
Chacha berjalan di koridor sendirian, gadis itu hendak kembali ke kelasnya setelah dari kantin. Ketika akan berbelok ke arah kelasnya, Chacha melihat Agatha yang berlari ke toilet dengan wajah menunduk. Karena merasa khawatir, gadis itu segera menyusul sahabatnya.
Sampai di toilet, hanya ada satu bilik yang tertutup. Samar-samar Chacha mendengar suara isakan tertahan. Dia tau itu pasti Agatha.
"Tha?" panggil Chacha pelan.
"Lo di dalem? Buka pintunya, Tha," pinta Chacha dengan lembut. Dia tau sahabatnya sedang tidak baik-baik saja. Ini pasti karena Elvano.
"Gue pengen sendiri, Cha." Sahutan dari dalam membuat Chacha berhenti mengetuk pintu. Suara Agatha terdengar serak. Rasanya Chacha ingin memeluk Agatha dengan erat.
"Jangan gitu dong. Please buka pintunya, Tha. Gue khawatir, lo gak papa, kan?" tanya Chacha dengan cemas.
"Gue pengen sendiri."
Chacha menghela napas panjang, sepertinya dia harus mengalah kali ini.
"Oke, gue tunggu di kelas. Jaga diri baik-baik."
Chacha meninggalkan toilet selang beberapa detik. Agatha masih menangis sesenggukan di dalam sana. Dadanya terasa sesak, wajahnya memerah. Agatha tidak peduli, dia hanya ingin meluapkan rasa sakitnya.
...***...
Di kelas XII IPS 2, Elisa menatap Elvano dengan tatapan menuntut. Lama-lama gadis itu merasa kesal melihat Elvano yang hanya diam saja sejak tadi.
"Elvano."
"Hm?"
"Kamu kenapa sih?" Pertanyaan yang sama dengan yang Agatha tanyakan pada Elvano.
"Kenapa apanya?" tanya Elvano tidak mengerti.
"Kamu ada masalah sama Agatha?" tanya Elisa dengan lembut.
Elvano mendengus, ada apa dengan orang-orang disekitarnya itu. Sejak tadi hanya bertanya tentang Agatha dan Agatha.
"Gak ada."
Elisa menghela napas panjang, memang sulit berbicara pada Elvano.
"Kamu kalau ada masalah itu dibicarain baik-baik. Jangan diem aja kayak gini, gimana mau selesai masalahnya kalau kamu cuma diem aja. Kamu kekanak-kanakan banget sih," jelas Elisa panjang lebar. Dia hanya ingin Elvano berbicara, bukan hanya diam seperti itu. Tidak akan ada yang mengerti jika pemuda itu terus diam.
"Semua orang yang lihat tadi juga tau kalau ada sesuatu diantara kamu dan Agatha. Kamu gak pernah secuek itu sama Agatha sebelumnya." Elisa masih berusaha untuk mencari tahu di mana akar permasalahannya.
"Males aja." Elvano membuka buku sejarah yang ada di atas mejanya. Berusaha untuk mengakhiri pembicaraan itu.
"Kamu gak mikir ya? Sikap kamu bikin Agatha sakit hati."
"Hm."
"Susah ya ngomong sama kamu. Keras kepala banget," ujar Elisa pasrah.
Farhan dan Lucky berjalan memasuki kelas tak lama kemudian. Keduanya segera duduk di bangku yang terletak di depan meja Elvano dan Elisa.
Mata Farhan tertuju pada kotak bekal yang berada di atas meja Elvano.
"Wih, makanan siapa tuh, Van?" tanya Farhan penasaran. Elvano tidak pernah membawa bekal, lalu dari mana datangnya makanan itu?
"Makan aja," balas Elvano dengan santai.
"Gue juga mau," sahut Lucky dengan mata berbinar. Dia tidak akan menolak jika ada makanan.
"Hm."
Elisa mengernyit bingung, "Itu dari siapa? Agatha ya?" tebaknya. Dia baru menyadari ada keberadaan kotak bekal berwarna biru itu di atas meja Elvano.
"Hm," jawab Elvano malas. Pasti Elisa akan menceramahinya lagi.
Elisa menatap Elvano tidak percaya. Sebagai sesama perempuan, Elisa merasa sakit hati karena sikap Elvano. Apalagi Agatha, gadis itu pasti akan sangat terluka.
"Terus kamu kasih ke mereka gitu aja? Kamu gak menghargai Agatha banget sih. Gimana kalau dia tau makanan yang dia buat khusus buat kamu, malah kamu kasih ke orang lain. Kamu tega banget."
Elvano menatap Elisa datar, "Aku gak laper."
"Terserah, kamu bener-bener keterlaluan."
...***...
Dikit dulu gapapa ya :)