COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 45 - Pelukan Hangat



Jam menunjukkan pukul empat sore ketika Agatha duduk di sofa ruang tengah. Penampilannya sudah rapi, gadis itu mandi lebih awal demi menyambut kedatangan neneknya. Berkali-kali menengok ke arah pintu dan jam dinding secara bergantian, entah mengapa waktu terasa begitu lambat.


Sembari menunggu, Agatha memilih untuk berkutat dengan ponselnya. Sekitar tiga puluh menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Dengan semangat, Agatha berlari menuju pintu depan. Bahkan dia tidak peduli lagi pada ponselnya yang dia lempar ke atas sofa begitu saja.


Membuka pintu, sosok wanita yang sudah tidak muda lagi, tersenyum sembari merentangkan kedua tangannya. Dengan segera Agatha memeluknya erat.


"Nenek, kangen," rengek Agatha.


Neneknya itu tertawa pelan melihat tingkah cucunya yang manja.


"Nenek juga kangen banget sama cucu kesayangan nenek."


"Sama Tante kangen juga gak, nih?" goda wanita paruh baya yang berdiri di belakang sang Nenek.


Agatha tertawa sembari melonggarkan pelukannya, setelahnya memeluk Sulis sama eratnya.


"Kangen juga dong."


Sulis mengecup kening Agatha sembari mengeratkan pelukannya.


"Keenan mana?"


"Masih di kantor, mungkin sebentar lagi pulang. Ayo masuk," ajak Agatha setelah melepaskan pelukannya.


Ketiganya berkumpul di sofa ruang tengah. Saling berbincang melepas rasa rindu karena sudah lama tidak bertemu. Ketika sedang asyik mengobrol, suara ketukan pintu kembali terdengar. Sesaat, Agatha pikir yang datang adalah Keenan. Tetapi kemudian gadis itu tersadar, Keenan tidak akan mengetuk pintu karena biasanya abangnya itu langsung masuk. Kecuali jika hari sudah larut dan pintu sudah Agatha kunci.


Setelah pamit pada tante dan neneknya, Agatha berjalan menuju pintu depan. Gadis itu terkejut melihat siapa yang datang.


"Hai."


"Tumben ke sini?" Dahi Agatha mengernyit bingung. Bukannya tidak senang, dia hanya merasa kaget karena pemuda itu tidak memberitahu padanya akan datang.


"Gak boleh?" Elvano menaikkan sebelah alisnya.


"Boleh dong. Tapi di dalem ada Nenek sama Tante aku."


"Oh, oke." Mendadak Elvano merasa gugup. Dia tidak pernah bertemu keluarga Agatha selain Keenan. Pemuda itu hanya tahu bahwa orang tua Agatha sudah tiada.


"Ayo masuk." Agatha menarik lengan Elvano yang masih berdiri di depan pintu. Pemuda itu pasrah saja mengikuti tarikannya.


Sesampainya di ruang tengah, Elvano dapat melihat dua orang wanita berbeda usia yang sedang duduk santai sembari sesekali memakan camilan yang ada di atas meja.


Agatha membawa Elvano ke hadapan wanita yang sudah tidak lagi muda dilihat dari keriput yang menghiasi wajahnya. Meskipun begitu, wanita itu masih tetap terlihat bugar.


"Nek, kenalin ini temen Agatha. Namanya Elvano."


Elvano menunduk untuk mencium tangan sang nenek. "Elvano, Nek."


"Temen apa pacar nih?" goda Sulis sembari terkekeh.


"Temen, Tante," elak Agatha. Pipinya memerah karena malu. Sedangkan Elvano tersenyum tipis sembari menghampiri Sulis untuk mencium punggung tangannya.


"Agatha emang pinter nyari pacar," sahut Sulis.


"Tanteee ihh." Agatha menutup wajahnya dengan kedua tangan. Malu karena terus-terusan digoda oleh tantenya. Sulis hanya tertawa karena berhasil membuat Agatha salah tingkah. Lucu sekali.


"Karena Tante sama Nenek baru sampai, pasti laper kan. Ayo makan dulu. Agatha udah masakin khusus buat kalian," ajak Agatha dengan semangat.


"Yakin yang masak kamu?" tanya Sulis tidak percaya yang langsung membuat Agatha mengerucutkan bibirnya.


"Abang sih yang masak tadi."


"Gak papa, ayo ajak pacar kamu sekalian," ujar Nenek sembari berjalan lebih dulu menuju meja makan.


"Ayo, El."


Elvano yang sedari tadi hanya diam pun mengangguk dan mengikuti ketiga wanita itu menuju meja makan.


...***...


Matahari sudah terbenam, digantikan oleh bulan dan bintang-bintang yang menghiasi malam. Terlihat sangat indah. Semilir angin menemani kedua insan yang sedang duduk bersama di taman belakang rumah Agatha. Ya, Elvano memang belum pulang. Jam masih menunjukkan pukul delapan malam. Belum terlalu larut untuk pulang.


"Dingin?" tanya Elvano ketika menyadari Agatha hanya mengenakan kaos pendek.


"Sedikit." Agatha melipat kedua tangannya di depan dada. Berusaha untuk menghalau angin yang berhembus lumayan kencang.


"Pakai jaket sana," perintah Elvano.


Agatha menggeleng, dia malas jika harus mengambil jaketnya yang terletak di lantai atas. Malas naik turun tangga.


Elvano berdecak, "Katanya dingin?"


Agatha menatap Elvano kesal. "Dasar gak peka," gerutu Agatha.


Elvano hanya mengernyit bingung, tidak mengerti kenapa Agatha malah mengatainya tidak peka. Apa yang salah dari dirinya?


"Kamu mau apa?" tanya Elvano lembut.


"Ya apa kek, dipeluk gitu misalnya, biar aku gak kedinginan," ujar Agatha dengan sedikit kesal. Berbicara dengan Elvano yang dingin memang terkadang harus lebih bersabar.


Elvano tersenyum geli, tangannya mencubit hidung Agatha gemas.


"Kenapa gak bilang kalau kamu pengen dipeluk?"


"Males ah, kamu emang gak peka." Agatha menatap ke arah depan, pura-pura marah.


"Iya, iya, maaf. Sini aku peluk." Elvano menarik Agatha ke dalam dekapan hangatnya. Tangan besarnya melingkupi tubuh kecil Agatha, mencoba memberikan kenyamanan pada gadis itu.


...***...


Kalau habis ini end gimana?