
Agatha berjalan beriringan bersama Chacha menuju parkiran. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Suasana hati Agatha sedang tidak baik, karena itu dia terus diam sejak jam istirahat tadi. Chacha pun tidak berani bertanya, takut semakin membuat sahabatnya itu bersedih.
"Lo duluan aja, Cha. Gue mau naik bus aja."
Chacha sebenarnya tidak tega meninggalkan Agatha, tetapi hari ini dia berangkat bersama Lucky.
"Kenapa gak bareng Elvano?" tanya Chacha hati-hati.
"Males," jawab Agatha singkat. Mengingat Elvano kembali membuat dadanya sesak.
"Kalau gitu hati-hati, gue duluan." Chacha melambaikan tangannya sebelum berjalan menuju parkiran motor, sedangkan Agatha berjalan menuju gerbang untuk menunggu bus yang lewat.
Sedang melamun sembari menyandarkan tubuh di dinding, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, membuat Agatha sedikit terkejut.
"Agatha," panggil Elisa yang berdiri di sebelahnya.
"Eh, iya? Kenapa?" tanya Agatha bingung. Sejujurnya dia tidak terlalu akrab dengan Elisa.
"Elvano mana?" Elisa mengedarkan pandangannya mencari Elvano. Tetapi nihil, sepupunya itu tidak terlihat batang hidungnya.
"Gak tau." Agatha mengedikkan bahunya acuh tak acuh. Bukannya seharusnya Elisa lebih tahu di mana Elvano berada? Gadis itu satu kelas dengannya, dan lagi dia juga sepupunya.
"Aku pikir dia udah pulang sama kamu. Soalnya tadi dia keluar kelas duluan." Elisa menghela napas pelan, ternyata menasehati Elvano sama sekali tidak ada gunanya. Mereka masih bertengkar rupanya.
"Gue juga gak tau dia kemana. Dia aja cuekin gue dari kemarin," ujar Agatha kesal. Dia sangat ingin marah. Tetapi jika mereka sama-sama mementingkan ego, masalah ini tidak akan pernah selesai. Harus ada salah satu pihak yang mengalah. Biarkan Agatha mengalah untuk kali ini, gadis itu akan berusaha untuk berbicara pada Elvano nanti.
"Kalian ada masalah apa?" tanya Elisa penasaran.
Agatha sendiri tidak mengerti. Sebelumnya mereka baik-baik saja. Memang Elvano itu sangat sulit dipahami. Kadang cuek, kadang hangat, kadang dingin, kadang manis. Seperti bunglon yang sering berubah-ubah.
"Gak tau, tiba-tiba dia cuek. Chat gue gak di bales. Gak ngerti lagi gue."
Elisa mengusap bahu Agatha, mencoba untuk menyemangatinya. Dia tahu, menghadapi Elvano memang sedikit sulit, terlebih pemuda itu sangat keras kepala.
"Sabar ya, aku bantu sebisaku." Elisa tersenyum lembut pada Agatha. Dia akan berusaha berbicara pada Elvano lagi.
"Makasih ya." Agatha tersenyum tipis. Elisa sangat baik padanya, padahal dulu dia pernah bersikap sinis padanya. Agatha merasa sangat bersalah karena pernah membenci gadis itu.
"Kamu gak pulang?" tanya Elisa.
"Nunggu bus. Lo sendiri?"
Agatha mengangguk, setelahnya mereka sama-sama diam. Beberapa menit menunggu, bus yang biasanya lewat, tak kunjung datang. Cuaca semakin panas, rasanya Agatha ingin cepat-cepat pulang dan merebahkan tubuh di atas kasurnya yang empuk.
"Tha?"
Kedua gadis itu menoleh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Kak Sandi?" Agatha berdiri, diikuti Elisa.
"Belum pulang? Mau gue anterin?" tawar Sandi. Pemuda itu masih berada di sekolah karena ada beberapa urusan, kebetulan sekali Agatha juga belum pulang.
"Gak usah, Kak. Takut ngrepotin." Sejak pernyataan cinta yang Sandi ucapkan hari itu, Agatha merasa canggung jika bertemu.
"Gak papa, ayo bareng gue aja," bujuk Sandi tidak menyerah.
"Gue naik bus aja," tolak Agatha.
"Pasti lama, bareng gua aja," ujar Sandi kekeh ingin mengantar Agatha pulang.
Agatha bingung, ingin menolak lagi tetapi merasa tidak enak. Gadis itu menatap Elisa, mencoba meminta pendapat.
"Kayaknya busnya bakalan lama, sama Sandi aja. Aku juga udah di jemput," ujar Elisa, dia menunjuk mobil putih yang sudah berhenti beberapa langkah di depan mereka.
"Aku duluan ya," pamit Elisa.
"Hati-hati."
"Ayo pulang."
...***...
Elvano melihatnya. Saat Agatha masuk ke dalam mobil milik Sandi. Pemuda itu mengepalkan tangannya. Matanya menatap tajam mobil yang baru saja berlalu.
Elvano memang belum pulang. Dia baru saja kembali dari toilet, ketika melewati kelas Agatha, ternyata gadis itu sudah tidak ada. Elvano pikir, mungkin Agatha sedang menunggunya di parkiran. Tetapi ketika Elvano sampai di parkiran, dia malah melihat Agatha yang pulang bersama Sandi.
Padahal Elvano ingin sekali meminta maaf pada Agatha karena sikapnya pagi tadi. Dia menyesal, seharusnya dia mendengar penjelasan Agatha terlebih dahulu. Tetapi melihat gadis itu yang pulang bersama laki-laki lain membuatnya ragu. Apa mungkin benar, Agatha memang mempunyai hubungan dengan Sandi?
...***...
Kalian baca ini jam berapa? Aku mau bikin jadwal up setiap jam 00.00. Semoga gak lupa dan gak males ಥ‿ಥ