COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 30 - Sepupu



Elvano berjalan memasuki gramedia bersama Elisa dengan tangan yang saling bertautan. Sudah menjadi kebiasaan mereka sejak kecil. Elisa takut dirinya akan terpisah dari Elvano jika sedetik saja genggaman tangan mereka terlepas. Ada sesuatu yang membuatnya sedikit trauma dengan keramaian. Meskipun suasana di sini tidak terlalu ramai, tetap saja Elisa tidak mampu melepaskan tangan Elvano.


Saat sedang berjalan menuju rak bagian buku fiksi, tatapan Elvano bertemu dengan Agatha. Gadis itu berdiri beberapa meter tidak jauh di depannya.


Agatha memandang Elvano dengan sorot terluka, sedangkan Elvano menatap gadis itu dengan penuh kerinduan. Sama sekali tidak menyadari tatapan sendu gadisnya.


Salahkan Elvano yang sampai detik ini tidak bisa memahami Agatha.


"Ayo kita balik, Cha. Gue gak kuat," bisik Agatha sembari menarik-narik lengan Chacha. Hatinya hancur, dia tidak mau lebih hancur lagi melihat kemesraan pasangan di depannya.


"Tapi, novelnya?" tanya Chacha nelangsa. Dia tidak yakin Agatha mau menunggu sampai dirinya selesai berada di kasir.


"Kapan-kapan aja. Ayo pulang, please!" Agatha merengek pelan ketika menyadari Elvano dan Elisa berjalan ke arah mereka.


"Gue ke kasir bentar deh, ya?" bujuk Chacha. Kan sayang sudah sampai di sini tetapi tidak jadi membeli.


"Ayolah, Cha."


Melihat Agatha yang sedang menahan air mata, Chacha tidak tega. Gadis itu menyesal telah memberitahu keberadaan Elvano pada Agatha. Seharusnya Chacha mengalihkan perhatian Agatha agar tidak menyadari kehadiran pemuda itu.


Saat Agatha dan Chacha masih berdebat, Elvano dan Elisa sudah berada di dekat mereka. Elisa sengaja mengajak Elvano untuk mendekati Agatha setelah pemuda itu memberitahu bahwa gadis pujaannya berada di tempat ini.


"Hai, Chacha, Agatha?" Elisa sedikit canggung karena ini pertama kalinya mereka bertemu. Meski begitu, senyuman manis menghiasi bibir tipisnya.


Agatha menegang, apa ini? Haruskah dia membalas Elisa dengan ramah? Hatinya mengatakan untuk memaki Elisa, tetapi otaknya masih bekerja dengan baik untuk tidak melakukan tindakan tersebut.


"Hai." Agatha membalas sapaan Elisa dingin. Tidak ada senyum yang menghiasi wajah cantiknya. Hanya ada wajah datar dengan tatapan dingin. Sesekali matanya menatap tangan yang masih saling menggenggam. Ingin rasanya Agatha berteriak bahwa hatinya sangat sakit kali ini.


"Mau beli novel ya?" tanya Elisa basa-basi. Dia sedikit tidak nyaman karena tatapan Agatha yang dingin. Tetapi Elisa juga penasaran mengapa Agatha bersikap seperti itu.


"Iyalah, namanya juga toko buku," balas Agatha ketus. Rasa cemburu menguasai hatinya.


Elisa menahan nafasnya sejenak, sedangkan Elvano mengerutkan keningnya tak suka melihat Agatha yang bersikap seperti itu pada Elisa. Tidak masalah jika Agatha marah padanya, tapi tidak dengan Elisa juga. Masalah mereka sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Elisa.


"Ah, kita balik duluan, ya." Chacha memilih untuk berpamitan dan mengakhiri suasana tegang yang sedang terjadi.


"Kok buru-buru?" tanya Elisa, masih mencoba untuk bersikap ramah.


"Panas banget di sini, gue gak betah, Bye." Agatha yang menjawab.


Agatha sengaja menjawab pertanyaan Elisa dengan sinis. Biarkan saja, Agatha benar-benar merasa marah. Tidak, dia sama sekali tidak membenci Elisa. Agatha hanya merasa marah karena sampai sekarang belum bisa merelakan Elvano untuk perempuan lain.


Setelahnya Agatha benar-benar pergi bersama Chacha yang berlari menyusul di belakangnya.


Sepertinya Elisa tahu apa penyebab Agatha bersikap dingin pada Elvano. Gadis itu tersenyum maklum sembari menatap Elvano.


"Agatha kasar banget ke kamu." Itu pernyataan bukan pertanyaan. Elvano merasa sedikit kesal karena Agatha yang begitu sinis pada Elisa.


Elisa berdecak, Elvano benar-benar bodoh jika berhubungan dengan perempuan.


"Kamu emang bener-bener gak peka, ya? Dia cemburu," ujar Elisa dengan gemas. Hampir berteriak tetapi sadar mereka masih di tempat umum.


Elvano semakin mengerutkan keningnya. Bingung dengan apa yang Elisa maksud. Cemburu pada siapa? Elvano tidak memiliki hubungan dengan siapapun.


"Cemburu? Sama siapa?"


"Sama aku lah! Dia tau gak kalau aku sepupu kamu?"


Elvano terdiam sejenak sebelum mengedikkan bahunya. Benar, Agatha tidak mengenal Elisa. Jangan-jangan Agatha mengira bahwa Elisa adalah pacarnya?


"Dia kira aku pacar kamu kali. Banyak juga kan murid-murid di sekolah yang ngira kita pacaran? Kamu liat eskpresinya tadi, kan? Dia itu cemburu sama aku. Apalagi kita gandengan tangan tadi. Gimana mereka gak ngira kalau kita pacaran?" jelas Elisa panjang lebar.


"Gitu ya?" gumam Elvano. Ada sedikit kelegaan yang muncul dihatinya karena tahu penyebab Agatha menghindarinya.


Sekarang Elvano bingung harus bagaimana. Kenapa bisa-bisanya Agatha cemburu pada sepupunya?


"Kamu sih gak peka. Makanya jangan dingin-dingin sama cewek," ujar Elisa.


"Hm, terus gimana?" tanya Elvano bingung.


"Susulin Agatha, gih."


"Terus, kamu?" Elvano tidak setuju. Dia tidak akan meninggalkan Elisa di tempat ini sendirian.


"Aku bisa naik taksi." Tidak apa-apa. Demi Elvano, Elisa rela pulang sendirian kali ini.


"Kamu yakin?" tanya Elvano ragu.


"Iya, sana." Elisa mendorong pelan tubuh Elvano.


"Aku telpon Lucky biar dia jemput kamu," ujar Elvano tegas. Kemudian, pemuda itu segera menghubungi sahabatnya yang dengan semangat menerima permintaannya.


...***...


Sepupu ygy.