
Setelah pulang sekolah, Agatha pergi ke minimarket untuk membeli mie instan. Gadis itu kelaparan karena tidak ada makanan di rumah.
Saat sedang berkeliling diantara rak-rak makanan, Agatha melihat seorang pemuda yang sangat dia kenal. Pemuda itu sedang berdiri tegak di depan rak yang terdapat beberapa pembalut.
Dari postur tubuhnya, Agatha jelas tahu bahwa pemuda itu adalah Elvano.
Agatha tersenyum, kalau jodoh pasti bertemu. Gadis itu melangkah menghampiri Elvano. Sedikit heran karena Elvano berdiri di depan rak pembalut.
"Dor!" Agatha menepuk pundak Elvano kencang.
"****!" Elvano yang kaget pun tidak sengaja mengumpat.
Agatha terkekeh, wajah Elvano terlihat menggemaskan.
"Ngapain sih, lo?" ketus Elvano. Mengapa dia harus bertemu dengan Agatha lagi?
"Maaf, maaf. Lagian kamu ngapain bengong di sini? Mau beli pembalut?" tanya Agatha iseng.
Elvano mendengus kesal. Dia bingung harus menjawab atau tidak pertanyaan Agatha. Sebenarnya dia tidak suka bertemu Agatha di tempat ini. Tetapi, Elvano pun sedang membutuhkan pertolongan orang lain. Dia bingung harus melakukan apa.
"Bukan urusan, lo!" Seperti biasa, Elvano selalu menjawabnya dengan nada dingin.
"Kenapa, sih?" Agatha memaksa, merasa aneh melihat tingkah Elvano yang tidak biasa.
Elvano masih diam, tatapannya terus tertuju pada barisan rak pembalut yang sama sekali tidak dia ketahui. Ini semua salah Elisa. Gadis itu dengan santainya meminta Elvano membelikannya pembalut. Sungguh, lain kali Elvano tidak akan mau melakukannya lagi.
Tidak ada pilihan, pemuda itu tidak tahu mana pembalut yang biasa Elisa beli. Dan lagi, dia tidak mungkin membeli semuanya, kan? Mau tidak mau Elvano harus menanyakannya pada Agatha. Sesama perempuan pasti tahu, begitu pikir Elvano.
Dengan berat hati, Elvano menatap Agatha yang berdiri di sampingnya. Masih dengan wajah datarnya, Elvano mencoba menanyakan sesuatu pada Agatha.
"Lo biasanya pakai yang mana?"
Agatha mengernyit, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Elvano.
"Hah? Maksudnya?"
"Itu," lirih Elvano dengan wajah memerah. Tangannya menunjuk pembalut yang ada di depannya.
"Kamu ngapain nanya-nanya?" heran Agatha. Apa Elvano tidak salah?
"Jawab aja kenapa, sih?" ketus Elvano. Apa Agatha tidak mengerti bahwa ia sangat malu?
"Coba ngomongnya yang lembut dikit," goda Agatha sambil tersenyum manis. Kapan lagi dia bisa melihat wajah datar itu memerah karena malu.
Elvano berdecak, Agatha benar-benar menyebalkan.
"Lo kalau PMS pakai pembalut yang mana?" tanya Elvano dengan ketus. Pemuda itu sama sekali tidak tahu caranya bersikap lembut.
"Hah?" Apalagi ini? Bersayap?
Elvano menatap bingung ke arah Agatha. Otaknya berusaha keras untuk mencerna perkataan Agatha. Tetap saja dia tidak mengerti apa maksudnya. Elvano bersumpah ini terakhir kalinya dia membeli pembalut.
Agatha tertawa terbahak-bahak ketika melihat wajah Elvano. Terlihat lucu. Elvano langsung menatap tajam Agatha. Suara tawa gadis itu membuat beberapa pengunjung melihat ke arah mereka.
Setelah puas tertawa, Agatha mengambil salah satu pembalut yang biasa dia beli.
"Nih, yang ini." Agatha menyodorkannya pada Elvano.
"Oh, oke." Elvano mengambilnya dan meletakkannya di dalam keranjang.
"Lagian kamu ngapain beli pembalut? Disuruh mama kamu?"
"Bukan, tapi cewek gue." Elvano berjalan menuju kasir.
Agatha tertegun, gadis itu segera mengekor di belakang Elvano.
"Bohong itu dosa, loh," ujar Agatha. Jelas dia yakin Elvano berbohong. Selama ini tidak ada kabar kedekatan Elvano dengan orang lain selain dirinya di sekolah. Tidak mungkin pemuda itu tiba-tiba memiliki pacar.
Elvano mendengus, "Yaudah kalau gak percaya."
"Emang gak percaya," sewot Agatha.
Hening beberapa saat, sampai akhirnya Elvano mengucapkan terima kasih pada Agatha karena telah membantunya. Meski pemuda itu tidak menyukai sikap Agatha yang agresif, tetapi dia tahu bagaimana caranya menghargai seseorang yang menolongnya. Sekecil apapun bantuan itu.
"Hm, thanks." Elvano menatap Agatha sekilas sebelum kembali fokus menatap kasir.
"Sama-sama, sayang." Agatha tersenyum. Jantungnya serasa ingin meledak karena Elvano lebih banyak bicara hari ini. Bolehkah Agatha berharap bisa berbincang dengan Elvano setiap hari?
"Jijik," ketus Elvano. Raut wajahnya kembali datar seperti biasanya.
"Gak boleh gitu, nanti kamu cinta loh sama aku," goda Agatha.
"Mimpi!"
Setelah membayar, Elvano berlalu begitu saja dari hadapan Agatha. Tidak tahan berlama-lama berada di dekat gadis itu.
Agatha menatap kepergian Elvano dengan senyuman lebar. Gadis itu heran mengapa dirinya bisa jatuh sejatuh-jatuhnya pada Elvano. Padahal, pemuda itu sangat dingin padanya.
...***...
Oh jadi gitu, diem-diem Elvano udah punya cewek :)