COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 7 - Tidak Peka



Bel tanda pulang berbunyi beberapa menit yang lalu. Agatha dan Chacha masih sibuk membereskan buku-bukunya. Hanya tersisa beberapa murid yang masih tinggal di kelas, termasuk mereka berdua.


"Tha, gue pulang duluan, ya." Chacha berdiri di susul Agatha.


"Pulang sama siapa?"


"Bang Luc."


Agatha mengernyit, tidak biasanya mereka pulang bersama. Meski bersaudara, kakak beradik itu lebih nyaman pulang-pergi menaiki kendaraan masing-masing.


"Tumben?"


Agatha berjalan beriringan bersama Chacha menuju parkiran. Koridor sangat ramai oleh siswa-siswi yang ingin segera pulang.


"Iya, mobil gue di bengkel. Lo gak papa pulang sendiri?" Chacha merasa tidak tega meninggalkan Agatha sendirian.


Biasanya Agatha selalu pulang bersama Chacha karena Keenan tidak bisa menjemputnya. Kakaknya itu hanya bisa mengantarnya di pagi hari.


"Santai, nanti gue naik bus."


Mereka sampai di parkiran, Agatha menemani Chacha sampai Lucky datang bersama Farhan dan Elvano.


Agatha menatap Elvano di kejauhan. Pemuda itu sedang berjalan bersama kedua sahabatnya, sesekali berbincang. Jantung Agatha serasa ingin melompat dari tempatnya. Dia merindukan pemuda itu. Ingin rasanya Agatha memeluk Elvano, tetapi dia tidak ingin pemuda itu lebih membencinya. Karena itu Agatha diam. Ketika mereka sampai di parkiran, Agatha pun hanya menatap Elvano. Menikmati pemandangan indah yang tersaji di depan matanya.


"Ayo pulang," ujar Lucky setelah berhasil mengambil motornya.


"Tha, duluan ya." Chacha melambaikan tangannya setelah menaiki jok motor kakaknya.


"Hati-hati." Agatha balas melambaikan tangannya.


"Gue juga mau pulang. Agatha, hati-hati di culik," teriak Farhan sebelum menyusul Lucky.


Agatha mendengus, memangnya dia anak kecil?


Sekarang hanya ada Agatha dan Elvano yang masih berdiri bersisian. Mereka sama-sama diam, Agatha sedang tidak bertenaga, karena itu lebih memilih diam.


"Gak pulang, lo?" Entah mengapa pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Elvano. Pemuda itu merutuki dirinya sendiri dalam hati. Untuk apa dia bertanya? Sangat tidak penting.


Agatha menatap Elvano dengan pandangan tidak percaya. Setelah satu tahun lebih, ini adalah pertama kalinya Elvano yang memulai pembicaraan.


"Oh, pulang kok. Ini nunggu bus. Kenapa? Mau nganterin aku pulang?" tanya Agatha dengan semangat.


"Ayo ayo, mau banget," sambung Agatha.


"Gak usah ngarep!" ketus Elvano, dia menaiki motornya dan berlalu begitu saja dari hadapan Agatha.


Agatha menggerutu dalam hati, dia pikir pemuda itu akan menawarinya tumpangan.


"Dasar cowok gak peka! Ihh, kesel gue!" Agatha pikir, Elvano mulai peduli. Ternyata itu hanya harapannya saja.


Agatha berjalan keluar menuju gerbang. Dia akan menunggu bus di halte depan sekolah. Baru saja duduk, suara klakson mobil membuat Agatha bangkit.


"Siapa tuh?" gumam Agatha.


Mobil hitam itu berhenti tepat di depan Agatha. Dilihatnya dengan seksama siapa pemuda yang mengendarai mobil itu. Tidak mungkin Keenan.


Jendela mobil terbuka, seorang pemuda tersenyum menatap Agatha.


"Hai, nunggu jemputan?"


"Eh, iya kak." Agatha heran, tidak biasanya pemuda itu menyapanya.


"Bareng gue aja, ayo."


Agatha menggeleng, "Gak usah kak, nanti ngrepotin."


Agatha merasa ragu menerima tawaran pemuda itu. Agatha tahu siapa pemuda itu. Dia kakak kelasnya yang bernama Sandi. Mereka tidak terlalu akrab, hanya sekedar saling mengenal nama.


"Gak papa, ayo masuk aja," bujuk Sandi.


"Beneran?" Agatha bingung, sekolah sudah mulai sepi sedangkan bus yang dia tunggu-tunggu tidak kunjung datang.


"Iya." Sandi tersenyum ramah, terlihat tulus ingin menolong Agatha.


Setelah berpikir panjang, akhirnya Agatha menyetujui tawaran Sandi. Daripada harus naik bus, lebih baik pulang bersama Sandi. Hitung-hitung hemat biaya, pikir Agatha.


"Oke deh, makasih ya, Kak."


...***...


Namanya juga cowok, biasalah kalau gak peka.


CANDAAA GAESS