
"Mama jangan nangis, Abang pasti baik-baik aja, kok. Bentar lagi pulang."
Angel memeluk Hana dengan erat, sesekali mengusap punggung mamanya yang bergetar karena menangis sesenggukan. Angel sendiri juga merasa sedih dan khawatir, tetapi dia harus kuat demi mamanya.
"Gimana Mama bisa tenang? Abang kamu aja menghilang gak tau ke mana," ujar Hana ditengah tangisannya.
Agatha yang tidak tega, ikut mengusap punggung Hana, berusaha untuk menenangkan wanita paruh baya itu.
"Kita berdoa ya, Tante. Elvano pasti baik-baik aja," ujar Agatha menenangkan, meski dia sama-sama cemas.
Hana mengangguk sembari menguraikan pelukannya. Wanita itu sudah lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Elisa dengan sigap mengambil gelas berisi air putih hangat untuk Hana.
"Diminum dulu, Bibi."
Hana menerima gelas yang disodorkan oleh Elisa. Menengguknya beberapa kali sebelum melemparkan senyum tipis pada keponakannya.
"Makasih, ya."
Elisa tersenyum sembari menggenggam tangan Hana. Dia sudah menganggap bibinya itu seperti ibunya sendiri.
Setelah berusaha mencari Elvano di jalanan sekitar cafe, mereka semua tidak berhasil menemukannya. Keenan menyuruh para perempuan untuk beristirahat karena malam semakin larut. Elisa meminta mereka untuk tinggal di rumah Elvano sementara. Mereka juga harus memberitahu Hana, karena bagaimanapun ibunya berhak tahu tentang kabar anaknya. Sedangkan para lelaki masih berusaha untuk mencari Elvano.
Sudah tengah malam, tetapi diantara kelima wanita itu tidak ada yang bisa memejamkan matanya barang sedetik pun. Mereka sama sekali tidak mengantuk. Bahkan mungkin tidak akan bisa terlelap sebelum mendengar kabar dari Elvano.
Agatha menggenggam ponselnya erat, kalau-kalau ada kabar dari Elvano atau siapapun yang tau di mana Elvano berada.
Dan benar saja, beberapa menit kemudian ponselnya bergetar, menandakan ada telpon masuk. Agatha melebarkan senyumnya ketika mengetahui Elvano yang menelpon. Dengan cepat Agatha mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, El. Kamu di mana?" tanya Agatha langsung begitu telpon tersambung. Suara Agatha membuat yang lainnya memfokuskan diri pada Agatha.
"Maaf, apa Mbaknya ini teman dari Mas Elvano?"
"Eh, i-iya Pak. Maaf, ini siapa ya?" Agatha sangat syok ketika mendengar bukan Elvano yang menelponnya.
"Saya Andi. Tadi saya menemukan Mas Elvano yang tergeletak di tengah jalan. Sudah saya bawa ke rumah sakit."
Jantung Agatha serasa ingin meledak rasanya.
"Gak mungkin," gumam Agatha pelan yang masih terdengar oleh Pak Andi.
"Maaf, Mbak. Bisa ke sini sekarang? Saya gak bisa lama-lama di rumah sakit soalnya."
"Rumah sakit pelita."
"Terima kasih, Pak. Saya ke sana sekarang juga."
Tut.
"Ada apa Agatha? Di mana Elvano?" tanya Hana sembari memegang lengan Agatha panik.
"Di rumah sakit, Tante. Aku gak tau Elvano kenapa. Sebaiknya kita ke sana sekarang," ujar Agatha dengan panik.
Bahu Hana langsung merosot ketika mendengar kabar tersebut. Air matanya semakin deras.
"Biar aku yang bawa mobil." Elisa segera berdiri diikuti yang lainnya. Mereka bergegas menuju rumah sakit.
Chacha tidak lupa untuk menghubungi para lelaki untuk memberitahu kabar mengenai kondisi Elvano
^^^Chacha^^^
^^^Han, ke rumah sakit pelita sekarang. Elvano ada di sana.^^^
Farhan
Oke, kita kesana
...***...
Sepanjang perjalanan, Agatha tidak bisa menghentikan tangisnya. Sama seperti Hana yang terus menangis mengkhawatirkan kondisi putranya.
"Elvano akan baik-baik aja. Dia pasti kuat, aku tau itu," ujar Elisa yang sedang fokus mengemudi.
Apa ini kejutan yang sebenarnya? Kejutan dari kamu bener-bener bikin aku kaget, El. Kenapa harus kayak gini? Aku gak butuh kejutan dari kamu, aku cuma butuh kamu ada di sampingku.
Agatha menghela napas panjang untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. Dia tidak ingin kehilangan Elvano.
...***...
Kejutannya seru gak?