COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 24 - Sudah Terlambat



Kata orang hari Senin adalah hari yang menyebalkan. Entah kenapa bisa begitu. Pukul setengah tujuh, Elvano sudah sampai di sekolah. Pemuda itu berjalan menyusuri koridor yang masih terlihat sepi. Hari masih terbilang cukup pagi, karena itu belum banyak murid-murid yang berada di sekolah. Kebanyakan murid akan datang lima menit sebelum bel masuk berbunyi. Tipe-tipe murid yang terlalu santai.


Langkah Elvano melambat ketika matanya menangkap siluet seorang gadis yang terlihat familiar sedang berjalan ke arahnya. Dia menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya, apakah benar dia gadis itu atau bukan.


Jantung Elvano berdetak kencang ketika menyadari siapa gadis yang berjalan semakin dekat ke arahnya. Dia Agatha, seseorang yang sangat Elvano rindukan.


Elvano tidak percaya dengan penglihatannya. Apakah benar dia Agatha? Tapi, bukankah gadis itu sudah pergi jauh? Bahkan Lucky mengatakan gadis itu berada di Bandung untuk selamanya. Mengapa sekarang Agatha ada di depan matanya? Apakah ini mimpi?


Agatha sadar akan keberadaan Elvano, tetapi gadis itu justru berpura-pura tidak melihatnya. Mati-matian Agatha mengabaikan sosok yang sangat dia rindukan setelah satu minggu tidak bertemu.


Ya, Agatha memang merindukan Elvano. Tidak semudah itu untuk melupakan seseorang yang selama ini kita cintai. Dia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa rasa itu masih tetap ada.


Meski begitu, Agatha tidak akan kembali. Dia tidak boleh menjadi gadis lemah, tidak lagi. Agatha bertekad untuk tidak lagi mengharapkan Elvano. Dia akan melupakannya secara perlahan.


Agatha menatap Elvano sekilas, bukannya dia tidak sadar, Agatha tahu jika sedari tadi Elvano terus menatapnya intens. Entah apa maksudnya, dia tidak ingin peduli. Meski jantungnya tidak berhenti berdetak kencang. Seperti yang sudah dia katakan, dia benar-benar bertekad untuk melupakan Elvano, cintanya.


Ketika langkah mereka semakin dekat, Agatha tidak sekalipun merilik ke arah Elvano. Agatha terus berbicara dalam hati untuk tetap tenang dan bersikap biasa saja. Kepalanya menunduk untuk menghindari kontak mata dengan Elvano.


Elvano masih tidak percaya apakah ini mimpi atau nyata. Rasanya beban yang selama ini dia pikul, hilang dari pundaknya. Rasa rindu yang selama ini dia pendam kini terbalaskan saat melihat Agatha dengan mata kepalanya sendiri. Tetapi ada yang aneh, biasanya Agatha selalu menyapanya ketika mereka berpapasan. Tapi sekarang tidak. Bahkan ketika jarak mereka hanya tersisa dua langkah.


Elvano tidak tahan lagi dengan situasi mereka yang seperti ini. Pemuda itu memutuskan untuk menyapa Agatha terlebih dahulu ketika gadis itu berada tepat di sampingnya.


"Agatha."


Deg


Agatha berhenti melangkah tepat di sebelah Elvano. Mendadak gadis itu merasa gugup dan bingung di waktu yang bersamaan. Tidak biasanya Elvano menyapanya. Pemuda itu kan selalu bersikap acuh padanya, mengapa sekarang berbeda?


Setelah menghembuskan napasnya pelan, Agatha menolehkan kepalanya untuk menatap mata Elvano yang juga sedang menatapnya lekat.


"Iya?"


Hening beberapa saat. Elvano tidak tahu harus mengatakan apa. Mendadak rasa tidak nyaman hadir, Agatha tidak seperti biasanya. Gadis itu tidak pernah berbicara sangat singkat padanya seperti ini. Ada yang salah. Agatha berubah.


"Enggak jadi." Elvano menggelengkan kepalanya pelan, matanya tidak beralih dari Agatha sedetik pun. Seakan-akan takut gadis itu kembali menghilang ketika dirinya mengalihkan pandangan.


Agatha mengernyitkan keningnya samar. Sebelum akhirnya memilih untuk pamit karena tidak ingin berlama-lama dalam situasi canggung seperti ini.


"Gue duluan."


