COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 18 - Bimbang



Sepanjang jam pelajaran, Elvano hanya melamun. Pemuda itu tidak bisa fokus mendengar penjelasan guru yang sedang mengajar di depan. Raganya berada di kelas, tetapi pikirannya melayang entah kemana. Lagi, Agatha berhasil memenuhi pikirannya.


Perkataan Chacha tentang Agatha yang pergi selalu berputar di kepala Elvano bagai kaset yang rusak. Dia bingung, ada apa dengan perasaannya? Kalau memang Agatha benar-benar pergi, itu bagus. Tapi, kenapa hatinya seakan tidak rela?


Jika Agatha pergi, tidak akan ada lagi yang mengganggunya. Tidak akan ada lagi yang mengekorinya kemanapun ia pergi. Tidak ada lagi sosok yang sangat mencintainya. Bukankah ini yang dia mau sejak dulu, Agatha pergi dari hidupnya. Tetapi kenapa rasanya dia tidak rela?


Selama ini, dia sudah terbiasa dengan Agatha yang selalu berada di sekitarnya sejak setahun yang lalu. Dan berpikir bahwa Agatha benar-benar berhenti mencintainya, membuat Elvano merasa kehilangan.


Hidupnya tidak akan lengkap tanpa Agatha.


Elvano sama sekali tidak berpengalaman dalam hal percintaan. Selama ini dia berpikir bahwa cinta tidak terlalu penting baginya. Ada masa depan yang harus dia kejar. Tentang mimpi. Itu jauh lebih penting dari sekedar cinta.


Elisa yang duduk di sebelah Elvano menyenggol lengannya saat sadar bahwa Elvano sedang melamun. Kebetulan mereka berada di kelas yang sama. Elisa bersyukur untuk itu, karena dia tidak perlu susah payah mencari teman baru. Gadis itu tidak terlalu pandai bersosialisasi.


"Kamu kenapa, sih? Dari tadi aku perhatiin kamu bengong terus. Lagi mikirin apa?" bisik Elisa ditelinga Elvano. Gadis itu melirik guru yang sedang mengajar, takut ketahuan kalau mereka sedang mengobrol.


"Gak ada," jawab Elvano singkat. Meski Elisa adalah salah satu orang yang dekat dengannya, dia tidak akan mudah menyampaikan isi hatinya. Elvano terbiasa diam dan hanya menyimpan sendiri apa yang sedang dia rasakan.


"Gak usah bohong," ujar Elisa. Matanya memicing mencoba mencari tau kebohongan Elvano di matanya.


"Kamu lagi mikirin Agatha, ya?" ujar Elisa ketika mengingat perkataan teman-temannya tadi siang tentang siapa Agatha.


"Sok tau." Elvano menyentil dahi Elisa pelan.


"Ihh, keliatan dari mata kamu. Kalau suka tuh bilang suka," ujar Elisa sembari mengusap dahinya.


"Siapa yang suka? Gak ada," elak Elvano. Dalam hati dia bertanya-tanya, apa benar dia mulai menyukai Agatha?


"Jangan sampai kamu nyesel nanti."


"Gak akan."


Laki-laki beserta gengsinya. Apa sebegitu sulitnya mengakui perasaannya sendiri? Apakah harga dirinya akan turun hanya karena ada seorang gadis yang mengejarnya terlebih dahulu?


Elisa menghela napas, susah sekali membuat Elvano mengakui perasaannya. Bukankah pemuda itu sendiri yang membuat semuanya menjadi rumit?


"Pantesan jomblo, dingin banget sih."


"Hm."


"Kurang-kurangin tuh dinginnya. Nanti gak ada cewek yang mau sama kamu."


"Gak butuh cewek." Dia butuh Agatha, mungkin?


"Terserah." Elisa sudah malas. Biarkan saja Elvano. Pasti nanti dia akan sadar sendiri. Lelah sendiri berbicara pada pemuda itu.


"Kalau Agatha beneran pergi, jangan nangis-nangis," ledek Elisa.


"Gak lah," ketus Elvano. Dia yakin Agatha tidak akan pergi. Bukankah gadis itu mengatakan sangat mencintainya?


"Siapa yang tau isi hati orang?"


...***...


Elisa adalah...


a. Sahabat El


b. Tetangga El


c. Sepupu El


d. Kembaran El