
Elvano berdiri di balkon kamarnya sembari menatap langit malam yang terlihat cerah. Jauh berbeda dengan suasana hatinya yang mendung. Pikirannya tidak berhenti memikirkan Agatha. Lama-lama kepalanya bisa pecah saking seringnya memikirkan gadis itu.
Tepukan di pundaknya membuat Elvano tersadar dari lamunan. Pemuda itu menoleh ke belakang, mendapati seorang gadis yang sedang tersenyum manis padanya.
"Hai, tumben gak keluar kamar sejak tadi?" tanya Elisa. Elvano memang mengurung dirinya di dalam kamar sejak pulang dari sekolah. Ia juga melewatkan makan malam.
"Males."
"Kamu kenapa?" Elisa tidak suka melihat Elvano yang seperti ini. Kadang melamun, kadang tidak fokus, dan lebih sering menyendiri.
"Kenapa apanya?"
"Kamu jangan bohong lagi, deh. Udah keliatan dari wajah kamu kalau kamu banyak beban," ujar Elisa dengan lelah.
Elvano mendengus pelan. Percuma berbohong pada Elisa yang jelas-jelas mengenalnya sejak kecil. Gadis itu pasti akan tahu jika dirinya sedang tidak baik-baik saja. Namun, Elvano tetap saja bungkam. Memilih untuk menyimpan sendiri masalahnya. Tapi sepertinya kali ini dia tidak bisa. Elvano butuh seseorang yang bisa memberikan solusi atas masalah yang sedang menimpanya.
"Agatha."
"Kenapa sama Agatha?" tanya Elisa dengan sabar. Sudah biasa kan Elvano menjawab pertanyaan dengan singkat?
"Dingin."
"Hah?" Elisa mengernyit bingung. Apa maksudnya?
Agatha? Dingin?
Agatha bersikap dingin, begitu?
"Kok bisa?" tanya Elisa lagi setelah berhasil memahami perkataan Elvano.
Elvano mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan Elisa. Pemuda itu memang tidak mengerti dengan perubahan sikap Agatha padanya. Terlalu tiba-tiba dan mengejutkan.
"Ihh, kamu kalau ngomong yang bener dong! Jangan singkat-singkat gitu. Aku gak ngerti," ujar Elisa dengan gemas.
"Agatha menghindar." Kembali Elvano hanya menjawab seadanya. Dia terlalu malas berbicara panjang lebar.
"Kok bisa?" Pasti ada alasan mengapa Agatha menghindari Elvano.
Elisa sebenarnya penasaran seperti apa gadis bernama Agatha itu. Karena selama ini dia belum pernah bertemu dengan Agatha.
"Aku ajak dia pulang bareng tapi gak mau," jelas Elvano dengan wajah frustrasi yang tertangkap jelas di penglihatan Elisa.
Elisa tersenyum samar, lucu sekali melihat Elvano seperti ini. Ini juga pertama kalinya Elvano mengatakan isi hatinya. Sungguh perubahan yang luar biasa. Dan ini semua terjadi karena satu hal, Agatha.
"Kata kamu kemarin kalian pulang bareng?" tanya Elisa memastikan. Elvano memang mengatakannya pada Elisa, karena itu juga Elisa harus pulang bersama Lucky sebab Elvano harus mengantar Agatha.
"Iya."
"Terus kenapa tadi dia gak mau pulang bareng sama kamu?" tanya Elisa heran.
Elvano kembali mengedikkan bahunya tanda tidak mengerti.
"Pasti ada sebabnya. Gak mungkin kan dia tiba-tiba menghindar," ujar Elisa dengan yakin.
"Terus gimana?"
Elisa semakin tersenyum lebar melihat Elvano yang se-frustrasi ini hanya karena masalah perempuan.
"Besok kalian harus bicara. Selesaiin semua masalah diantara kalian," saran Elisa.
Tidak ada jalan lain. Jika mereka sama-sama diam, masalah tidak akan pernah selesai. Itulah gunanya mulut diciptakan.
"Tapi--" Belum selesai Elvano bicara, Elisa sudah memotongnya.
"Gak ada tapi-tapian. Pokoknya besok kamu harus bilang soal perasaan kamu," ujar Elisa tegas.
"Kalau ditolak?" Belum apa-apa Elvano sudah pesimis. Teringat sikap dingin Agatha membuatnya ragu apakah gadis itu mau menerimanya kembali setelah semua yang dia lakukan padanya.
Elvano menghela napas panjang, mencoba mengeluarkan semua bebannya.
"Iya."
