunggu orang yang gak bakal kembali lagi ke lo, seharusnya lo ikhlasin dia biar dia senang di langit sana." emosi Bulan meluap entah mengapa.


Bintang yang mendengar perkataan "senang di langit sana" membuatnya semakin bingung, dari mana Bulan tahu tentang ini.


"Stop buat nyalahin diri lo sendiri Tang,semua ini sudah takdir! Gak ada gunanya lo nutup diri Bintang!" ujar Bulan.


Bintang menggeleng, "Lo tahu dari mana masalah ini?" bentak Bintang membuat siapapun di sana melihat ke arah mereka.


Bulan tidak menjawab ia hanya menahan air matanya agar tidak jatuh. Mengingat apa yang telah Andre ceritakan kemarin.


"Lo tahu dari mana!" bentak Bintang lagi sambil menggebrak meja membuat Bulan terlonjak kaget.


Manda dan Mutia datang menghampiri meja mereka, dengan cepat Mutia memeluk Bulan yang sudah menangis. Sedangkan Manda berdiri berhadapan dengan Bintang.


"Brengsek, lo buat nangis Bulan lagi!" ujar Manda sambil memukul lengan Bintang.


"Man, ini bukan salah Bintang ini salah gue!" ujar Bulan membela Bintang agar tidak kena pukulan dari Manda.


"Stop buat ngebelain dia Bulan! Dia udah kelewatan dan gue gak bisa ngebiarin itu!" seru Manda sambil menatap Bintang tajam.


Bulan berdiri sambil menatap Manda dan Bintang secara bergantian, "Stop juga buat lo yang gak pernah jujur dengan hubungan kalian!"


"Maksud lo? Gue gak ada hubungan apapun sama Bintang. Lo nggak percaya itu?" ujar Manda tidak terima di tuduh seperti itu.


"Lo berdua sahabatan sejak kecil, tapi kenapa lo selalu bilang gak dekat sama Bintang? Apa alasan lo nutupin ini sama gue Man?"


"Gue terlalu gak cocok buat Bintang? makanya lo gak mau ngasih tahu apapun soal Bintang ke gue?" ujar Bulan lirih.


Manda menggeleng, "Bukan gitu Lan, lo salah."


Bulan mengangguk, "Iya emang gue selalu salah Man, gue tahu. Seharusnya gue gak terus mempermalukan diri gue buat ngejar Bintang seperti apa yang selalu lo bilang sama gue!"


"Bulan-" ucapan Manda terpotong karena Bulan menggeleng.


"Gue udah tahu sosok yang lo maksud itu, sosok yang sangat sempurna di mata kalian kan? Sangat beda jauh kalau di bandingkan dengan gue!"


Manda menggeleng sedangkan Bintang meremas tangannya sendiri. Kejadian demi kejadian berputar jelas di otaknya bagai kaset rusak dan itu membuat kepala Bintang sedikit sakit.


"Bulan, lo-"


"Viona, itu kan nama gadis yang masih ada di hati lo?" ujar Bulan sambil menunjuk dada milik Bintang.


"Bintang, jujur hati gue masih buat lo tapi selama lo gak bisa nge ikhlasin kepergian Viona selama itu pula gue gak bisa terima lo!"


"Biarin gue yang tersiksa sama perasaan gue sendiri, ini adalah konsekuensinya. Mengejar seseorang tanpa mencari tahu dulu bagaimana kehidupan di masa lalunya."


"Man, tenang gue gak akan marah sama lo. Gue cuma kecewa, dan gue harap kekecewaan gue ini bisa lo jadiin pelajaran ke depannya!"


Bulan menatap Mutia, "Lo belum tahu masalah ini atau lo juga sebenarnya sudah tahu?" Tanya Bulan kepada Mutia.


Mutia mengangguk tidak berani menjawab.


"Berarti cuma gue yang gak tahu di sini? Arkana, Angga dan Hendra pun pasti tahu karena kalian sahabatan sejak dulu."


"gue beneran gak di anggap sama lo semua." ujar Bulan sangat kecewa.


Manda menggeleng, "Bulan, gue bisa jelasin semuanya sama lo."


Bulan pun menggeleng, "Gak perlu Man, semua udah jelas. Gue juga gak bisa nyalahin siapapun karena kalian semua pasti punya alesan kan untuk ini?"


"Apa lagi nyalahin Bintang karena masa lalunya, gue gak berhak sama sekali untuk itu. Gue cuma ngingetin sama Bintang, supaya berhenti merasa bersalah karena kejadian di masa lalu. Kalau terus begitu hidup dia enggak akan damai."


"Yaudah kalau gitu gue balik ke kelas duluan ya. Sorry sudah bikin kegaduhan di pagi hari ini." pamit Bulan lalu pergi begitu saja dari sana.


Membuat siapapun yang melihat merasa kasian pada Bulan. Cewek setulus Bulan bisa di bohongin sama orang terdekatnya, membuat mereka tidak habis pikir.


Bersambung.... 


Jadi sebenernya siapa sih Clara itu ih!