
"Dari mana aja, lo?"
Pertanyaan dengan nada sinis tersebut membuat Agatha terkekeh alih-alih kesal. Gadis itu mendudukkan dirinya di samping Chacha yang memasang wajah datar.
"Dari rooftop."
"Ngapain?" tanya Chacha kesal. Tentu saja dia kesal. Pamitnya pergi sebentar, tau-tau saja kembali ke kelas di jam istirahat ke dua.
"Bolos," jawab Agatha sembari tersenyum lebar seolah tidak melakukan kesalahan apapun.
"Oh gitu, seorang Agatha ternyata udah berani bolos ya?"
Agatha terkekeh pelan, ini memang pertama kalinya dia bolos. Gadis itu berjanji dalam hati untuk tidak melakukannya lagi.
"Cuma sekali ini aja kok."
Chacha mendengus sebelum tersenyum tipis. Sepertinya Agatha sedang bahagia, dilihat dari gadis itu yang terus tersenyum sejak kembali ke kelas setelah bertemu Elvano.
"Gimana, udah baikan?"
Agatha mengangguk, "Udah, dia juga udah minta maaf."
"Bagus, deh."
Chacha terlihat ingin mengatakan sesuatu tetapi bimbang. Agatha yang melihatnya langsung mengerti ada sesuatu yang ingin sahabatnya bicarakan.
"Kenapa?"
Chacha menghela napas resah, gadis itu menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya.
"Akhir-akhir ini Kak Farhan sering banget nge-chat gue," keluh Chacha.
"Seriusan? Jangan-jangan dia suka sama lo?" tebak Agatha.
"Enggak! Gue gak mau! Jangan sampai lah, dia kan playboy." Chacha menggerutu kesal. Kenapa bukan lelaki baik-baik yang saja mendekatinya?
Agatha mengusap punggung Chacha prihatin, meskipun sebenarnya dia ingin tertawa. Lucu saja melihat Farhan dan Chacha yang sering berdebat, kini pemuda itu sedang melangsungkan pendekatan pada sahabatnya itu.
"Dia baik kok, mungkin kalau pacaran sama lo, dia bakalan tobat," ujar Agatha mendukung.
"Dih, ogah," tolak Chacha mentah-mentah.
"Jangan terlalu benci, karena benci dan cinta itu beda tipis," ujar Agatha sok bijak.
"Idih, dasar bucin," cibir Chacha.
Agatha memutar bola matanya malas. "Bucin itu normal. Tandanya gue masih punya hati."
"Ya ya ya, terserah."
...***...
Dering telepon terdengar di sepenjuru kamar. Agatha dengan malas, meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Melihat sejenak siapa yang menelponnya malam-malam seperti ini, seketika Agatha terduduk dan langsung mengangkat panggilannya.
"Assalamu'alaikum, Tante."
"Wa'alaikumussalam, sayang."
"Ada apa, Tan?"
"Besok rencananya Tante sama Nenek mau pergi ke rumah kalian."
Mata Agatha berbinar mendengar kabar tersebut.
"Beneran Tante? Jam berapa?" tanya Agatha antusias.
"Mungkin sore udah nyampe. Soalnya pagi Tante masih ada kerjaan."
"Oke siap, Tante. Aku tunggu pokoknya." Agatha tersenyum lebar, dia sudah sangat merindukan tante juga neneknya itu.
Dari seberang, Agatha bisa mendengar suara tawa lembut dari wanita itu. Mengingatkannya pada ibunya yang telah tiada. Setidaknya Agatha bersyukur, masih ada Sulis yang menyayanginya seperti menyayangi anaknya sendiri.
"Iya sayang, katanya Nenek kangen banget sama cucu kesayangannya."
"Aku juga kangen banget sama Nenek, sama Tante Lis juga. Gak sabar pengen ketemu."
"Yaudah, Tante tutup ya teleponnya. Jangan lupa kasih tau Abang."
"Oke."
Tut.
Agatha berlari menuruni tangga menuju ruang tengah. Menghampiri Keenan yang sedang bersantai di sofa. Abangnya itu sedang menonton berita di salah satu stasiun TV.
"Abang!" teriak Agatha sembari duduk di sebelah Keenan.
"Apasih, Dek? Jangan teriak, kebiasaan banget kamu. Ini bukan hutan loh." Keenan menyentil pelan dahi Agatha.
Agatha berdecak, "Biarin. Besok Tante Sulis sama Nenek mau ke sini," ujar Agatha dengan mata berbinar, melupakan kekesalannya pada Keenan.
"Oh ya? Kapan?"
"Sore. Nenek kangen sama aku katanya."
"Halah, Nenek pasti lebih kangen sama Abang," ujar Keenan menggoda.
"Akulah, pasti," ujar Agatha tidak terima.
Keenan terkekeh pelan, kemudian memiting kepala Agatha.
"Berarti besok kamu harus masak yang banyak."
Agatha cemberut, gadis itu malah menenggelamkan kepalanya di ketek Keenan yang ternyata wangi. Pasti abangnya itu baru selesai mandi.
"Aku kan gak bisa masak."
"Makanya belajar, mau di kasih makan apa nanti kalau Elvano jadi suami kamu?"
...***...
Garing gak si?