COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 16 - Rindu



Agatha duduk di sofa kecil yang berada di balkon kamarnya. Tangannya menggenggam bingkai foto yang berisi foto keluarganya saat Agatha masih kecil. Gadis itu terus menatap kedua orang tuanya yang tersenyum lebar di dalam foto.


Saat itu mereka sedang berlibur ke pantai, mereka berfoto dengan latar belakang laut yang indah. Keenan menggendongnya di punggung, sedangkan orang tuanya berdiri bersisian dan saling merangkul. Terlihat sangat bahagia.


Agatha tersenyum tipis, dia merindukan masa-masa itu.


Suara langkah kaki membuat Agatha menoleh ke arah pintu, Keenan sedang berdiri di sana.


"Makan siang dulu, yuk. Abang udah masakin spaghetti kesukaan kamu." Keenan berjalan menghampiri Agatha kemudian duduk di sebelahnya. Matanya ikut menatap foto yang Agatha genggam.


Hari ini hari Minggu, karena itu Keenan berada di rumah. Pemuda itu selalu menghabiskan hari liburnya bersama dengan Agatha.


"Bentar lagi, Bang." Agatha sedang tidak lapar. Gadis itu masih tetap menatap foto kedua orang tuanya.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Keenan. Pemuda itu mengangkat tangannya untuk merapikan rambut Agatha yang tertiup angin.


"Liat foto Papa, Mama."


"Kamu baik-baik aja?"


Mendengar pertanyaan dengan nada lembut itu membuat mata Agatha berkaca-kaca. Gadis itu menatap Keenan dengan tatapan sendu.


"Kangen mereka, Bang," lirih Agatha.


Keenan memeluk Agatha dengan erat. Berusaha menguatkan adik kecilnya. Dia sendiri juga sangat merindukan orangtua mereka. Tetapi, dia tidak boleh lemah. Demi Agatha, Keenan harus kuat.


"Abang juga kangen."


"Udah lima tahun Mama sama Papa pergi."


Kedua orangtua mereka meninggal karena kecelakaan. Papa meninggal di tempat sedangkan Mama meninggal ketika sampai di rumah sakit.


Malam itu Agatha yang masih duduk di bangku SD sedang duduk di teras rumah. Gadis kecil itu sedang menunggu kedua orangtuanya yang belum pulang dari bekerja. Papa menjanjikan mainan untuknya ketika pulang nanti, karena itu Agatha sangat bersemangat.


Selang beberapa jam, Papa dan Mamanya memang pulang, tapi bukan untuk memberikan mainan yang mereka janjikan. Mereka pulang dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa dengan banyak orang yang mengantarkannya.


Hati Agatha hancur ketika itu. Gadis itu hanya bisa terus menangis memanggil Papa dan Mamanya, sedangkan Keenan terus memeluk adiknya dengan erat. Saat itu Keenan berumur 20 tahun sedangkan Agatha 12 tahun.


"Hm, Papa sama Mama pasti bahagia di atas sana," ujar Keenan mencoba menenangkan Agatha.


Agatha menangis dalam pelukan Keenan. Entahlah, akhir-akhir ini Agatha merasa tidak begitu bersemangat. Dia merindukan kehadiran orang tuanya. Rasanya seperti ada sesuatu yang menusuk-nusuk jantungnya. Sakit, ketika kita merindukan seseorang yang bahkan tidak ada lagi di dunia ini.


Ditambah dengan rasa sakit karena Elvano. Membuat Agatha ingin menangis sejadi-jadinya.


"Udah ya, Mama Papa pasti sedih kalau liat kamu nangis," bujuk Keenan. Tangannya tidak berhenti mengusap kepala Agatha. Sesekali mengecupnya.


Agatha menghentikan tangisnya. Dia mencoba untuk tersenyum meskipun hatinya sangat sakit.


"Iya, aku gak nangis lagi kok," ujar Agatha sembari mengusap air matanya.


"Nah gitu. Sekarang kita makan ya?"


"Iya."


...***...


Setelah makan siang bersama, Agatha dan Keenan memilih untuk menghabiskan waktu dengan bersantai di ruang keluarga. Televisi menyala menampilkan film kartun yang membosankan bagi Agatha.


"Bang."


"Apa?"


"Gapapa."


Keenan mengernyit heran, aneh sekali adiknya itu. Dia tebak, pasti Agatha sedang gabut.


Selang beberapa menit, Agatha kembali memanggil Keenan.


"Bang."


"Bosen." Agatha memeluk bantal sofa dengan erat. Dia sedang sangat bosan.


"Terus?"


"Huh, gak peka," gerutu Agatha pelan yang terdengar sampai ke telinga Keenan.


Keenan menggelengkan kepalanya, "Abang juga manusia biasa. Gak bisa baca pikiran kamu. Ngomong yang jelas coba."


"Ayo jalan-jalan! Aku bosen di rumah," ajak Agatha dengan semangat.


"Kemana?" Keenan sih mau-mau saja asalkan adiknya bahagia.


"Kemana ya?" Agatha berpikir, "Ke mall? Nonton?"


"Oke, ayo nonton. Bayar sendiri ya!" ujar Keenan dengan senyuman manisnya.


Agatha menatap Keenan tak terima. "Pelit banget!"


Keenan terkekeh, "Becanda. Sana siap-siap."


"Siap, kapten!"


...***...


Agatha dan Keenan telah sampai di salah satu mall yang ada di Jakarta. Siang ini cukup panas. Ketika mereka sedang berjalan menuju pintu masuk, ponsel Keenan berdering. Terpaksa mereka berhenti.


Keenan menatap ponselnya, ternyata Tante Sulis yang menelponnya. Dia adik dari papa.


"Bentar, Tante Sulis telpon. Tumben banget," heran Keenan.


"Angkat aja. Pasti penting," balas Agatha.


Keenan mengangguk kemudian segera menerima panggilannya.


"Hallo, Tan. Ada apa?"


"Ken, kamu cepet ke Bandung. Nenek sakit." Suara panik di seberang telepon membuat Keenan terkejut.


"Nenek sakit apa? Sekarang Nenek di mana?" tanya Keenan tidak sabar.


"Nenek di rumah sakit. Tante gak bisa jagain, maaf ya. Tante lagi di London. Tadi Tante dapet telepon dari tetangga katanya Nenek pingsan. Kamu bisa kan jagain Nenek sementara?"


Ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan oleh Sulis di London. Karena itu dia meminta tolong pada keponakannya.


"Oke, aku kesana sekarang. Nenek sama siapa di rumah sakit?"


"Sama Bu Sarmi tetangga kita."


"Oke Tante, kita kesana."


"Makasih ya Ken. Tante tutup dulu. Minta tolong jagain Nenek. Tante gak lama kok, mungkin tiga hari lagi udah bisa pulang."


"Pasti, Tante."


Sambungan terputus, Keenan segera menggandeng Agatha untuk kembali menuju parkiran.


"Kenapa, Bang? Ada apa sama Nenek?" tanya Agatha khawatir melihat wajah panik Keenan.


"Nenek sakit. Kita ke Bandung sekarang."


...***...


Mari kita ke Bandung (^^)