COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 36 - Es Krim



3 bulan kemudian.


"Gak terasa ya waktu berjalan secepat ini."


Siang ini sepasang remaja sedang berada di salah satu kafe yang tidak jauh dari sekolah. Keduanya sedang menghabiskan waktu bersama setelah pulang dari sekolah.


"Kenapa?"


"Habis ini kamu lulus." Agatha menopang kepalanya dengan kedua tangan. Matanya tak lepas dari wajah tampan Elvano yang duduk di depannya. Ekspresi gadis itu terlihat murung alih-alih bahagia karena beberapa bulan lagi Elvano akan lulus.


"Terus?" Elvano menaikkan sebelah alisnya bingung, tidak mengerti kenapa Agatha terlihat bersedih.


"Kita gak bisa ketemu lagi di sekolah. Nanti aku sama siapa?" Agatha mengerucutkan bibirnya, rasanya tidak rela harus berpisah meskipun mereka masih tetap bisa bertemu di luar sekolah. Tetapi tentu saja waktu mereka bertemu tidak akan bisa sesering biasanya.


Elvano tersenyum lembut, ternyata itu yang Agatha takutkan.


"Kan masih ada Chacha."


"Tapi gak ada kamu."


Elvano menghela napas pelan, tangannya terangkat untuk mengusap kepala Agatha dengan sayang.


"Kita masih bisa ketemu kok di luar sekolah," bujuk Elvano dengan lembut.


"Beneran, ya?" Agatha mengangkat jari kelingkingnya ke depan wajah Elvano. Meminta pemuda itu untuk berjanji. Elvano tersenyum geli sembari menautkan jari kelingkingnya.


"Iya, Agatha."


Agatha merasa tenang, sebelumnya gadis itu begitu gelisah memikirkan bagaimana nanti jika Elvano sudah berkuliah. Pasti akan banyak gadis-gadis cantik lainnya yang Elvano temui di kampus. Bagaimana jika salah satu dari mereka berhasil merebut Elvano darinya?


Sekarang Agatha sudah merasa tenang, dia percaya Elvano akan setia padanya. Pemuda itu kan sudah berjanji akan menikahinya ketika sudah siap. Agatha tidak akan pernah melupakan janji itu. Memikirkannya saja membuat Agatha senyum-senyum sendiri.


"Kenapa kamu?" tanya Elvano heran.


"Gak papa. Kamu mau kuliah di mana?" tanya Agatha mengalihkan pembicaraan.


"Di Jakarta, aja."


"Beneran ya kita bakalan tetep sering ketemu?" tanya Agatha lagi untuk memastikan.


"Iya, sayang," ujar Elvano gemas sembari mengacak rambut Agatha. "Bawel."


Agatha merengut kesal, "Bawel tapi kamu sayang kan."


"Enggak," jawab Elvano dengan santai, sedangkan Agatha menatap pemuda itu dengan tatapan tidak percaya.


"Iya, aku gak sayang sama kamu," ujar Elvano dengan tatapan serius. Wajahnya datar seperti biasa.


Agatha terdiam, apa maksud Elvano?


"Maksud kamu apa? Kamu sendiri yang bilang waktu itu, katanya kamu sayang sama aku," ujar Agatha dengan mata berkaca-kaca.


"Aku gak sayang sama kamu, but i love you." Elvano tersenyum lembut sembari mengusap kepala Agatha. Merasa lucu melihat Agatha yang ingin menangis.


Plak


Agatha memukul lengan Elvano dengan kesal. Dia hampir menangis karena mengira Elvano benar-benar tidak menyayanginya.


"Becandanya gak lucu!" ujar Agatha kesal. Gadis itu meminum cappucino miliknya untuk menenangkan diri.


Elvano terkekeh geli melihat Agatha yang marah. "Mau es krim gak?" tawar Elvano, mencoba membujuk gadisnya agar tidak marah.


"Gak," jawab Agatha ketus.


"Beneran?"


"Hm."


"Rasa coklat, loh."


Elvano tahu Agatha sangat menyukai es krim terutama rasa coklat.


"Mama buat banyak tadi di rumah," lanjut Elvano ketika tidak mendapat jawaban dari Agatha.


"Gak." Agatha menunduk, pura-pura sibuk dengan minumannya. Padahal dalam hati, dia sangat ingin menerima tawaran Elvano.


"Kata Mama, dia buatin khusus buat calon menantu," ujar Elvano tidak menyerah. Pemuda itu tersenyum lembut.


"Ihh, mauuu!" jawab Agatha cepat. Dia tidak akan menolak es krim buatan Hana.


Elvano terkekeh melihat wajah berbinar Agatha. "Tapi bohong."


Agatha mendengus kesal, "Yaudah sih, aku bisa beli sendiri," ujar Agatha sinis.


"Becanda, ayo kita pulang ke rumah."


...***...


Maap, telat update