
Agatha menangis dalam diam. Meringkuk, memeluk guling dengan sangat erat. Air mata terus mengalir membasahi bantal. Tak peduli dengan Keenan yang terus memanggilnya dengan khawatir dari luar kamar. Sampai akhirnya Keenan menyerah. Memberi waktu sendiri untuk Agatha.
Hati Agatha sakit. Dia pikir, tidak akan sesakit ini. Dia pikir, masih ada kesempatan baginya untuk mendapatkan hati Elvano. Dia tau, Elvano adalah pemuda dingin yang tidak pernah dekat dengan gadis manapun. Karena itu Agatha yakin, dengan usaha lebih keras, gadis itu pasti bisa mendapatkan hatinya.
Tapi ternyata Agatha salah. Sekarang hanya ada rasa kecewa di hatinya. Hatinya hancur, semua sudah berakhir sekarang. Agatha tidak mungkin terus berjuang jika memang Elvano telah menjadi milik orang lain.
Agatha mengusap kedua pipinya yang basah. Gadis itu bangkit dari posisi berbaringnya, mengambil ponsel untuk menghubungi satu-satunya sahabat yang dia miliki. Gadis itu butuh seseorang untuk membagi rasa sakitnya.
Agatha menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Berusaha menenangkan dirinya sendiri dari rasa sakit yang menghantam dadanya.
Matanya bengkak, dadanya terasa sesak. Ternyata patah hati memang sangat menyakitkan.
Sambungan telepon terhubung, suara Chacha di seberang membuat Agatha kembali menangis.
"Tha? Agatha?" Chacha terus memanggil Agatha ketika tidak ada jawaban sama sekali.
"Cha ...."
Agatha tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Gadis itu menangis terisak. Lidahnya kelu, terlalu menyakitkan sampai-sampai Agatha tidak sanggup hanya untuk mengeluarkan kata-kata.
"Hey, kenapa?"
Pertanyaan dengan nada lembut itu membuat Agatha menarik nafasnya. Berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Tadi gue ketemu Elvan," lirih Agatha. Bayangan kedua tangan yang saling bertautan kembali membuat dadanya sesak.
"Terus? Lo kenapa nangis? Gara-gara Elvan, kan! Lo diapain sama dia?"
"Elvan sama cewek. Mereka gandengan tangan. Makan malam berdua." Agatha masih menjawab dengan suara lirih. Sarat akan luka.
"Apa? Kok bisa? Cewek itu siapa?"
"Gak tau, gak kenal." Yang Agatha ingat, gadis itu sangat cantik. Cocok sekali bersanding dengan Elvano.
"Yaudah, jangan terlalu dipikirin. Mungkin dia temennya, atau adiknya?" Chacha berusaha untuk berpikir positif.
"Gak mungkin! Adiknya Elvan masih kecil. Kalau emang dia temennya, kenapa harus gandengan tangan!"
Terdengar helaan nafas panjang dari seberang telepon. Chacha terdiam beberapa saat ketika mendengar suara isakan Agatha. Gadis itu sudah menduga akhirnya akan seperti ini. Karena itu sejak awal dia tidak terlalu suka ketika Agatha terus mengejar Elvano.
Chacha berusaha untuk membuka mata Agatha agar gadis itu tidak menyia-nyiakan waktunya hanya untuk meratapi nasip. Mungkin memang Elvano bukanlah takdir Agatha.
"Terus gue harus gimana? Sakit banget Cha, ngeliat dia senyum ke cewek itu. Sedangkan gue yang selama ini berjuang aja gak pernah liat Elvano senyum ke gue," ujar Agatha putus asa.
"Berhenti, Tha. Berhenti nyakitin diri lo sendiri. Lupain perasaan lo ke Elvano."
"Gak semudah itu, Cha!" Agatha pernah mencoba melupakan Elvano, tapi hasilnya tetap sama. Bukannya melupakan, Agatha malah semakin jatuh cinta padanya.
"Gak perlu buru-buru, pelan-pelan aja. Gue yakin, lo pasti bisa lupain dia."
"Tapi susah!" Memang dasarnya Agatha itu keras kepala. Sebanyak apapun Chacha meminta Agatha untuk berhenti, gadis itu tidak akan menurutinya dengan mudah.
Chacha tidak pernah lelah menasehati Agatha untuk melupakan Elvano. Karena dia pikir, untuk apa masih menyimpan rasa pada Elvano jika itu membuatnya terus merasa sakit hati? Seharusnya Agatha menyayangi dirinya sendiri dan tidak membiarkan hatinya jatuh ke dalam lubang yang salah. Bukan malah menjerumuskan diri ke dalam cinta yang menyakitkan.
"Dengerin gue! Kalau lo mau berusaha, lo pasti bisa. Gue yakin."
"Hm, gue coba."
Chacha tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Agatha. Dia merasa sedikit lega mendengar jawaban Agatha. Chacha hanya bisa berharap semoga Agatha tidak merasakan sakit yang sama kedepannya. Gadis itu berhak bahagia meski tanpa Elvano.
"Yaudah, sekarang jangan nangis lagi. Kasian Bang Ken kalau denger lo nangis. Pasti dia sedih."
"Iya, Cha. Makasih ya." Agatha tersenyum tipis. Air mata masih mengalir di pipinya. Dengan perlahan, Agatha mengusapnya.
"Hm, gue masih ada kerjaan nih. Gue belum ngerjain PR Fisika."
Agatha teringat tugas fisika yang belum dia kerjakan. Besok harus segara dikumpulkan. Tapi keadaannya yang seperti ini jelas Agatha tidak akan bisa menyelesaikan.
"Gue lagi gak bisa mikir. Besok gue nyontek lo aja ya," pinta Agatha.
"Iyaa, sana istirahat. Jangan begadang."
Agatha tersenyum tipis. Ya, benar apa kata Chacha. Sepertinya dirinya memang harus berhenti.
...***...
Kalian setuju gak sama pendapatnya Chacha? Ya meskipun gak semudah itu buat lupain seseorang yang kita suka, tapi kalau kalian jadi Aga, pilih tetep lanjut atau udahan?