
"Yakin ini tempatnya?"
Mereka berempat sudah berada di depan rumah sederhana milik seseorang yang mereka curigai sebagai pelaku dalam kasus Elvano.
"Yakin," jawab Lucky dengan mantap. Dia tidak mungkin salah dalam melacak nomor ponsel seseorang.
"Sepi rumahnya," ujar Elisa yang berdiri di sebelah Lucky. Tangan keduanya saling menggenggam erat.
"Coba lo cek sana," ujar Farhan menunjuk Lucky.
"Lo aja sana!" balas Lucky tidak mau.
"Lo lah! Kan lo yang bilang ini rumahnya," ujar Farhan ngotot menyuruh Lucky.
"Yaelah, kelamaan kalian. Biar gue aja." Chacha yang jengah melihat perdebatan tidak berfaedah tersebut, langsung saja menawarkan diri untuk mengecek rumah itu. Saat ini, mereka berdiri di seberang jalan agar tidak terlalu dekat dengan rumah yang sedang mereka awasi. Kebetulan suasana di dalam gang saat ini terlihat sepi. Mereka tidak perlu khawatir akan ada warga yang curiga.
"Oke, coba ketuk pintu. Kita awasin dari sini. Kita lihat siapa sebenernya orang ini," ujar Lucky memberi arahan.
Chacha mengangguk dan langsung berjalan menuju rumah yang berada di seberang jalan.
Tok tok
"Halo, assalamu'alaikum. Yuhuuu, ada orang?" teriak Chacha sembari terus mengetuk pintu. Lucky dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Chacha yang barbar. Bahkan sekarang ia tidak mengetuk pintu lagi melainkan menggedornya.
"Adek lo, tuh. Barbar banget. Mana ada bertamu sambil teriak-teriak begitu," ujar Farhan sembari tersenyum aneh.
Lucky terkekeh pelan. Tidak heran. Chacha memang suka berteriak ketika berada di rumah.
"Sstt, itu orangnya keluar," ujar Elisa agar kedua pemuda itu menghentikan obrolan dan fokus pada seorang gadis yang sudah membukakan pintu untuk Chacha.
"Maaf, siapa ya?"
Chacha terdiam sejenak mengamati gadis yang berdiri di depannya. Dia merasa pernah melihat orang itu. Tetapi di mana?
"Boleh gue masuk?" tanya Chacha.
Di seberang jalan, Lucky dan Farhan terbelalak kaget melihat siapa orang yang keluar dari rumah itu.
"Kita ke sana sekarang," ujar Lucky.
Farhan mengangguk dan berjalan beriringan bersama Lucky. Elisa yang bingung hanya bisa mengikutinya dari belakang.
"Kalian kenal?" tanya Elisa bingung.
"Iya." Lucky berbalik untuk menggandeng tangan Elisa. Terlalu fokus pada gadis di depan pintu, sampai tidak sadar genggaman tangannya pada Elisa terlepas.
Ketika mereka sudah sampai di depan pintu, Farhan berdiri di samping Chacha sembari menyapa gadis itu.
"Hai, Mel."
Gadis bernama Melati tersebut semakin bingung karena kedatangan Farhan dan Lucky. Ditambah dengan kedua gadis lainnya yang ia yakini tidak saling mengenal dengannya.
"Eh, kalian? Tumben kalian ke sini malem-malem? Tau rumah gue dari mana?" tanya Melati.
"Gak papa, sih. Silaturahmi," jawab Lucky dengan santai meskipun otaknya sedang berpikir. Kenapa bisa ini rumah Melati?
"Lo di rumah sama siapa? Kok sepi keliatannya," tanya Farhan basa-basi.
"Gue sendirian, bokap nyokap belum balik," jawab Melati. Gadis itu terlihat celingukan mencari keberadaan seseorang diantara tamu-tamunya yang datang. Tetapi, ia harus merasa kecewa saat tidak menemukan orang yang ia cari.
"Boleh kita masuk?" tanya Lucky.
Meski bingung apa tujuan mereka datang ke rumahnya, Melati tetap mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Lucky melirik ke arah Farhan dan yang lainnya. Mencoba memberikan kode bahwa sekarang adalah waktunya.
"Gue mau nanya ke lo, ini maksudnya apa ya?" Farhan menyodorkan ponsel milik Elvano yang sudah menyala, menampilkan room chat dari nomor asing yang mereka duga adalah milik Melati.