"Sekarang kita keluar, yuk. Refreshing biar kamu gak galau terus," ajak Elisa. Hari belum terlalu malam, masih pukul tujuh.
"Kemana?" tanya Elvano ketika mendengar nada antusias dari Elisa.
"Anterin ke toko buku, ya?"
"Gak bosen beli buku terus?" tanya Elvano heran, Elisa terlalu sering membeli buku. Entah itu novel, komik, atau buku resep masakan. Gadis itu selain hobi membaca buku juga pintar memasak.
"Enggak, kan hobi."
"Yaudah ayo, pamit dulu sama Mama."
...***...
Malam ini Agatha dan Chacha memutuskan untuk pergi ke salah satu mall yang ada di kota Jakarta. Sebenarnya, Chacha berniat pergi ke gramedia untuk mencari novel yang baru-baru ini terbit. Alhasil, Chacha merengek pada Agatha untuk menemaninya malam ini juga.
Chacha tidak suka pergi sendirian, karena itu apapun yang terjadi Agatha harus mau ikut dengannya. Sekalian menghabiskan waktu bersama sahabatnya itu. Sudah lama sejak terakhir kali mereka pergi bersama.
"Tha, bagus yang ini apa yang itu?" tanya Chacha. Setelah menemukan novel yang sudah dia incar, kini gadis itu masih ingin membeli satu novel lagi. Maklum, Chacha adalah pecinta novel romance garis keras.
Chacha mengangkat dua novel ke depan wajah Agatha. Meminta pendapat, mana yang harus dia beli.
"Itu tentang apa ceritanya?" tanya Agatha. Gadis itu tidak terlalu suka membaca novel, dia lebih suka belajar buku-buku pelajaran yang ada di perpustakaan sekolah. Memang begitu kalau mempunyai otak yang cerdas.
"Ini tentang perjodohan," tunjuk Chacha pada novel yang berada di tangan kanannya. "Kalau ini anak SMA. Geng motor gitulah," lanjut Chacha menunjuk novel di tangan kirinya.
"Yang anak SMA tuh kayaknya seru," ujar Agatha. Karena mereka juga masih anak SMA, mungkin akan lebih menyenangkan membaca kisah-kisah remaja seusianya, begitu pikir Agatha. Lagi pula Agatha juga pernah beberapa kali membaca novel, meski tidak sesering Chacha.
"Gak mau ah, kayaknya lebih seru yang perjodohan. Asyik gitu nikah muda," ujar Chacha bersemangat.
Agatha memutar bola matanya malas. Merasa gemas sekaligus kesal pada sahabatnya itu. Untuk apa meminta pendapatnya kalau ternyata dia sudah memutuskan pilihannya.
"Kalau lo mau yang itu, kenapa nanya pendapat gue? Bikin emosi aja," ujar Agatha kesal.
Chacha hanya tertawa tanpa beban melihat kekesalan Agatha. "Sorry."
Agatha berdehem membalasnya.
Chacha mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk melihat suasana gramedia di sela-sela dia memilih novel. Tidak terlalu ramai, tapi tidak juga sepi. Beberapa remaja terlihat sedang memilih-milih novel sama sepertinya.
Pandangan Chacha terhenti ketika melihat sepasang remaja berjalan memasuki gramedia. Sedikit terkejut karena Chacha sangat mengenal mereka. Cepat-cepat dia menarik lengan Agatha.
"Tha, liat tuh, ada siapa." Chacha menunjuk ke arah pintu gramedia.
Agatha mengikuti arah telunjuk Chacha. Seketika dadanya kembali sesak melihat pemandangan di depan matanya. Padahal sejak bersama Chacha, dia tidak mengingat rasa sakitnya. Kehadiran sahabatnya itu berhasil menghiburnya. Tetapi kenapa semesta seolah-olah ingin menghukumnya dengan terus-menerus membuatnya sakit.
Sakit di tubuh mungkin tidak apa bagi Agatha. Tetapi sakit dihatinya sangat sulit diobati. Di saat dia ingin menjauh dari Elvano, mengapa pemuda itu menjadi lebih sering muncul di depan matanya?
"Mereka ...."
Apa Tuhan ingin menyiksanya?
...***...
Jadi sebenernya Elisa itu siapa?
Gaes, jangan panggil aku Author. Panggil aja aku El, karena namaku juga El ಥ‿ಥ
Agak mirip sama namanya Elisa, cuma gak pakai i aja. Iya, aku kakaknya Ana. Jadi jangan macem-macem atau nanti ku sihir jadi es :)