
Agatha berteriak kencang ketika berjalan menghampiri Chacha yang sudah duduk di bangku mereka. Pagi ini gadis itu kembali berangkat bersama Elvano. Membuat wajahnya terlihat sangat cerah, menandakan bahwa dia sangat bahagia.
"Chachaaa!"
Chacha yang sedang menunduk--membaca novelnya--mendongak menatap kesal pada Agatha.
"Apa sih teriak-teriak?"
"Gue lagi seneng banget," ujar Agatha setelah duduk di sebelah Chacha.
"Kenapa?" tanya Chacha penasaran, tumben sekali Agatha terlihat sebahagia ini.
"El bales perasaan gue," ujar Agatha sembari tersenyum sombong.
"Demi apa? Seriusan? Wah keajaiban dunia," balas Chacha tak percaya. Dia benar-benar terkejut mendengar kabar ini. Tapi tak dapat dipungkiri, Chacha merasa bahagia melihat sahabatnya bahagia.
Agatha mengangguk dengan semangat, dia mulai menjelaskan kejadian dua hari yang lalu ketika Elvano datang ke rumahnya.
"Tau gak sih, waktu itu El dateng ke rumah gue setelah kita ketemu di gramedia."
"Kok bisa? Dia tau rumah lo? Dan kenapa baru sekarang lo cerita ke gue?" tanya Chacha kesal. Bisa-bisanya dia baru tahu sekarang. Sahabat macam apa Agatha ini.
Agatha meringis, "Maaf, baru sempet."
"Yaudah lanjutin ceritanya," ujar Chacha penasaran.
"Iya, dia tau rumah gue karena dulu pernah nganterin gue pulang. Malam itu, dia jelasin ke gue tentang siapa Elisa."
"Emang dia siapa?" Chacha pernah berpikir jika Elisa adalah sahabat Elvano melihat seberapa dekatnya mereka.
"Ternyata Elisa sepupunya." Agatha kesal dengan dirinya sendiri karena tidak tahu bahwa Elisa adalah sepupu Elvano.
"Gila, sepupu?" ujar Chacha sedikit terkejut. Gadis itu menggelengkan kepalanya karena menyadari Agatha yang cemburu buta pada orang yang tidak tepat.
"Lo sih, cemburu duluan. Kenapa kita gak nanya dari dulu? Harusnya kan kita cari tau dulu siapa Elisa," omel Chacha. Dia merasa bersalah karena ikut-ikutan bersikap sinis pada Elisa.
Agatha menunduk, "Ya maaf, namanya juga cemburu, gak bisa berpikir jernih."
Chacha mendengus, "Terus sekarang kalian pacaran?"
"Enggak," ujar Agatha dengan tersenyum. Teringat kembali percakapannya dengan Elvano semalam.
"Dih, digantungin dong?" ujar Chacha tidak terima.
"Enggak, dia kemarin bilang katanya dia gak mau pacaran. Cukup gue tau aja kalau perasaan dia cuma buat gue. Ahh, Elvano bikin gue tambah sayang." Agatha menggigit bibirnya menahan senyum. Pemuda dingin itu sukses membuat hatinya tidak karuan.
"Bagus deh, seenggaknya dia masih punya hati. Gue seneng kalau lo juga seneng." Chacha tersenyum melihat Agatha yang tersenyum.
"Makasih Chacha." Agatha memeluk Chacha tanpa aba-aba, membuat gadis itu nyaris terjengkang jika tidak berpegangan pada meja.
"Iya, iya, sama-sama."
Agatha melepaskan pelukannya ketika mendengar bel masuk berbunyi. Jam menunjukkan pukul tujuh tepat. Murid-murid di kelas XII IPA 1 sudah masuk dan duduk ditempat mereka masing-masing. Hanya ada beberapa kursi yang masih kosong, mungkin saja mereka terlambat.
"Ngomong-ngomong, lo cocok sama Kak Farhan," ujar Agatha tiba-tiba.
Chacha menoleh dengan mata melotot.
"Dih, amit-amit. Ogah gue sama playboy kayak dia.
Agatha tertawa melihat wajah kesal Chacha. Gadis itu masih ingin menggoda sahabatnya, tetapi guru yang mengajar sudah berjalan memasuki kelas.
"Pelajaran pertama apa, nih?"
"Matematika," jawab Agatha.
Wanita paruh baya bernama Meira itu sudah berdiri di tengah-tengah kelas sembari memegang tumpukan kertas.
"Selamat pagi, anak-anak. Siapkan selembar kertas, hari ini kita ulangan."
Kelas yang semula hening kini berubah menjadi gaduh. Beberapa murid protes karena adanya ulangan mendadak tanpa pemberitahuan. Beberapa lainnya hanya bisa menggerutu kesal. Sisanya hanya bisa pasrah dan berharap bisa mendapat contekan dari teman.
