COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 42 - Pertengkaran



Suara ketukan pintu membuat Agatha menoleh. Keenan berdiri di ambang pintu sembari menyandarkan tubuhnya, menatap Agatha yang berbaring terlentang di atas ranjang. Keningnya mengernyit heran melihat adiknya yang terlihat tidak baik-baik saja. Mata sembab, rambut acak-acakan. Ditambah tisu yang berceceran di lantai. Pasti adiknya itu habis menangis.


"Kenapa, Bang?" tanya Agatha dengan suara serak.


"Makan dulu, yuk." Keenan berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang sembari terus menatap Agatha.


"Nanti aja." Agatha merubah posisinya menjadi miring menghadap Keenan.


"Kamu kenapa?" tanya Keenan dengan lembut. Tangannya mengusap sisa-sisa air yang yang masih membekas di pipi Agatha.


"Gak papa." Agatha menggeleng pelan. Dia juga tidak mengerti kenapa mendadak berubah cengeng seperti ini.


"Lagi galau nih pasti," tebak Keenan dengan nada menggoda.


Agatha tidak langsung menjawab melainkan menatap Keenan sembari berpikir, apakah dia harus bertanya pada kakaknya itu?


"Bang?"


"Apa?"


"Cowok kalau tiba-tiba jadi cuek, itu kenapa?" Agatha memutuskan untuk bertanya pada Keenan. Mungkin saja kakaknya itu lebih paham sebagai lelaki.


"Marah mungkin? Kenapa? Elvano marah sama kamu?" tebak Keenan tepat sasaran. Dia memang mengetahui hubungan Agatha dan Elvano. Tidak ada apapun yang ditutup-tutupi diantara kedua saudara itu.


Agatha mengangguk lesu, seharian ini dia selalu memikirkan Elvano. Sudah tiga hari ini mereka tidak saling bicara. Elvano terus menghindar darinya. Membuatnya bingung harus berbuat apa.


"Mungkin kamu bikin dia marah tanpa sengaja?"


"Gak tau. Dia aja cuma diem. Gimana bisa aku tau?"


Keenan mengusap kepala Agatha dengan sayang. Merasa kasihan melihat adiknya yang berubah murung akhir-akhir ini.


"Selesaikan masalah kalian baik-baik. Jangan sampai ada kesalahpahaman. Ajak dia ngobrol."


Agatha mengangguk, nanti, bagaimanapun caranya Elvano harus mau menjelaskan apa yang terjadi diantara mereka.


"Sekarang makan dulu, ya."


...***...


Aga


Elvan.


Kita perlu bicara.


Sudah sepuluh menit sejak pesan itu dia baca. Elvano hanya menatap layar ponselnya dalam diam. Sedang berpikir apa yang harus dia lakukan, membalas pesan Agatha atau mengabaikannya seperti sebelum-sebelumnya.


Setelah menghela napas kasar, pemuda itu bergerak untuk mengetik balasan.


^^^Apa?^^^


Balasan Agatha datang di detik berikutnya. Sepertinya gadis itu memang sedang menunggunya.


Kamu kenapa sih?


Aku ada salah sama kamu?


^^^Gak.^^^


Suara dering telepon yang berasal dari ponselnya membuat Elvano terdiam. Batinnya bergejolak, antara ingin mengangkatnya atau tidak. Sejujurnya dia merindukan suara Agatha.


Tiga kali panggilan dari Agatha masih Elvano abaikan. Panggilan keempat, pemuda itu memutuskan untuk mengangkatnya.


Begitu telepon tersambung, Elvano langsung mendengar suara Agatha. Gadis itu berbicara dengan nada menggebu, seolah tidak ingin Elvano melewatkan perkataannya kali ini.


"El, kamu kenapa sih? Kamu berubah ya. Kalau aku salah, kamu bilang! Biar aku tau. Kalau kamu diem aja, aku gak akan tau."


Sejenak tidak ada balasan dari Agatha. Mungkin gadis itu terlalu syok mendengar jawaban dari Elvano.


"Aku gak ngerti, El." Suara Agatha terdengar putus asa, membuat perasaan Elvano tidak karuan.


"Please, jelasin ke aku, apa kesalahan aku. Jangan kayak anak kecil gini dong, El. Kamu tau? Komunikasi dalam sebuah hubungan itu penting. Jangan buat semua ini tambah rumit dengan keterdiaman kamu."


Elvano tidak menjawabnya. Pemuda itu memilih untuk mengirimkan foto yang beberapa hari lalu dia dapatkan dari nomor asing.


