COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 61 - Kembali [END]



Hari sudah mulai gelap. Matahari sudah kembali ke peraduannya. Digantikan oleh bulan yang tak kalah terangnya. Tentunya ditemani oleh bintang-bintang yang setia menghiasi langit malam.


Suasana tenang begitu terasa di ruang rawat Elvano. Sepasang remaja sedang tertidur pulas dalam kondisi yang berbeda. Seorang pemuda berbaring tenang di atas ranjang pasien. Wajahnya putih pucat, menandakan tubuhnya tidak sepenuhnya dalam keadaan sehat. Sudah berminggu-minggu ia terlelap dalam tidurnya. Bahkan ia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran seorang gadis yang tertidur di sisinya dengan memeluk erat tubuhnya.


Kini, mata yang telah lama terpejam, perlahan bergerak. Elvano, pemuda itu perlahan membuka matanya. Sedikit menyipitkan mata untuk menyesuaikan penglihatannya. Terlalu lama tertidur, sampai rasanya sulit untuk membuka matanya lagi.


Sejenak, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Elvano masih berusaha menormalkan penglihatannya. Mendapati dirinya terbangun dalam ruangan serba putih, ia menebak bahwa tempat ini adalah rumah sakit.


Merasa ada beban yang menimpa dadanya, pemuda itu melirik ke bawah. Ada tangan yang melingkari tubuhnya. Elvano menoleh ke sisi kanan. Senyum tipis terpatri di bibir pucatnya melihat gadis yang sangat amat ia cintai, sedang tertidur dalam posisi setengah duduk.


Elvano terus menatap wajah Agatha yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Kepala gadis itu berada tepat di samping kepalanya dengan posisi tubuh yang terduduk di kursi samping ranjang pasien. Pemuda itu bertanya-tanya, apakah Agatha tidak lelah tertidur dengan posisi seperti itu?


Perlahan, tangan Elvano terangkat untuk membelai rambut Agatha. Ia sama sekali tidak berniat untuk membangunkan gadis itu. Biarkan seperti ini sebentar. Jarang-jarang Elvano melihat wajah polos Agatha ketika sedang tertidur.


Agatha yang merasa terganggu pun membuka matanya. Merasa ada yang aneh, gadis itu segera mendongakkan kepalanya. Seketika matanya berkaca-kaca melihat Elvano yang membalas tatapannya sembari tersenyum.


"El?" lirih Agatha. Merasa belum percaya.


Elvano mengangguk pelan sembari merentangkan kedua tangannya dalam posisi berbaring. Dengan cepat, Agatha memeluk Elvano erat. Air matanya mengalir deras. Merasa sangat senang karena penantiannya sudah berakhir.


"Kamu bangun, El. Kamu bangun," gumam Agatha dalam tangisnya.


Elvano membalas pelukan Agatha sama eratnya. Ia merasa beruntung karena wajah Agatha lah yang pertama kali ia lihat ketika membuka matanya.


"Hey, kenapa nangis?"


Agatha melonggarkan pelukannya, matanya kembali sembab karena terlalu banyak menangis.


"Kamu jahat tau gak? Kenapa lama banget tidurnya?" rengek Agatha manja.


Elvano tersenyum sembari menghapus air mata Agatha yang membasahi pipinya.


"Sekarang kan udah bangun. Jangan nangis lagi ya, kamu jelek."


Agatha mengerucutkan bibirnya kesal, tetapi kemudian kembali memeluk Elvano dengan erat.


"Akkh...."


Agatha terkejut mendengar rintihan Elvano. Seketika ia sedikit menjauh dengan panik.


"Kenapa? Ada yang sakit? Aku panggilin dokter ya?" Agatha berdiri, hendak keluar memanggil dokter. Namun, Elvano dengan cepat menahan lengannya.


"Gak usah. Aku baik-baik aja."


"Baik-baik aja gimana? Kamu aja kesakitan tadi," ujar Agatha sedikit kesal. Sebenarnya itu salahnya juga karena memeluk Elvano tanpa hati-hati sampai tidak sengaja menyenggol bekas luka di perutnya.


"Udah enggak, sayang."


Agatha luluh karena panggilan sayang yang Elvano ucapkan.


"Beneran? Gak bohong, kan?"


Elvano hanya mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa kering, padahal ia tidak terlalu banyak bicara tadi.


"Tolong ambilin minum."


Agatha segera berdiri, berjalan mengambil air minum yang terletak di atas meja. Tak lupa mengambil sedotan untuk memudahkan Elvano minum. Setelahnya, gadis itu kembali mendekat ke arah Elvano dan membantunya untuk minum.


Ceklek


Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian keduanya. Hana sangat terkejut ketika melangkah memasuki ruang, ia mendapati putranya telah siuman. Hana tersenyum lebar. Elvano sudah kembali.


"Sayang?" Mata Hana berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu segera berjalan mendekati Elvano dan memeluknya dengan erat. Dia merasa sangat bahagia.


"Gimana keadaan kamu?"


