COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 19 - Bandung



Agatha menutup pintu kamar dari luar ketika melihat neneknya sudah tertidur lelap. Gadis itu merogoh saku celananya, ponselnya terus bergetar sedari tadi. Ada 3 panggilan telepon tak terjawab dari sahabatnya.


Agatha duduk di sofa ruang tengah ketika ponselnya kembali berdering. Nama Chacha terpampang jelas di layar ponselnya. Dengan segera Agatha mengangkat panggilannya sebelum Chacha menerornya.


"Agathaaa. Woy! Kemana aja sih!"


Suara teriakan Chacha memenuhi gendang telinga Agatha. Membuat gadis itu sedikit terkejut dan menjauhkan ponselnya sejenak.


"Apasih, Cha? Kangen lo, ya! Gue tau, gue emang ngangenin," ujar Agatha dengan percaya diri. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Dih, PD banget."


Agatha hanya tertawa pelan. Ah, dia rindu pada Chacha.


"Lo kenapa gak masuk? Gak ada kabar juga. Bolos ya?"


"Enak aja! Enggak, lah! Gue di Bandung."


"Hah? Ngapain? Kok gak bilang-bilang."


Chacha merasa kesal karena Agatha tidak memberitahunya. Dengan seenaknya Agatha pergi menghilang tanpa kabar.


"Nenek sakit, gak ada yang jagain."


"Ohh. Sampai kapan lo di Bandung?"


"Gak tau. Untuk sementara gue gak bisa masuk sekolah. Gue udah izin sama wali kelas."


Agatha tidak tahu sampai kapan dia berada di sini. Tantenya bilang, dia akan pulang tiga hari lagi. Mungkin saat itu, dia sudah bisa kembali ke Jakarta.


"Lo di sana sendiri atau sama Bang Ken?"


"Sendiri. Bang Ken harus kerja, gak bisa libur. Dia cuma nganterin gue kemarin. Habis itu pulang."


"Yaudah, cepet sembuh ya buat Nenek."


"Aamiin. Makasih, Cha."


Agatha tersenyum mendengar kepedulian Chacha. Dia sahabat yang baik, bukan?


"Gak ada lo sepi. Gue sendirian."


Chacha memang terbiasa selalu bersama Agatha. Dan ketika Agatha tidak ada, dia merasa sangat kesepian. Gadis itu tidak terlalu dekat dengan teman-teman sekelas mereka yang lain.


"Haha, kasian banget sih."


"Jahat, lo! Tadi sih gue gabung sama Abang gue. Tapi disana ada cewek itu. Males banget, deh."


Chacha merasa kesal ketika mengingat kembali kejadian siang tadi. Mengapa gadis itu harus datang? Mengganggu saja.


"Elisa?"


"Kok lo tau namanya?"


Saat itu Agatha sempet mendengar mereka mengobrol dan Elvano menyebut nama gadis itu. Merasa terlihat sangat dekat, seperti sudah mengenal sejak lama.


"Gimana perasaan lo?"


"Gak gimana-gimana," ujar Agatha santai meski sebenarnya hatinya tengah berdenyut nyeri.


"Jangan bohong!"


Chacha jelas tahu bagaimana perasaan Agatha. Pasti hatinya sangat sakit. Gadis itu kan tidak pandai menyembunyikan perasaan.


Agatha menghela napas, tidak ada gunanya berbohong pada Chacha. "Hancur, Cha. Gue mau nyerah aja. Gue udah capek banget."


Ya, Agatha bertekad untuk melupakan Elvano mulai detik ini.


"Malah bagus. Mau gue cariin cowok lain?"


"Halah, cari cowok buat lo sendiri sana! Gak sadar apa lo juga jomblo."


"Sorry ya, gue single."


"Bodoamat. Gue pengen sendiri dulu, gue butuh waktu buat move on."


Agatha akan memanfaatkan waktunya dengan baik. Berada jauh dari Elvano membuatnya lebih mudah untuk melupakan pemuda itu.


"Iya, deh."


"Gue bersyukur sekarang ada di Bandung. Seenggaknya gue punya waktu buat menghindar dari Elvano. Gue belum siap lihat dia sama cewek lain."


Semoga saja ketika pulang nanti, Agatha tidak akan merasa sakit hati lagi saat melihat Elvano dan Elisa bersama.


"Iya, Tha. Tapi jangan lama-lama di Bandung. Lo gak kasian sama gue?"


"Iyaaa, paling sebulan lagi gue pulang."


"Heh, itu lama ya!"


Chacha kembali berteriak. Apa-apaan? Satu bulan itu sangat lama. Chacha tidak bisa bertahan sendirian selama itu.


"Becanda. Enggak sampai sebulan. Nunggu Tante gue pulang dari London. Setelah itu gue pulang ke Jakarta." Agatha terkekeh geli.


"Gue tunggu." Chacha menghela napas lega.


"Udah dulu ya, Cha."


"Iya, bye Tha."


...***...


Aga mau healing dulu ygy.