
"Abaaang, kok aku gak di bangunin, sih?" teriak Agatha ketika berlari menuruni tangga. Hampir jam tujuh dan Agatha baru saja bangun.
"Udah jam segini pasti telat, nih." Agatha terus menggerutu saat menatap jam yang menunjukkan pukul 06.55. Lima menit lagi bel masuk berbunyi, dan dia belum bersiap sama sekali.
Keenan yang sedang sarapan hanya menggelengkan kepalanya heran. Kenapa jadi dia yang salah?
"Kok jadi Abang? Salah sendiri bangun kesiangan." Dengan santai, Keenan melanjutkan sarapannya. Tidak mempedulikan adiknya yang terus menggerutu.
Agatha menyambar roti tawar yang ada di atas meja dan cepat-cepat memakannya.
"Pokoknya salah Abang karena gak bangunin aku!"
"Yaudah, ayo berangkat sekarang. Abang anterin."
Agatha melangkah kembali menaiki tangga masih dengan mengunyah rotinya.
"Tunggu bentar. Bodoamat lah gak usah mandi biar cepet!"
"Jorok banget sih, dek!" teriak Keenan menatap punggung Agatha yang sedang berlari menaiki tangga.
"Biarin, yang penting tetep cantik," Agatha mengibaskan rambutnya sebelum masuk ke dalam kamarnya. Dia harus cepat bersiap. Gadis itu benar-benar tidak mandi karena waktu yang sudah sangat mepet.
...***...
Agatha sampai di sekolah. Gadis itu berdiri di depan gerbang sembari menatap jam yang bertengger di pergelangan tangannya. Pukul 07.35.
"Gila, telat setengah jam. Udah pasti dihukum," gumam Agatha panik. Ini pertama kalinya gadis itu terlambat ke sekolah. Agatha adalah murid yang rajin, tidak pernah sekalipun melanggar peraturan.
Bu Tina, guru BK datang tidak lama kemudian. Beliau berjalan menghampiri Agatha yang masih berdiri di depan gerbang.
"Kamu, cepat masuk!" perintah Bu Tina.
Gerbang dibuka, Agatha segera melangkahkan kakinya masuk.
"Kenapa telat?" tanya Bu Tina sembari menatap tajam Agatha.
Ditatap seperti itu membuat Agatha sedikit gugup.
"Itu Bu, kesiangan." Agatha meringis sambil menunduk, tidak berani menatap wajah garang Bu Tina.
"Kamu niat sekolah atau tidak?"
"Niat kok, Bu. Buktinya saya udah sampai di sekolah," jawab Agatha pelan.
"Sudahlah, sekarang kamu berdiri di lapangan sampai jam istirahat," perintah Bu Tina tegas.
"Yah, jangan dong Bu. Kok lama banget?"
"Itu konsekuensi kamu, salah sendiri telat."
Agatha pasrah, gadis itu berdoa semoga matahari sedikit berbaik hati agar tidak membuatnya kepanasan.
"Iya, Bu."
"Saya akan mengawasi kamu. Jangan coba-coba kabur." Tatapan Bu Tina menyiratkan kalau sampai Agatha kabur, gadis itu tidak akan bisa lolos dari hukuman yang lebih berat. Setelahnya Bu Tina pergi entah kemana.
"Apes banget gue hari ini. Panas banget lagi. Kenapa gak mendung aja, sih?" gumam Agatha kesal. Dengan malas, gadis itu berjalan menuju lapangan.
...***...
Sudah satu jam Agatha berdiri di tengah-tengah lapangan. Wajahnya terlihat pucat dengan peluh yang terus menetes. Seragamnya bahkan sudah basah oleh keringat. Jam istirahat masih satu jam lagi. Mengapa waktu terasa sangat lambat?
Dari tempatnya berdiri, Agatha bisa melihat Farhan sedang berjalan melewati lapangan.
Kali ini Farhan sengaja izin pada guru yang sedang mengajar untuk pergi ke ke toilet. Padahal, pemuda itu tidak benar-benar pergi ke toilet. Dia justru asyik tebar pesona pada gadis-gadis yang berada di koridor. Apalagi anak-anak kelas X ada yang sedang berolahraga.
Pandangan mereka tidak sengaja bertemu. Farhan tentu saja menghentikan langkahnya. Pemuda itu tersenyum sembari melambaikan tangannya pada Agatha.
"Eh, ada Agatha. Lagi dihukum ya?" tanya Farhan sembari tersenyum mengejek.
"Mata lo gak bisa lihat? Udah tau masih aja nanya!" bentak Agatha.
Jangan salahkan Agatha yang tiba-tiba berubah menjadi galak. Sinar matahari membuat tubuhnya panas. Ditambah kehadiran Farhan semakin membuat otaknya mendidih.
"Jutek amat sih, Neng. Lagi PMS ya?" goda Farhan.
"Mending lo pergi! Bikin suasana tambah panas aja!" ketus Agatha.
"Iya iya, gue pergi. Bye, Beb." Farhan melambaikan tangannya sebelum berlalu meninggalkan Agatha.
"Jijik," gumam Agatha.
Kenapa bukan Elvano saja yang menghampirinya? Kenapa harus Farhan si playboy yang datang? Agatha mendengus kesal. Hari ini benar-benar sial.
...***...
Farhan suka banget godain Aga, jangan-jangan suka?