"Udah mendingan, Ma." Elvano tersenyum menenangkan. Ia tahu, mamanya pasti sangat khawatir pada  keadaannya.


"Abang!!" Ternyata, Hana tidak sendirian. Ada Angel yang datang bersamanya. Gadis itu hanya berdiri mematung di depan pintu yang terbuka. Tersenyum lebar sembari menatap Elvano penuh dengan kerinduan. Setelah Hana melepaskan pelukannya, Angel segera berlari menubruk tubuh Elvano dengan keras. Pemuda itu sedikit meringis karena merasa perih di perutnya. Tetapi itu tidak berlangsung lama karena ia lebih memilih untuk membalas pelukan adik tercintanya.


"Kenapa, hm? Rindu Abang?"


"Iyalah! Banget! Pokoknya Abang harus cepet sembuh biar boleh pulang. Nanti kita jalan-jalan bareng lagi," ujar Angel dengan semangat. Ia merasa kesepian selama Elvano koma. Pemuda itu terkekeh pelan sembari mengusap kepala Angel dengan sayang. Tentu ia akan menuruti permintaan adiknya setelah ia sembuh nanti.


Beberapa menit kemudian, teman-teman yang lainnya datang menjenguk. Farhan yang pertamakali memasuki ruangan dikejutkan dengan pemandangan di depannya. Disusul Lucky di belakangnya yang tak kalah terkejut.


"Woy, udah sadar lo!" teriak Farhan kegirangan. Pemuda itu segera berjalan mendekati Elvano.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Elisa yang juga datang bersama mereka.


"Udah baikan."


"Ciee, Agatha udah gak galau lagi nih," goda Chacha menatap jahil pada Agatha. Gadis itu terkekeh geli setelahnya.


"Apasih, Cha!" Agatha mendengus kesal.


"Bener tuh. Gue kasih tahu ya, Van. Agatha dari kemarin-kemarin nangis terus. Gak mau makan, gak mau pulang, gak mau mandi. Dan yang lebih parahnya lagi, dia gak mau sekolah," ujar Lucky sembari tersenyum lebar seolah-olah dia tidak bersalah telah mengatakan itu semua.


"Diem deh lo! Dasar kalian kakak adik sama aja!" Agatha benar-benar kesal, sedangkan mereka yang berada di ruangan itu malah asyik tertawa tanpa peduli pada pipinya yang sudah memerah karena malu.


"Gak usah gangguin, Agatha," bela Elvano sembari menatap tajam Lucky. Sebenarnya ia merasa senang mendengar perkataan Lucky. Tetapi ia tidak tega melihat wajah Agatha yang memerah. Meskipun itu terlihat lucu di matanya.


"Wih, pawangnya galak," cibir Chacha.


Hana yang melihat obrolan anak-anak muda tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Udah-udah. Tante beli banyak makanan tadi. Ayo dimakan."


"Wah, makasih Tante. Tau aja saya lagi laper," sahut Farhan dengan semangat. Ia tidak akan menolak jika ada makanan.


"Dasar tukang makan," cibir Chacha.


"Suka-suka. Kalau kamu mau, tinggal ambil aja sih." Farhan merangkul bahu Chacha yang berdiri di sebelahnya. Tetapi langsung ditepis gadis itu dengan kasar.


"Jangan pegang-pegang!"


Agatha menatap Elvano sembari menggenggam tangannya. "Kamu mau makan?"


"Gak ada tenaga," gumam Elvano. Ia memang belum bisa duduk karena luka di perutnya. Tubuhnya juga terasa lemas.


"Aku suapin."


Hari ini akhirnya semua telah berakhir. Waktu yang ditunggu-tunggu semua orang telah tiba. Elvano kembali ditengah-tengah mereka. Kini, hanya ada kebahagiaan yang mereka rasakan. Terutama Agatha.


Mungkin kedepannya masih banyak rintangan yang harus mereka lewati. Namun, keduanya telah berjanji untuk melewatinya bersama. Dalam suka maupun duka. Elvano tidak akan pernah melepaskan Agatha.


...END...


...***...


Hai semua. Aku mau ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya buat kalian yang udah meluangkan waktunya buat baca kisah AgaEl.


Maaf, kalau ada kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja menyinggung kalian. Aku tau kisah ini masih banyak banget kekurangannya. Aku terbuka untuk kritik dan sarannya.


Semoga ada sedikit pelajaran yang bisa dipetik dari cerita Cold Boy ya. Ambil baiknya, buang buruknya.


Barangkali kalian mau kasih kesan pesan buat para tokoh, ataupun kasih pertanyaan, komen di bawah sini ya. Nanti aku jawab satu-satu.


Agatha


Elvano


Chacha


Farhan


Elisa


Lucky


Melati


Sandi


El (Author)


Ekstra Part menyusul ygy :)


Akhir kata, aku pamit undur diri. Jangan lupa follow Instagram @its.biiruee


Sampai jumpa di karya-karya berikutnya. Love you, all.