
"Eh eh, kalian tau Melati? Dia cantik banget, ya?" Si playboy tukang gosip sedang memulai aksinya.
"Melati temennya mawar?"
"Bukan, dodol! Mawar siapa?" Farhan si playboy itu berdecak malas mendengar jawaban Lucky yang ngawur.
"Loh, kok ngegas?"
Farhan mendengus, "Yang gue maksud, Melati anak IPS 3."
"Kenapa sama si Melati Melati itu? Mau lo pacarin? Setau gue kemarin lo baru putus, udah mau nyari mangsa lagi?" Lucky menatap Farhan dengan takjub. Benar-benar playboy sejati.
"Boleh lah, boleh."
Saat ini mereka bertiga sedang berada di kantin. Kebetulan mereka duduk di bangku paling pojok, dengan begitu mereka bisa melihat seluruh siswa siswi yang berada di kantin.
"Berisik banget kalian! Gak ada topik lain selain cewek gitu? Apa di otak kalian isinya cuma cewek?" ketus Elvano. Telinganya panas mendengar perdebatan kedua sahabatnya.
Farhan, Lucky dan Elvano sudah bersahabat sejak berada di kelas X. Hampir tiga tahun berada di kelas yang sama membuat mereka menjadi sangat akrab.
Mendengar ucapan Elvano yang ketus, kedua sahabatnya itu tidak peduli. Mereka sudah terbiasa.
"Gini nih kalau ngomong sama jomblo," ujar Farhan yang ditujukan pada Elvano.
"Lo juga jomblo, nyet!" balas Lucky merasa tidak terima karena dirinya juga jomblo.
"Sorry, gue single." Farhan tersenyum angkuh menatap kedua sahabatnya.
"Sama aja," jawab Elvano dingin.
"Beda, sayang." Dengan jahil, Farhan mencolek dagu Elvano.
"Jijik!" Elvano memukul tangan Farhan dengan kencang.
"Han, Lo gay?" Lucky menatap horor pada Farhan.
Farhan mendengus, "Kampret, gue masih normal. Gue masih suka cewek cantik."
Elvano tidak mengerti bagaimana pola pikir Farhan. Pemuda itu selalu menjadikan perempuan sebagai mainannya.
"Kalau nyari cewek itu yang cantik hatinya, bukan fisiknya!" ucap Elvano masih dengan wajah datarnya.
"Bacot."
"Yaelah, Van. Gak papa kali nyari cewek yang cantik," sahut Farhan.
"Tapi menurut gue, lebih cantikan Agatha daripada cewek-cewek lain di sekolah," ucap Lucky menatap Elvano dengan senyum menggoda.
Lucky adalah kakak dari Chacha, karena itu dia mengenal Agatha. Gadis itu sering mampir ke rumahnya dan menghabiskan waktunya bersama Chacha.
"Bener juga. Tapi gue gak mau nikung temen," balas Farhan ikut menatap Elvano.
Elvano mendengus kesal, dia terlalu malas membahas Agatha. Gadis itu benar-benar menyebalkan. Kenapa kedua sahabatnya itu selalu membicarakan Agatha. Bahkan mendengar namanya saja Elvano sudah muak. Beruntung beberapa hari ini dia belum bertemu lagi dengan Agatha. Elvano merasa bebas tanpa gangguan dari gadis itu.
"Dia bukan siapa-siapa gue!" tegas Elvano.
"Halah, sok-sokan nolak, padahal dalam hati ternyata suka," ledek Lucky.
"Berisik!"
Farhan dan Lucky tidak berhenti, mereka terus membahas tentang Agatha. Keduanya merasa gemas karena Elvano yang selalu menolak gadis secantik Agatha.
"Tapi dipikir-pikir gak ada yang kurang dari Agatha." Lucky menatap Agatha yang duduk jauh dari tempat mereka. Tumben sekali gadis itu tidak datang menemui Elvano.
"Iya bener. Kenapa lo gak suka sama Agatha, Van?" tanya Farhan. Jika Farhan menjadi Elvano, maka pasti dia sudah menerima cinta Agatha sejak dulu.
"Bukan tipe gue," jawab Elvano dingin.
"Gak ada niatan buat buka hati, gitu?" Lucky berusaha untuk membuat Elvano tersadar.
"Hati gue udah mati."
"Iyain, udah terserah."
Bagi Elvano, cinta itu tidak penting. Satu-satunya orang yang dia cintai hanyalah keluarganya.
Bel tanda masuk berbunyi, membuat ketiganya segera beranjak kembali ke kelas. Diam-diam, Elvano menatap Agatha selama dua detik sebelum berlalu meninggalkan kantin.
...***...
See you next part.