Melati terkejut melihat itu, raut wajahnya terlihat sekali bahwa dia sedang ketakutan. Meski begitu, Melati masih mencoba untuk mengelak.
"Ma-maksud kalian apa? Gue gak ngerti." Melati merutuki dirinya dalam hati, mengapa harus tergagap saat bicara.
Lucky memicingkan matanya menatap Melati. Dia tidak bodoh untuk menyadari kegugupan gadis itu.
"Oh ya? Lo gak tau? Masa sih?"
"Iya, gue gak tahu apapun. Udah malem nih, kalian harus pulang. Gue mau istirahat," ujar Melati dengan cepat. Dia berdiri sembari menengok ke arah pintu yang masih terbuka. Mengisyaratkan pada mereka untuk segera meninggalkan rumahnya.
"Tunggu, urusan kita belum selesai," ujar Chacha yang masih berada di posisinya. Diam-diam, gadis itu menelpon nomor yang mereka lacak tadi. Sebelumnya, Chacha sempat menyimpan nomor tersebut dalam ponselnya. Beberapa detik kemudian terdengar suara dering ponsel berbunyi. Semua pandangan tertuju pada ponsel yang sedang Melati pegang.
Lucky tersenyum sinis menatap Melati.
"Kenapa gak diangkat?"
"Gue gak kenal, gak penting," jawab Melati dengan cepat. Disaat genting seperti ini, dia tidak bisa berpikir jernih. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya mengusir mereka semua.
"Angkat dong, siapa tau penting," ujar Chacha.
Merasa terintimidasi oleh tatapan-tatapan mereka, Melati akhirnya mengangkat panggilan itu. Chacha segera memutus panggilannya ketika telepon terhubung. Chacha menatap tajam ke arah Melati yang sedang menatap bingung pada ponselnya.
"Gak usah banyak alesan. Sekarang jelasin semuanya. CEPET!" bentak Chacha pada Melati. Dia benar-benar sudah tidak tahan melihat wajah Melati yang sok polos itu.
"Gu-gue gak ngerti maksud kalian. Jelasin apa?" Melati masih mencoba untuk pura-pura tidak mengerti.
"Halah, udah deh gak usah pura-pura lagi!" lanjut Farhan.
"Apa tujuan kamu kirim foto itu ke Elvano? Kamu sengaja kan mau bikin hubungan mereka hancur? Jangan-jangan kamu suka sama Elvano?" tanya Elisa beruntun.
"Maaf, gue gak ada waktu. Sebaiknya kalian pergi, gue sibuk," usir Melati sembari terus menatap ke arah pintu.
"Oh, lo gak mau ngaku? Kita berusaha untuk nanya baik-baik sama lo, tapi lo tetep gak mau jawab. Mau pakai cara kasar? Gue gak segan-segan untuk mukul lo!" ujar Chacha dengan tajam. Gadis itu berdiri dari tempatnya. Perlahan, dia berjalan mendekati Melati dan berdiri tepat di belakang Melati. Dengan cepat, Chacha merebut ponsel yang Melati genggam.
"Hey, dasar gak sopan." Melati yang semula menunduk ketakutan, langsung berteriak kesal ketika Chacha mengambil ponselnya.
"DIEM LO! GAK USAH BANYAK BACOT!"
"Chacha serem banget," bisik Farhan di telinga Lucky.
"Baru tau ya?" balas Lucky dengan berbisik. Pemuda itu terkekeh geli.
Chacha mengotak-atik ponsel milik Melati. Melati berkali-kali mencoba untuk merebut ponselnya kembali, tetapi dengan sigap, Farhan mencekal kedua lengannya. Menahan pergerakan gadis itu yang hendak berjalan ke arah Chacha.
Chacha mencoba membuka aplikasi whatsapp. Beruntungnya ponsel milik Melati sama sekali tidak dikunci. Bodoh sekali memang. Chacha mencoba mencari chat yang sekiranya mencurigakan. Matanya terhenti pada chat yang berada di barisan paling atas. Nama Sandi dengan jelas tertera di kontak itu. Karena merasa aneh, Chacha pun mulai membuka dan membacanya.
Sandi : Ketemuan di tempat biasa.
Itu adalah chat terakhir yang Sandi kirimkan untuk Melati.
"Lo jangan macem-macem ya!" teriak Melati merasa panik. Habis sudah dirinya jika sampai Chacha menemukan sesuatu di sana.
