
"Lo kenapa sih, dari tadi muka lo di tekuk terus?"
Chacha heran, sejak pulang dari makan siang bersama Sandi, Agatha terus saja diam. Bahkan sampai di rumah pun, gadis itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Karena Chacha merasa ada yang tidak beres, gadis itu memutuskan untuk ikut pulang ke rumah Agatha.
Agatha menghela napas panjang sebelum mulai bercerita. Sepertinya dia tidak bisa menyimpan masalah ini sendirian.
"Gue merasa bersalah aja sama Kak Sandi."
"Kenapa?" tanya Chacha bingung, apa karena Sandi sudah mentraktir mereka, jadi Agatha merasa tidak enak pada pemuda itu? Rasanya terlalu berlebihan.
"Tadi pas lo ke toilet, Kak Sandi ngomong sesuatu ke gue," jelas Agatha.
"Ngomong apa?" tanya Chacha cepat. Penasaran dengan apa yang mereka bicarakan sampai membuat Agatha seperti ini.
"Dia bilang, dia suka sama gue."
"Udah gue duga, terus-terus?" Chacha tidak terlalu terkejut karena sejak awal dia sudah melihat ketertarikan Sandi pada sahabatnya itu.
"Gue tolak, lah," ujar Agatha.
"Gimana reaksinya?"
"Dia senyum, terus bilang gak papa. Tapi gue tau sebenernya dia gak baik-baik aja." Agatha jelas tahu bagaimana rasanya ditolak. Dia sudah merasakannya berkali-kali dulu. Dan rasanya sangat menyakitkan. Karena itu juga Agatha merasa bersalah karena menyakiti perasaan orang lain walaupun dia tidak pernah ingin menyakiti perasaan siapa pun.
Chacha mendengus, menurutnya ini bukan masalah yang besar.
"Lo gak boleh gitu. Perasaan gak bisa dipaksain. Kalaupun dia suka sama lo, itu juga kemauan dia sendiri. Sedangkan lo udah punya Elvano. Gak usah merasa bersalah karena nolak dia," jelas Chacha.
"Tapi tetep aja." Agatha tidak tega melihat orang lain sakit hati, apalagi karena dirinya.
"Dengerin gue. Kalau kalian emang bukan jodoh, lo bisa apa? Udah sih, jangan terlalu di pikirin. Yakin deh, suatu saat Kak Sandi pasti ketemu sama orang yang tepat."
"Iya, Chacha."
...***...
+62xxx
Liat tuh kelakuan cewek lo.
Elvano mengumpat dalam hati. Siapa yang berani mengirim pesan seperti itu padanya. Sialan, dia ingin sekali tidak percaya pada foto itu, tetapi gadis yang ada di dalam foto itu memang benar Agatha. Elvano sangat mengenalnya meskipun hanya dari belakang.
Elvn : Bngst, sp lo?
+62xxx : Gue? Gak penting. Gue cuma pengen ngasih tau kalau cewek lo selingkuh.
Elvn : Sialan!
...***...
^^^Agatha^^^
^^^El, sayang.^^^
^^^Kamu kenapa?^^^
^^^Lagi sibuk ya?^^^
^^^Aku ganggu?^^^
^^^Maaf.^^^
Read
Agatha mengerutkan keningnya bingung, tidak biasanya Elvano seperti ini. Padahal jelas-jelas pemuda itu sedang online. Dia juga sudah membaca semua pesan yang Agatha kirim. Tetapi kenapa Elvano mengabaikannya?
Mendadak Agatha merasa gelisah, apa Elvano marah? Tetapi kenapa? Gadis itu berusaha berpikir alasan apa yang membuat Elvano bersikap seperti itu. Rasa-rasanya mereka baik-baik saja sebelumnya. Bahkan kemarin mereka masih bertemu dan pemuda itu bersikap manis seperti biasanya.
Agatha mendongak menatap jam dinding. Ternyata sudah pukul sebelas malam. Gadis itu mendengar suara ketukan pintu, segera saja Agatha keluar dari kamarnya menuju pintu depan. Sepertinya itu Keenan, pintu rumah sudah Agatha kunci karena hari sudah larut.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Abang. Malem banget pulangnya." Agatha memeluk Keenan yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah. Keenan sempat heran, tumben sekali Agatha memeluknya tiba-tiba. Tetapi pemuda itu membiarkannya.
"Kerjaan Abang banyak banget. Besok harus berangkat pagi-pagi."
Agatha melepas pelukannya, "Yaudah, Abang istirahat sana."
"Iya, ini Abang bawain sate buat kamu."
Agatha tersenyum cerah, dia suka kalau Keenan membawakannya makanan ketika pulang kerja.
"Makasih, Abang. Baik banget, sih."
"Abang kan emang baik," ujar Keenan sembari melepas sepatunya. Tubuhnya terasa sangat lelah. Matanya sedikit memerah karena menahan kantuk.
"The best pokoknya."
"Yaudah, Abang mau tidur dulu. Kamu juga habis ini langsung tidur. Jangan begadang." Keenan berjalan menuju kamarnya setelah mengecup kening Agatha.
"Abang gak makan dulu?" Agatha menatap bungkusan plastik yang dia pegang. Gadis itu tidak akan bisa menghabiskan makanan itu sendirian.
"Udah kenyang."
...***...
Elvano duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya menatap tajam layar ponselnya yang menyala, menampilkan foto gadisnya yang dikirim oleh orang tidak dikenal itu.
Foto Agatha bersama Sandi.
Elvano tidak ingin percaya tetapi foto itu menunjukkan hal lain. Tadi pagi Agatha mengirim pesan padanya yang mengabarkan bahwa gadis itu pergi ke mall bersama dengan Chacha. Tetapi dalam foto itu, mereka tidak berada dalam mall. Apakah Agatha berbohong padanya?
Pikiran Elvano kacau. Dia ingin sekali percaya pada Agatha. Bukankah Agatha begitu mencintainya? Tentu gadis itu tidak akan pernah mengkhianatinya.
"Sialan."
...***...
Udahan dulu manis-manisnya, mari kita masuk konflik :)