COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 37 - Milik Elvano



"Tha, kesana, yuk."


Chacha menggeret lengan Agatha untuk mengikutinya. Sudah tiga puluh menit kedua gadis itu berjalan mengelilingi mall. Agatha hanya pasrah mengikuti sahabatnya itu berjalan kesana kemari. Sejak tadi, Chacha hanya melihat-lihat tanpa membeli. Agatha sampai bingung.


"Sepatunya bagus-bagus." Kali ini mereka sedang berdiri diantara deretan rak sepatu.


"Lo mau beli?" tanya Agatha.


"Iya, buat adek sepupu gue. Besok dia ulang tahun."


"Ohh." Agatha mengangguk paham. Chacha mempunyai adik sepupu perempuan yang umurnya terpaut dua tahun di bawahnya. Mereka sangat dekat layaknya saudara kandung. Tidak heran melihat Chacha yang membelikan kado sepatu mahal padanya.


"Bagus yang mana," tanya Chacha. Tangannya menunjuk sneakers berwarna abu-abu dan hitam.


"Yang abu-abu, tuh. Tapi kok mahal banget," ujar Agatha sembari menggelengkan kepalanya.


"Gak papa, modelnya bagus. Ara pasti suka." Ara adalah nama sepupunya.


Agatha hanya mengangguk saja. Toh bukan dia yang membeli.


"Hai, Agatha."


Suara panggilan seseorang membuat Agatha menoleh ke belakang. Seorang pemuda tengah berjalan menghampirinya. Dia tersenyum sangat manis dengan topi yang menghiasi kepalanya.


"Hai, Kak." Ternyata Sandi.


Chacha diam menatap Sandi yang sok akrab di depan Agatha.


"Lagi belanja, ya?" tanya Sandi basa-basi.


"Iyalah, emang mau ngapain lagi kalau ke mall." Bukan Agatha yang menjawab, melainkan Chacha. Sepertinya gadis itu kurang menyukai keberadaan Sandi.


"Ohh." Sandi tersenyum canggung.


"Kakak sendiri?" tanya Agatha ramah.


"Iya, bosen di rumah."


Agatha mengangguk, tidak tahu harus membalasnya bagaimana. Chacha sendiri memilih untuk melihat-lihat sepatu yang lain, tetapi masih dalam jarak yang dekat dari Agatha.


"Gue laper. Habis ini mau gak nemenin gue makan?" Sandi menatap Agatha dan Chacha secara bergantian, menunggu jawaban mereka terutama Agatha.


"Gimana, ya?" Agatha sendiri bingung harus menolak atau menerima ajakan Sandi. Dia merasa tidak enak karena terus-terusan menolak ajakannya.


"Kalau gratis sih gue mau," jawab Chacha.


"Gue yang traktir," jawab Sandi dengan senyum lebar.


"Gak ngrepotin nih?" tanya Agatha tidak enak. Ini salah Chacha, seharusnya dia tidak mengatakan itu.


"Enggak dong."


"Oke, kita mau," ujar Chacha. Gadis itu menarik lengan Agatha menuju kasir untuk membayar barang belanjaannya terlebih dahulu.


Sedangkan Sandi hanya mengikuti keduanya dari belakang.


Masih ada kesempatan buat gue kan, Tha?


...***...


"Makasih banget, Kak." Agatha berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Sandi karena sudah mentraktir mereka berdua.


"Iya, santai aja," ujar Sandi sembari meminum minumannya.


"Jangan kayak orang miskin deh, Cha." Agatha memukul pelan lengan Chacha yang duduk di sebelahnya. Sedangkan Sandi duduk di depan Agatha.


"Rezeki gak boleh ditolak," ujar Chacha sambil tertawa pelan.


"Itu tadi lo minta," ujar Agatha kesal.


"Udah-udah, kok jadi berantem?" Sandi tersenyum geli melihat kedua gadis itu.


"Chacha, tuh."


"Apasih? Gue mau ke toilet bentar ya," pamit Chacha. Gadis itu melenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari Agatha.


"Jangan lama-lama," ujar Agatha sedikit keras agar terdengar oleh Chacha.


Keadaan menjadi hening beberapa saat. Keduanya sama-sama sibuk dengan makanan mereka. Sandi menatap Agatha dalam diam, rasanya dia sangat ingin mengungkapkan perasaannya.


Agatha yang sadar diperhatikan oleh Sandi pun merasa tidak nyaman.


"Kenapa, Kak?"


Sandi tidak menjawab, pemuda itu meletakkan sendoknya. Setelah membasahi tenggorokannya dengan minum, pemuda itu kembali membuka suaranya.


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo."


"Ngomong apa?" tanya Agatha dengan bingung ketika melihat wajah Sandi yang terlihat sangat serius.


"Sebenernya gue suka sama lo, Tha."


"Hah?" Agatha terkejut, tidak menyangka ternyata kakak kelasnya itu diam-diam menyukainya.


"Gue suka lo, Tha," ulang Sandi ketika Agatha terdiam cukup lama.


"Ta-tapi, Kak ...." Belum selesai Agatha berbicara, Sandi sudah memotongnya.


"Iya, gue tau. Lo pacaran sama Elvano. Tapi tolong, biarin gue berjuang buat lo," ucap Sandi dengan pandangan sendu. Pemuda itu nekat mengatakan perasaannya pada Agatha. Berharap masih ada kesempatan untuk memiliki gadis itu.


"Maaf, Kak. Gue gak bisa." Agatha merasa bersalah karena harus menyakiti Sandi dengan jawabannya.


Sandi tersenyum miris, "Udah gak ada kesempatan buat gue ya?"


"Maaf banget ya. Cinta gak bisa dipaksain, Kak. Hati gue udah milik Elvano," ujar Agatha dengan tegas.


Sandi tersenyum lembut, "Iya, gak papa. Lo gak salah, gak perlu minta maaf."


Hening.


Agatha hanya menunduk menatap meja. Selera makannya hilang, suasana mendadak berubah menjadi canggung. Sampai akhirnya Chacha kembali dari toilet. Diam-diam, Agatha menghela napas lega.


"Kok pada diem?" tanya Chacha bingung melihat keduanya hanya diam tanpa memakan makanan mereka.


"Gue udah selesai, kita pamit duluan ya, Kak." Agatha berdiri sembari memegang lengan Chacha, memberi kode agar mereka segera pergi dari tempat ini.


"Lah, gue belum selesai, Tha," protes Chacha tidak menyadari kecanggungan diantara keduanya.


"Udah, nanti di rumah aja. Makasih ya Kak sekali lagi, dan maaf." Mau tidak mau Agatha sedikit menarik lengan Chacha agar berdiri dari tempatnya.


"Gak papa. Hati-hati di jalan," balas Sandi, tidak melunturkan senyumnya sedikit pun meski hatinya terasa begitu sakit.


...***...


Sandi Sadboy, sabar ya :)