Agatha ikut menggerutu kesal karena semalam dia tidak belajar sama sekali. Meskipun dia pintar, tetapi kadang tetap kesulitan mengerjakan soal karena tidak belajar terlebih dahulu.
"Gue belum belajar, tolong," ujar Chacha memelas.
...***...
"Hallo, guys," sapa Chacha ketika sampai di sebelah meja Elvano dan lainnya.
"Duduk sini." Lucky menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
"Hai." Agatha menyapa Elvano sembari duduk di sebelah pemuda itu.
Tidak seperti biasanya, kali ini Agatha dan Chacha duduk diantara Elvano dan teman-temannya. Pemandangan tersebut membuat sebagian murid merasa penasaran karena melihat Agatha yang dengan santai duduk di sebelah Elvano. Hampir semua murid di sekolah tahu hubungan mereka. Elvano selalu menolak Agatha. Tetapi, melihat sekarang mereka duduk berdampingan membuat beberapa murid perempuan menatap iri pada Agatha.
"Kenapa?"
Agatha mengernyit bingung mendengar pertanyaan Elvano.
"Apanya?" tanya Agatha dengan sabar. Lagi-lagi Elvano membuat Agatha bingung dengan pertanyaannya yang kelewat singkat.
"Kenapa mukanya di tekuk?"
"Ohh itu, habis ulangan. Pusing banget." Agatha mengadu pada Elvano, kepalanya memang terasa pusing setelah berperang dengan angka-angka itu.
"Gak belajar?" tanya Elvano. Pemuda itu menyodorkan minuman miliknya yang masih utuh ke arah Agatha.
Agatha dengan senang hati menerimanya.
"Enggak," jawab Agatha setelah selesai minum.
"Kenapa?" Elvano mengusap dahi Agatha yang berkeringat dengan tangannya, membuat pipi gadis itu memerah. Sebisa mungkin, Agatha menahan dirinya agar tetap bersikap santai.
"Males belajar," ujar Agatha.
"Dasar." Elvano mendengus pelan sembari mengacak rambut Agatha.
Walaupun sikapnya terlihat manis, tetap saja raut wajah Elvano datar. Membuat Agatha semakin gemas padanya.
Lucky terbatuk-batuk dengan sengaja. Mencoba menyadarkan sepasang remaja yang sedang bermesraan tanpa melihat tempat.
"Keselek bata," celetuk Farhan sembari sibuk memakan makanannya.
"Banyak nyamuk," ujar Chacha ikut menggoda mereka.
"Berasa dunia milik berdua," ujar Lucky sembari menyeruput es teh miliknya.
"Yang lain mah cuma figuran," lanjut Farhan.
Chacha tertawa diikuti Lucky. Agatha memutar bola matanya malas. Suara-suara itu sungguh merusak suasana.
"Apa sih kalian?"
"Ayo pergi." Elvano berdiri sembari menggenggam tangan Agatha.
"Kemana?" tanya Agatha.
"Taman." Tanpa menunggu balasan Agatha, Elvano sudah menarik Agatha untuk keluar dari kantin.
"Kita ditinggal," ujar Lucky menatap pasangan yang perlahan menghilang dari pandangannya.
"Yang jomblo bisa apa?" jawab Chacha memakan makanan milik Lucky.
"Kita jadian yuk, Cha. Biar gak jomblo," ajak Farhan tanpa beban.
Chacha melotot, tangannya memukul lengan Farhan dengan keras.
"Amit-amit punya pacar kayak lo!"
"Hahaha, rasain tuh," ledek Lucky habis-habisan.
"Sungguh tega dirimu," ujar Farhan dengan wajah pura-pura sedih. Tangannya mengelus lengan yang baru saja Chacha pukul.
"Udahlah, gue mau ketemu Elisa. Kalian di sini aja, bye." Lucky berjalan meninggalkan mereka, tidak mempedulikan teriakan kesal Chacha.
"Kok gue di tinggal sih? Woy, Bang!" Chacha kesal, awas saja jika mereka bertemu nanti.
"Tuh, kan. Abang lo aja udah kasih restu buat kita berdua. Udah, ayok jadian," ujar Farhan dengan semangat. Seperti seorang bocah yang meminta membeli es krim pada ibunya
"Jadian aja sama tembok tuh!"
...***...
By the way, cerita ini emang ringan. Konfliknya juga ringan. Karena aku masih pemula, dan ini novel pertama yang aku tulis, jadi ceritanya juga biasa aja. Tapi jujur aku seneng banget karena ada yang baca, love you pokoknya buat kalian semua 💙