^^^/send photo^^^


^^^?^^^


Beberapa detik kemudian, terdengar kembali suara Agatha di seberang telepon.


"Aku bisa jelasin. Kamu salah paham. Aku gak ada apa-apa sama Kak Sandi. Oke, aku emang makan siang bareng sama dia, tapi gak cuma berdua. Ada Chacha juga yang ikut. Kita kebetulan ketemu di mall. Dia ngajakin kita makan siang bareng, aku gak enak buat nolaknya. Cuma sekadar itu. Gak ada niat sedikit pun buat aku selingkuh dari kamu. Aku sama Kak Sandi cuma temenan, gak lebih. Kamu tau itu kan?"


"Gak ada tuh Chacha di foto." Elvano tersenyum miring meskipun Agatha tidak melihatnya.


"Kenapa kamu gak percaya sama aku?"


"Dua kali gue liat kalian bareng. Dan lo nyuruh gue buat percaya? Gue gak bego buat tau kalau Sandi suka sama lo," ujar Elvano tajam.


Agatha tidak langsung menjawab, gadis itu sedang berpikir apa maksud dari perkataan Elvano. Dua kali? Setelah mengingat-ingat kejadian apa saja yang dia lalui bersama Sandi, akhirnya gadis itu ingat pernah pulang bersama pemuda itu.


"Waktu itu aku pulang bareng Kak Sandi karena aku gak di jemput. Lagi pula kamu juga udah pulang kan ninggalin aku. Aku gak tau mau pulang sama siapa."


Elvano menggeram marah, "Gue belum pulang."


Terdengar suara tarikan napas dari seberang telepon. Sepertinya Agatha mulai lelah.


"Oke, aku minta maaf. Aku gak tau kalau kamu belum pulang. Aku sama sekali gak ada perasaan apapun ke Kak Sandi kalau itu yang kamu takutin. Aku cuma sayang sama kamu. Kamu pikir, dulu aku berjuang mati-matian buat dapetin kamu karena apa? Karena aku cinta sama kamu, secinta itu aku sama kamu sampai aku gak peduliin harga diri aku di depan kamu. Kalau boleh, aku pengen suka sama orang yang bisa nerima aku dan tulus suka sama aku. Tapi hati gak bisa bohong, El. Aku cuma mau kamu. Gak ada yang lain. Gak semudah itu untuk aku berpaling dari kamu. Dan kamu masih ngeraguin aku? Kamu gak percaya sama aku? Aku gak tau kamu dapet foto itu dari mana. Tapi seharusnya kamu percaya sama aku. Seenggaknya kamu tanya ke aku, kamu bisa minta penjelasan ke aku. Bukan cuma diem, El. Aku capek."


Tut.


Elvano termenung di dalam kamarnya. Telepon terputus karena Agatha mengakhirinya sebelum Elvano sempat mengatakan sesuatu. Rasa marah dan cemburunya kini tergantikan dengan perasaan bersalah.


Elvano mengacak rambutnya frustrasi. Perasaannya campur aduk.


"Bego lo, Van!"


Dia memang bodoh. Dia sudah menyakiti perasaan gadis yang dicintainya.


"Kamu kenapa?"


Elvano tersentak. Pemuda itu terkejut mendapati sepupunya yang duduk di sebelahnya.


"Kapan dateng?" tanya Elvano mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mendengar kedatangan Elisa. Atau mungkin karena dirinya terlalu fokus pada Agatha?


"Baru aja." Elisa memang sering berkunjung ke rumah Elvano. Jarak rumah mereka tidak terlalu jauh.


"Kamu kenapa?" tanya Elisa ketika melihat wajah lelah Elvano.


"Gak kenapa-kenapa."


"Pasti Agatha ya?" tebak Elisa. Siapa lagi yang sanggup membuat Elvano seperti ini jika bukan Agatha.


"Besok minta maaf gih ke Agatha. Jangan sampai kamu nyesel."


Karena diam-diam Elisa mendengar suara Elvano yang sedang berbicara lewat telepon dengan Agatha. Meski dia tidak mendengar suara Agatha, Elisa yakin mereka sedang bertengkar. Lagi pula, Elisa yakin jika Agatha Tidak sepenuhnya bersalah.


Di sisi lain ada Agatha yang kembali menangis dalam diam. Meski bantal yang dia gunakan sudah basah, Agatha tidak peduli. Gadis itu memejamkan matanya. Berharap bisa segera tertidur. Agar dia bisa melupakan sejenak masalah yang membuat kepalanya pusing.


...***...


Mau bilang apa ke Agatha sama Elvano?