Elvano tidak menjawab, matanya hanya mengikuti pergerakan Agatha yang mulai menjauh. Hatinya tidak tenang melihat sikap Agatha yang sangat berbeda. Ada rasa tidak terima di hatinya. Apakah ini yang Agatha rasakan ketika dia selalu menolaknya dulu? Ternyata rasanya menyakitkan.


Sedangkan Agatha sedang berperang dengan batinnya. Jantungnya tidak mau berhenti berdetak kencang. Ini kedua kalinya Elvano menyapanya terlebih dahulu. Pertama ketika di parkiran saat itu. Agatha rasanya ingin pingsan.


Mengapa sikap Elvano berubah-ubah seperti bunglon? Agatha pusing memikirkannya. Jika Elvano terus seperti itu, Agatha tidak akan bisa dengan mudah melupakannya.


Gagal move on, kan!


Ketika Agatha sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya. Membuat Agatha sedikit terperanjat.


"Hai."


Ah ternyata Sandi. Pemuda itu tersenyum hangat seperti biasanya ketika menyapa Agatha.


"Astaga, kaget tau!" Agatha mengerutkan keningnya kesal.


Sandi terkekeh, padahal dia sama sekali tidak berniat membuat Agatha terkejut.


"Enggak, kok," balas Agatha tidak terima.


"Masa? Kenapa? Lagi mikirin sesuatu? Mikirin gue?" tanya Sandi bertubi-tubi.


"Dih, PD banget sih, Kak." Agatha mendengus meski setelahnya tersenyum.


Sandi kembali tertawa pelan, merasa gemas pada Agatha ketika melihat gadis itu sedang kesal.


"Udah sarapan?"


"Belum."


Mereka berdua masih berdiri di tengah koridor yang mulai ramai oleh beberapa murid yang datang.


"Ayo ke kantin, kita sarapan dulu. Gue yang traktir," ajak Sandi. Wajahnya penuh harap. Terakhir kali dia mengajak Agatha pergi, gadis itu menolak. Semoga saja kali ini tidak.


"Kalau ditraktir sih gue gak bisa nolak," jawab Agatha sembari tertawa pelan. Dia butuh pengalihan agar otaknya tidak memikirkan Elvano lagi. Menerima ajakan Sandi adalah hal yang tepat.


Sandi tidak tahan lagi, tangannya terangkat untuk mengacak-acak rambut Agatha gemas. Dia sudah lama ingin melakukannya, hanya saja tidak berani karena Agatha selalu bersikap cuek. Tapi kali ini berbeda, rasanya mereka mulai terlihat akrab.


"Dasar, yaudah ayo."


"Ayo!"


Mereka berdua berjalan beriringan menuju kantin, masih ada lima belas menit lagi sebelum bel berbunyi.


Diam-diam Elvano mengamati keduanya dari kejauhan. Elvano masih berdiri ditempatnya semula, dia melihat semuanya. Tangannya terkepal, merasa marah dengan dirinya sendiri.


Hatinya perih saat mengetahui Agatha mengabaikan dirinya dan sekarang terlihat akrab dengan laki-laki lain. Apa dia sudah terlambat untuk memperbaiki semuanya? Elvano benar-benar menyesal kenapa dulu dia tidak pernah menerima Agatha.


Andai waktu bisa diputar kembali.


"Brengsek!" gumam Elvano dengan rahang mengeras.


Tanpa Elvano sadari, kedua sahabatnya sudah berdiri di belakangnya sejak beberapa saat yang lalu.


"Siapa yang brengsek?" tanya Farhan kepo. Barangkali ada gosip hangat yang belum dia dengar.


Elvano menoleh dengan cepat, "Bukan siapa-siapa," jawabnya ketus.


"Kenapa muka lo? Kusut bener." Lucky mengernyit heran melihat Elvano yang seperti menahan emosi.


"Gak ada," balas Elvano dingin. Pemuda itu memilih pergi meninggalkan kedua sahabatnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia butuh ketenangan untuk mengembalikan kewarasannya, dan itu tidak akan dia dapatkan ketika berada di sekitar Farhan dan Lucky.


"Yaelah kita ditinggal," gerutu Farhan.


Sedangkan Lucky menggelengkan kepalanya gemas melihat ke arah Elvano pergi.


"Gengsi aja di gedein, diambil orang baru tau rasa," ujar Lucky.


"Lucu juga lihat Elvano galau," balas Farhan sembari tertawa pelan.


...***...


Halo, kalian dari kota mana aja?