
Agatha duduk di depan ruang rawat Elvano. Gadis itu memutuskan untuk duduk di luar karena di dalam sudah ada Hana yang menjaga Elvano. Dia juga ingin memberikan waktu pada Hana agar bisa bersama putranya tanpa gangguan siapapun.
"Agatha?"
Agatha mendongak ketika ada seseorang yang memanggilnya.
"Eh, Kak Sandi. Ngapain di sini?" tanya Agatha bingung.
"Habis jenguk temen gue yang sakit. Kebetulan lihat lo di sini. Ngapain?" tanya Sandi balik. Pemuda itu melirik ruang rawat di depannya. Terdapat kaca kecil yang terletak di tengah pintu. Membuatnya dapat melihat siapa yang berada di dalam.
"Elvano sakit," jawab Agatha. Matanya berubah sendu. Pemuda itu tak kunjung membuka matanya hingga saat ini.
"Oh, ya?" Sandi terlihat terkejut, "Sakit apa?"
"Kecelakaan, Kak."
Sandi mengangguk paham, "Semoga cepet sembuh ya," ujarnya dengan senyuman tulus.
"Aamiin, makasih, Kak." Agatha tersenyum tipis.
"Udah sarapan?" tanya Sandi. Pemuda itu mendudukkan dirinya di samping Agatha.
"Belum." Agatha menggeleng. Dia bahkan lupa untuk sarapan jika tidak diingatkan.
"Udah siang, makan dulu yuk. Gue temenin," ajak Sandi.
"Gak napsu makan gue, Kak," tolak Agatha.
Sandi menghela napas panjang melihat Agatha yang keras kepala.
"Harus tetep makan, nanti kalau lo sakit gimana?" ujar Sandi dengan lembut.
"Gue gak mau ninggalin Elvano." Agatha tetap menolak.
Sandi tersenyum kecut mendengar jawaban dari Agatha.
Segitu cintanya ya lo sama Elvano?
"Enggak, pokoknya lo harus makan. Gue temenin." Sandi berdiri sembari menarik lengan Agatha dengan lembut. Tidak ingin menyakiti Agatha sedikit pun.
"Males, Kak." Agatha mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ini perintah. Ayo ke kantin." Tanpa menunggu jawaban dari Agatha, Sandi sudah menggeretnya menuju kantin rumah sakit. Agatha hanya bisa pasrah mengikuti tarikan Sandi. Diam-diam Sandi tersenyum karena berhasil mengajak Agatha untuk makan. Meskipun ia tahu, gadis itu terpaksa melakukannya.
...***...
"Lagi keluar sebentar, mungkin," tebak Lucky. Elisa mengangguk mengiyakan. Gadis itu berjalan mendekat ke arah ranjang Elvano. Untuk beberapa saat, dia hanya berdiri di samping Elvano sembari menatap wajah pemuda itu yang terlihat sangat pucat. Elisa sangat merindukan Elvano.
"Kapan kamu bangun, Van? Semua orang di sini khawatir sama kamu. Aku juga, terlebih Agatha. Dia nangis terus tau! Ayo kamu cepet bangun," ujar Elisa dengan pandangan kosong.
Lucky yang berdiri di sisinya, merangkul pundak Elisa. Sesekali mengusap lengannya untuk menenangkan.
"Terus berdoa ya buat Elvano. Semoga dia cepet sadar."
Elisa mengangguk sembari memeluk Lucky.
Ceklek
"Eh, ada kalian?" Agatha masuk diikuti Sandi di belakangnya.
"Habis dari mana, Tha? Bibi mana?"
"Sandi? Ngapain di sini?"
Elisa dan Lucky bertanya secara bersamaan ketika melihat kedatangan Agatha. Elisa dengan pelan melepaskan pelukannya dari Lucky.
"Gue habis dari kantin sama Kak Sandi. Tadi kita ketemu di depan. Kebetulan dia lagi jenguk temennya yang sakit," jelas Agatha. "Tante Hana kayaknya lagi ke ruangan dokter Pandu," lanjutnya.
"Ohh." Lucky mengangguk paham.
"Gimana keadaan Elvano?" tanya Sandi ketika melihat Elvano yang berbaring dengan mata tertutup.
"Seperti yang lo lihat," jawab Lucky.
"Semoga cepet sembuh. Gue gak bisa lama-lama nih. Gue balik duluan ya," pamit Sandi pada mereka bertiga.
Lucky mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Elisa hanya tersenyum tipis sebelum kembali fokus menatap Elvano.
"Hati-hati, Kak," ujar Agatha basa-basi.
Gue harap lo gak pernah bangun lagi, Elvano.
...***...
Apa tuh maksudnya?