COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 21 - Semakin Tua



Hari sudah malam ketika Agatha masuk ke dalam kamar neneknya. Gadis itu membawa nampan berisi makan malam untuk sang nenek yang sedang berbaring sembari menatap langit-langit kamar. Wanita yang sudah tampak tua itu tersenyum melihat kedatangan cucunya.


Agatha duduk di tepi ranjang, tersenyum lembut pada neneknya yang terlihat semakin tua di makan usia.


"Nenek makan dulu, ya? Agatha buatin bubur."


"Iya, sayang."


Agatha membantu neneknya untuk bangun dari posisi berbaringnya. Gadis itu mengambil beberapa bantal dan menaruhnya di belakang punggung neneknya.


"Maaf ya Nenek ngrepotin kamu," ujar Nenek sembari terbatuk-batuk.


"Kok gitu? Agatha gak merasa di repotin kok." Agatha tersenyum lembut, tangannya menggenggam tangan neneknya.


"Kamu emang cucu kesayangan Nenek."


Agatha tersenyum, "Yaudah, Nenek makan dulu ya. Agatha suapin." Dengan penuh kelembutan, Agatha mulai menyuapi neneknya dengan telaten.


"Sekolah kamu gimana?"


"Baik-baik aja."


"Kamu gak papa bolos lama? Kalau ketinggalan pelajaran gimana?"


Sudah empat hari Agatha berada di Bandung. Nenek hanya merasa khawatir dengan sekolah cucunya. Dia sangat tau Agatha adalah seorang murid yang rajin, tidak pernah membolos sama sekali. Apalagi sampai berhari-hari.


"Ihh, Nenek. Agatha gak bolos kok, kan udah izin," ujar Agatha tidak terima. Sejujurnya dia merasa senang berada di Bandung saat ini. Tidak masalah dia harus mengejar materi yang tertinggal. Itu lebih mudah ketimbang mengejar Elvano yang sangat sulit untuk digapai.


Nenek hanya tertawa pelan, sesekali kembali terbatuk-batuk. Agatha dengan sigap mengambil gelas air putih untuk neneknya.


"Agatha gak akan ketinggalan pelajaran kok. Nanti Agatha pinjem catatan punya temen."


"Syukurlah," ujar Nenek, tangannya terulur untuk mengusap kepala Agatha.


"Nenek lupa ya aku selalu jadi juara kelas?" Agatha cemberut, pura-pura kesal pada neneknya.


"Mana bisa Nenek lupa. Makanya Nenek tanya, kalau ketinggalan pelajaran gimana? Kalau gak bisa dapet juara kelas lagi gimana?"


"Gak masalah. Yang penting sekarang Nenek harus sehat. Jangan sakit lagi ya."


Agatha sangat menyayangi neneknya. Sejak kecil memang dirinya sangat dekat dengan nenek. Apalagi sejak kedua orang tuanya pergi, Agatha menjadi lebih sering mengunjungi neneknya untuk mengurangi rasa sepi.


"Iya, Nenek pasti sembuh, kan kamu yang ngerawat Nenek," ujar Neneknya ketika menyadari tatapan sendu Agatha. Dia hanya tidak ingin cucu kesayangan bersedih. Walaupun wanita tua itu sadar, umurnya tidak lama lagi. Dia sudah sangat tua, cepat atau lambat kematian itu akan datang.


Agatha mengangguk, kembali menyuapkan sesendok demi sesendok bubur ke mulut neneknya.


"Temen-temen kamu di sana gimana? Baik-baik, kan?"


"Baik kok, Agatha punya sahabat namanya Chacha. Dia sahabat terbaik Agatha."


"Syukurlah kalau mereka baik. Kalau pacar ada gak nih?" goda Neneknya, wanita yang sudah berumur itu kembali tertawa pelan.


"Aku gak punya pacar, nenek!" Agatha cemberut.


"Kirain udah punya. Kalau iya kan nenek pengen kenalan. Kenapa gak pacaran?" tanya Nenek penasaran, biasanya pemuda seumuran Agatha kebanyakan sudah memiliki pacar.


"Gak ada cowoknya, Nek."


"Bagus kalau gitu. Gak usah pacar-pacaran dulu. Fokus sama sekolah. Kamu masih SMA, masa depan kamu masih panjang." Nenek bukannya melarang Agatha berpacaran, hanya saja lebih baik jangan.


"Siap, Nenek. Aku gak pacaran kok."


Pengennya sih pacaran sama Elvano, tapi dia udah punya Elis.


Agatha tersenyum kecut karena kembali teringat pada Elvano.


"Nenek udah kenyang," ujar Nenek sembari menolak suapan Agatha.


"Sedikit lagi, Nek."


"Perut Nenek udah penuh," ujar Nenek sembari menepuk pelan perutnya.


"Yaudah, aku ke kamar dulu ya."


Agatha membereskan wadah bekas makanan neneknya. Setelah itu membantu sang nenek kembali berbaring. Gadis itu menarik selimut untuk menutupi tubuh neneknya.


"Istirahat ya, Nek." Agatha mengecup kening Nenek sebelum meninggalkan kamar.


...***...


Gimana sih rasanya deket sama nenek? ಥ‿ಥ