
"Cie yang baru jadian," celetuk Farhan sembari menaik-turunkan alisnya. Pemuda itu menatap Lucky dan Elisa dengan tatapan menggoda.
"Siapa?" tanya Lucky pura-pura tidak tahu.
"Halah, sok-sokan gak tau," cibir Farhan.
"Siapa yang jadian?" tanya Elisa dengan pipi memerah. Dia merasa malu.
"Kalian lah! Pokoknya kalian harus traktir kita. Ya nggak, Van?" ujar Farhan sembari menepuk pundak Elvano meminta dukungan. Tetapi Elvano hanya diam, tidak menanggapinya.
Farhan mengernyit heran, sejak pagi tadi tingkah Elvano sangat mencurigakan. Pemuda itu hanya terus diam dengan wajah datarnya. Sampai saat ini, mereka sedang berada di kantin pun pemuda itu hanya tetap diam.
"Van?" panggil Farhan lagi, kali ini dia menepuk pundak Elvano lebih keras.
"Hm?" jawab Elvano singkat, sedikit kesal karena Farhan memukul pundaknya.
"Kenapa lo? Dari tadi diem aja, sariawan?" tanya Lucky dengan heran, Elisa pun ikut memperhatikan Elvano. Memang ada yang aneh.
"Agatha kemana? Tumben kamu gak bareng dia?" tanya Elisa. Pagi tadi pun Elvano berangkat sendirian. Padahal biasanya Elvano dan Agatha selalu berangkat bersama.
Elvano hanya mengedikkan bahunya, malas menjawab pertanyaan teman-temannya.
"Ada apa nih? Lo gak berantem sama Agatha kan?" tebak Farhan menyadari sesuatu.
"Gak."
Farhan ingin bertanya lebih lanjut tetapi urung karena kedatangan dua gadis yang kini bergabung di meja mereka.
"Hai, abang-abang," sapa Chacha ketika duduk di sebelah kanan Lucky. Sedangkan Elisa duduk di sebelah kiri Lucky. Jadilah pemuda itu duduk diapit oleh kedua gadis yang sangat berharga di hidupnya.
"Hai bidadari," jawab Farhan sembari tersenyum lebar ke arah Chacha.
"Dih, apasih gaje," ketus Chacha.
"Hai, kamu belum pesen?" Agatha duduk di sebelah Elvano tanpa menyadari aura dingin yang Elvano keluarkan.
"Hm," jawab Elvano malas.
"Aku pesenin, ya?" Agatha hendak berdiri tetapi urung karena mendengar jawaban Elvano.
"Gak usah."
Agatha menghela napas pelan, dia harus lebih sabar meskipun rasanya dia ingin berteriak marah. Sebenarnya apa yang terjadi pada Elvano? Pemuda itu terus mengabaikannya tanpa mengatakan apapun. Membuat Agatha harus menebak-nebak apa yang ada di kepala Elvano.
"Kamu kenapa sih?" tanya Agatha pelan.
"Gak kenapa-kenapa," jawab Elvano datar tanpa menatap wajah Agatha. Pemuda itu sibuk dengan ponselnya sejak tadi.
"Bohong," ujar Agatha.
"Gue duluan," ujar Elvano tak menjawab perkataan Agatha. Pemuda itu pamit dan pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya.
Hati Agatha sakit rasanya. Mata gadis itu berkaca-kaca. Sekuat tenaga, dia menahan air mata yang ingin keluar. Setidaknya Agatha harus mendengar penjelasan Elvano terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk marah atau tidak.
"Mau kemana itu bocah?" tanya Farhan.
"Vano?" panggil Elisa sedikit kencang, tetapi tetap saja diabaikan oleh Elvano.
"Udah, biarin dia tenangin diri dulu. Mungkin suasana hatinya lagi buruk," ujar Lucky. Pemuda itu memang yang paling mengerti perasaan Elvano.
Chacha menatap Agatha dengan tatapan penuh arti.
"Gue? Gak papa, kok." Agatha tersenyum menenangkan.
"Kalian ada masalah?" tanya Elisa.
Agatha mengedikkan bahunya. Dia merasa tidak ada masalah sama sekali.
"Pasti ada sesuatu." Lucky menatap Agatha dengan pandangan bertanya.
"Dia keliatan marah," ujar Farhan menimpali.
"Semalem aja chat gue cuma dibaca," gumam Agatha yang masih terdengar oleh yang lainnya.
"Elvano kalau ngambek emang kayak bocah. Sabar-sabar aja ya, Tha." Farhan menepuk pundak Agatha menyemangati.
Agatha tersenyum tipis, "Gue susulin dulu, deh."
...***...
Kelas XII IPS 2 terlihat cukup sepi. Hanya ada beberapa murid yang tinggal di dalam kelas, termasuk Elvano yang ternyata memilih untuk kembali ke kelas.
"Ternyata kamu disini." Agatha duduk di sebelah Elvano. Pemuda itu menunduk menatap buku, bertingkah seolah sedang sibuk membaca.
"Kok tiba-tiba pergi, kenapa?" tanya Agatha lembut. Mungkin benar, suasana hati Elvano sedang buruk, karena itu sikapnya terlihat dingin.
"Gak ada," jawab Elvano cuek.
"Kamu marah ya sama aku?"
"Gak."
Agatha menghela napas lelah. "Bohong. Kamu marah kan? Sikap kamu beda banget."
Elvano menatap tajam Agatha, "Bohong apa sih? Gak ada apa-apa."
Agatha mengangguk pelan, gadis itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Yaudah, ini kamu makan. Aku bawain kamu bekal." Agatha menyodorkan kotak bekal berwarna biru yang berisi beberapa potong sandwich.
"Iya, nanti aja." Elvano mengabaikan kotak bekal yang Agatha berikan.
Agatha tersenyum kecut, bolehkah dia marah? Elvano selalu saja diam. Agatha lelah harus terus memahami pemuda itu. Bisakah sekali saja Elvano menjelaskan perasaannya, menjelaskan apa yang dia rasakan? Pemuda itu terlalu sering diam, membuatnya tidak mengerti dengan isi kepalanya. Mereka dekat, tetapi rasanya ada tembok penghalang yang membuat Elvano membatasi diri pada Agatha. Pemuda itu terlalu misterius.
"Kamu kenapa sih? Kalau aku ada salah, kamu bilang. Biar aku tau kesalahan aku dimana. Jangan diem kayak gini, aku gak ngerti. Aku bukan malaikat yang tau isi hati kamu," ujar Agatha dengan lembut meski dia menahan air mata.
Elvano berdecak kesal.
"Udah gue bilang gak ada apa-apa, kan!" bentak Elvano tanpa sadar. Bayangan Agatha yang sedang berduaan dengan Sandi membuatnya marah.
Agatha tertegun.
Air mata yang sebelumnya Agatha tahan kini mengalir membasahi pipinya. Gadis itu mengangguk paham.
"Oke, terserah."
Agatha berdiri, berjalan keluar dari kelas dengan air mata yang terus mengalir.
...***...
Mau bilang apa ke Elvano?