COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 15 - Bingung



Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Agatha dan Chacha sedang berada di parkiran, bersiap untuk pulang. Tetapi pemandangan di depan matanya membuat Agatha berdiri mematung. Tatapannya lurus tertuju pada gadis yang sekarang sedang menaiki jok belakang motor Elvano. Ah, ternyata mereka juga pulang bersama.


Chacha menepuk pundak Agatha ketika menyadari gadis itu sedang melamun. Sejak pagi tadi, Agatha terus-terusan melamun.


"Woy! Liat apaan sih?" Chacha mengikuti arah pandang Agatha. Seketika gadis itu berdecak pelan. Elvano lagi.


"Dia pulang sama cewek itu," lirih Agatha. Gadis itu menghela napas lelah. Semakin sakit rasanya.


Chacha merangkul bahu Agatha dan mengusapnya pelan.


"Sabar ya, jangan peduliin mereka."


Agatha menatap Chacha dengan tatapan terluka.


"Gue mau nyerah aja, deh!" Mungkin ini adalah keputusan terbaik. Agatha benar-benar merasa tidak ada peluang untuk mendapatkan hati Elvano. Sedangkan kini, pemuda itu sudah memiliki seseorang di hatinya.


"Bener?" tanya Chacha memastikan.


"Iya, lama-lama rasanya sakit banget." Agatha menyerah, kali ini dia akan melepaskan perasaannya. Sudah cukup ia berusaha selama ini. Ketika usahanya tidak menghasilkan apapun, lalu apa lagi yang harus di perjuangkan? Bukankah ini saatnya untuk menyerah? Memaksakan kehendak juga bukanlah hal yang baik, karena itu hanya akan melukai mereka berdua.


Chacha tersenyum lembut kemudian memeluk Agatha dari samping. Ia senang mendengar perkataan Agatha. Setidaknya, gadis itu mau berusaha melupakan Elvano. Itu lebih baik daripada terus menerus merasa sakit.


"Gue dukung, lo!" bisiknya di telinga Agatha.


"Makasih, Cha."


"Hm, ayo pulang."


...***...


Seminggu kemudian.


Elvano sedang memandangi layar ponselnya dengan wajah datar. Keningnya berkerut, menunggu ponsel itu berkedip. Tapi nihil, tidak ada satupun pesan yang masuk ke ponselnya, meski ia sudah menunggu sampai belasan menit kemudian. Tidak seperti dulu yang hampir setiap hari selalu dihiasi notifikasi dari seseorang.


Elvano meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia menyerah. Pemuda itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Berhenti memikirkan hal yang seharusnya tidak dia pikirkan.


Sialan.


Pemuda itu merasa aneh dengan dirinya sendiri. Ada rasa tidak nyaman dalam hatinya, seolah-olah ada yang hilang. Rasanya ada yang kurang dalam hidupnya ketika pesan dari gadis itu tidak lagi datang memenuhi notifikasi ponselnya. Bahkan, gadis itu juga menghilang seperti ditelan bumi. Elvano tidak pernah lagi melihatnya di sekolah.


Elvano menghela napas panjang. Entahlah, Elvano sendiri tidak mengerti ada apa dengan dirinya.


Tidak mungkin kan Elvano merindukan gadis itu?


"Gak, gak mungkin," gumam Elvano dengan mata terpejam.


"Gak mungkin gue kangen sama dia," gumam Elvano terus-menerus. Seolah-olah ucapan itu adalah mantra untuk menghentikan pikiran gilanya.


Elvano membuka matanya, tangannya mengacak-acak rambutnya frustrasi. Dia pusing. Mengapa gadis itu selalu memenuhi pikirannya beberapa hari terakhir. Sangat tidak penting.


Suara getaran ponsel membuatnya menoleh dengan cepat. Cepat-cepat pemuda itu meraih ponselnya. Berharap gadis itu yang mengirim pesan. Tapi ternyata bukan, justru notifikasi grup lah yang masuk.


...The Cogan's...


Farhan : Hai Bro.


Farhan : Gue bosen.


Lucky   : Terus?


Farhan : Mabar, kuy.


Lucky   : Kuy, lah.


Farhan : Van?


Farhan : Ikutan kagak?


Elvano : Y


Farhan : Oke sip.


Elvano menggelengkan kepalanya heran, untuk apa dia mengharapkan gadis itu?


...***...


Kiw, yang mau ngehujat El?