COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 50 - Tidak Datang



Chacacing


Agatha, main yuk.


Agatha berdecak kesal membaca pesan dari Chacha. Tadi siang saja gadis itu mengusirnya, mengatakan padanya bahwa ia sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Kenapa malah malam-malam seperti ini mengajaknya keluar. Agatha sudah terlanjur malas. Dia ingin tidur saja.


^^^Males.^^^


Yah, kok gitu?


Gue laper, temenin gue nyari makan yuk.


^^^Udah berubah miskin lo,^^^


^^^sampe makanan aja gak punya?^^^


^^^Cari sendiri.^^^


Ayolah, Tha.


Gue gak berani keluar malem sendiri


^^^Bodo.^^^


Lo marah ya sama gue?


^^^Gak.^^^


Maaf ya.


Tadi pagi gue bener-bener sibuk.


^^^Gpp.^^^


Sebagai gantinya, gue traktir deh malem ini.


^^^Males.^^^


Please, Agatha.


Ayo, masa lo tega biarin gue sendirian?


^^^Ke mana?^^^


Cafe Rembulan.


^^^Ok.^^^


Kita ketemuan di sana aja deh ya


Biar cepet.


^^^Y.^^^


Agatha menutup ponselnya ketika tidak ada balasan lagi dari Chacha. Dia memutuskan untuk menuruti permintaan Chacha, lagi pula sebenarnya Agatha juga bosan berada di rumah sendirian. Keenan belum pulang, entah ke mana abangnya itu. Apakah malam minggu seperti ini juga harus lembur?


...***...


"Sip, Agatha on the way ke sini."


Chacha dan yang lainnya sudah berada di tempat sejak sore tadi. Mereka mendekorasi sendiri ruangan di lantai dua cafe yang sudah di booking sebelumnya. Sebuah kue dengan lilin berangka tujuh belas itu sudah siap berada di tengah ruangan. Tinggal menunggu sang pemilik datang.


"Eh, tapi Elvano mana?" Farhan bertanya ketika tidak mendapati kehadiran sahabatnya itu.


"Gak tau, padahal dia peran utamanya," jawab Lucky sembari mengedikkan bahunya.


"Macet mungkin. Tadi dia juga udah bilang katanya masih di perjalanan," sahut Elisa.


"Kita tunggu aja," ujar Keenan menengahi.


"Agatha ke sini naik apa?" tanya Keenan pada Chacha.


"Taksi kayaknya, Bang."


Keenan mengangguk, lelaki itu memilih untuk duduk di salah satu kursi. Sudah lima belas menit, Elvano tak kunjung datang, membuat Elisa sedikit khawatir. Gadis itu memendam rasa cemasnya agar tidak merusak suasana dan membuat yang lainnya ikut khawatir.


"Elvano ke mana, dah?" Farhan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan malam.


"Gak tau," sahut Lucky.


"Keburu Agatha dateng ini," gerutu Farhan kesal. Dia sendiri yang merencanakan acara kejutan ini, tetapi malah tidak ada di tempat ketika acara hampir dimulai.


"Biar aku telepon," ujar Elisa.


"Iya, suruh cepet gitu, udah jam segini," jawab Lucky yang berdiri di sampingnya.


Elisa menggigit bibir bawahnya cemas karena tidak ada jawaban apapun. Nomornya aktif, tetapi tidak diangkat oleh pemiliknya. Entah sedang apa Elvano sampai tidak sempat mengangkat telepon.


"Gak diangkat." Elisa tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya.


"Astaga, gimana ini?" Chacha ikutan merasa cemas.


"Kita tunggu dulu, gak papa. Mungkin jalanan macet banget," ujar Keenan berusaha berpikir positif.


...***...


Agatha berjalan memasuki cafe. Dirinya baru saja sampai tepat pada pukul delapan malam. Salahkan jalanan ibukota yang sangat macet, tidak peduli siang ataupun malam.


Cafe rembulan tidak terlalu ramai malam ini, tetapi tidak juga sepi. Agatha melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Sebelumnya Chacha sudah memberitahunya bahwa dia memesan meja di lantai atas.


Ketika sampai di lantai atas, Agatha di kejutkan oleh teriakan teman-temannya. Tidak terlalu ramai memang, hanya teman sekelasnya dan beberapa teman dekatnya.


"HAPPY BIRTHDAY!" teriak Chacha heboh sembari memeluk Agatha dengan erat. Kedua tangannya memegang balon berbentuk bulat dengan tulisan happy birthday di tengah-tengahnya.


Agatha terkekeh geli sembari membalas pelukan Chacha. Dia benar-benar tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Setelah cukup, Agatha beralih memeluk Keenan dengan erat. Matanya berkaca-kaca karena terlalu bahagia. Dia pikir, semua orang melupakan hari ini, ternyata tidak. Mereka sedang mempersiapkan kejutan yang sama sekali tidak pernah Agatha duga.


"Selamat ulang tahun adiknya Abang. Bahagia terus ya." Keenan memberikan kecupan-kecupan ringan pada puncak kepala Agatha.


"Makasih, Abang," gumam Agatha. Dirinya benar-benar menangis di dada Keenan. Separuh dari dirinya merindukan kehadiran orang tuanya. Karena dulu, mereka akan selalu merayakan ulang tahun bersama. Sejak kematian orang tuanya, Agatha hanya merayakan ulang tahun bersama dengan Keenan.


Agatha melepaskan pelukannya, tangannya bergerak untuk menyeka air mata yang terus mengalir meski bibirnya menyunggingkan senyum lebar.


"Ciee tambah tua," ujar Farhan menggoda.


"Happy Birthday, Agatha," ujar Lucky.


"Selamat ulang tahun, Tha," lanjut Elisa.


Agatha memandang satu persatu teman-temannya yang hadir. Bibirnya tidak berhenti tersenyum meski dia merasa ada yang ganjil.


"Gue gak ngerti mau ngomong apa. Kalian jahat banget sih," ujar Agatha sembari terkekeh.


"Cup cup cup." Chacha menepuk punggung Agatha berkali-kali.


"Makasih semuanya," ujar Agatha, merasa sangat bahagia. Padahal seharian ini dia merasa sangat tidak mood melakukan apapun karena mengira mereka tidak mengingat hati ulang tahunnya.


"Sekarang waktunya potong kue terus makan-makan," ujar Farhan dengan semangat.


"Dasar, makan mulu pikiran lo," cibir Lucky.


"Oh iya, Elvano mana?"


...***...