"BISA DIEM GAK LO! GUE BANTING JUGA NIH HP!" balas Chacha berteriak kesal.
Karena merasa penasaran, Chacha memilih untuk menggulir layar yang menunjukkan chat mereka sebelumnya. Tidak banyak, tetapi terlihat sangat penting untuk dilewatkan.
Sandi : Gue lagi sama Agatha. Cepet fotoin!
Mel : Udah.
Ternyata benar, Melati yang mengirim foto itu. Dan yang lebih parahnya, Sandi sendiri yang menyuruh Melati melakukan itu. Tangan Chacha terkepal erat menahan emosi. Ingin sekali rasanya ia memukul wajah Sandi yang sialnya sangat tampan. Tetapi apa daya, ia perempuan. Tentunya tenaganya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pemuda itu.
Chacha lanjut membaca chat berikutnya.
Sandi : Lo gimana sih, gak becus bikin mereka pisah!
Mel : Lo pikir gampang?
Sandi : Gak guna lo!
Melati memberontak dari cekalan Farhan, tetapi sayang kekuatannya tidak seberapa dibanding kekuatan pemuda itu. Gadis itu hanya bisa menunduk pasrah.
Mel : Hari ini Agatha ulang tahun.
Sandi : Gue udah siapin kado buat dia.
Mel : Kado?
Sandi : Habisin Elvano.
Mel : Lo gila!
Sandi : Ketemuan di tempat biasa.
"Oh ternyata lo sekongkol sama Sandi buat hancurin hubungan Agatha dan Elvano. Licik ya lo! Atau jangan-jangan lo juga dalang dari kasus Elvano!" ujar Chacha dengan tajam. Setelah membaca sebagian chat dari kontak bernama Sandi, ia benar-benar dikejutkan oleh rencana kedua orang itu yang ingin memisahkan Agatha dari Elvano. Sandi juga berkata ingin menghabisi Elvano karena sudah merebut Agatha darinya. Cih, Chacha muak mengingat perlakuan Sandi yang terlihat seperti lelaki baik-baik di depan mereka.
"Ja-jangan asal nuduh!" elak Melati. Dia benar-benar merasa ketakutan sekarang. Ini semua salah Sandi! Ia hanya menuruti perintah dari pemuda itu.
"Nuduh? Bukti ada di tangan gue. Kalian berdua mencoba untuk mencelakakan Elvano!" Chacha yakin, pasti Sandi lah yang sudah memukuli Elvano bahkan sampai menusuknya.
"Sorry Mel. Sayang, tolong telepon polisi," ujar Lucky menatap Elisa. Gadis itu menurut dan langsung melaksanakan perintah kekasihnya.
Melati yang mendengar kata polisi, segera memberontak dari cekalan Farhan. Awalnya Farhan merasa kewalahan, tetapi Lucky dengan sigap membantu menahan pergerakan Melati.
"Karena lo udah bikin sahabat gue nangis, gue juga bakal bikin hidup lo menderita!" ujar Chacha sembari tersenyum miring di depan wajah Melati.
"Gu-gue gak tau apapun. Gue gak bermaksud u-untuk nyelakain Elvano." Melati menangis sesenggukan.
"MAU COBA CARI ALASAN LAGI, HAH?" teriak Chacha kesal.
"Gue gak bo-bohong, gue emang pe-pengen mereka putus. Ta-tapi gue gak ada niat sedikit pun buat nyelakain Elvano. Gue sayang sama dia," lirih Melati di akhir ucapannya.
"BULLSHIT! Kalau lo sayang sama dia, harusnya lo biarin dia bahagia!"
Melati menatap Chacha dengan tatapan sendu. "Gue nyesel. Gue berani sumpah, gue gak pernah berniat untuk bunuh Elvano. Bukan gue! Gue mohon jangan laporin gue ke polisi! Sandi yang udah ngelakuin itu semua. Dia suka sama Agatha. Dia gak terima kalau Agatha pacaran sama Elvano. Dia bakal ngelakuin apapun untuk bisa dapetin Agatha. Termasuk, kalau dia harus bunuh Elvano."
Semua yang mendengar penjelasan Melati, merasa marah.
"Thanks buat infonya. Tapi gue belum percaya sepenuhnya sama lo. Lo harus tetep ikut ke kantor polisi buat jelasin itu semua."
...***...
Ada yang masih inget Melati? Namanya pernah disebut di part-part awal.