
"Gimana?"
Malam ini Farhan sedang berada di kediaman Lucky dan Chacha. Mereka memutuskan untuk berkumpul membahas mengenai kejadian yang menimpa Elvano.
"Gak ada saksi mata satu pun di sana. Pelakunya pinter banget nyari tempat yang sepi begitu. Bapak-bapak yang bawa Elvano ke rumah sakit juga gak tau. Katanya dia cuma nemuin Elvano udah pingsan di tempat pas gak sengaja lewat sana," jelas Lucky.
"Terus gimana, Bang?" tanya Chacha yang duduk ditengah-tengah kedua lelaki itu. Posisi mereka saat ini sedang duduk di sofa.
"Mau gimana lagi? Mungkin kita emang harus nunggu kabar dari polisi," jawab Farhan pasrah. Pikirannya sudah buntu, tidak bisa memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang melatarbelakangi seseorang itu menyelakai Elvano.
Chacha menghela napas panjang sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Dia ikut pusing karena tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
"Elvano punya musuh gak sih? Gak mungkin kan orang yang nusuk dia itu cuma iseng? Pasti ada maksud tertentu," celetuk Chacha ditengah keheningan yang melanda.
"Setau kita, enggak." Farhan yakin Elvano tidak mempunyai musuh. Dia orang baik, mustahil mempunyai musuh. Kecuali memang ada seseorang yang tidak suka pada Elvano.
"Dia aja cuek banget ke semua orang, gimana mau punya musuh?" lanjut Lucky. Dia berpikir bahwa, Elvano selama ini tidak terlalu sering berinteraksi dengan banyak orang. Karena itu, tidak mungkin kan Elvano mempunyai musuh?
"Kali aja kan, karena Elvano itu begitu sikapnya, ada orang yang gak suka sama Elvano?" tanya Chacha ragu.
"Gak tau sih." Farhan mengedikkan bahunya tidak mengerti.
"Kasian Agatha. Dia pasti sedih banget. Siapa sih orang yang berani-beraninya berbuat kayak gitu ke Elvano!" ujar Chacha kesal sekaligus sedih ketika mengingat Agatha yang matanya selalu terlihat bengkak akibat terlalu sering menangis.
"Tau tuh, kalau ketemu udah gue bales tuh. Kalau perlu gue cabut nyawanya sekalian," ujar Farhan ikut kesal.
"Yang ada lo sama aja kayak pelakunya. Masuk penjara baru tau rasa lo!" cibir Lucky.
Farhan terkekeh pelan, "Becanda."
Tok tok
"Hai semua." Elisa masuk ke dalam rumah setelah mengetuk pintu. Karena pintunya terbuka, gadis itu memutuskan untuk langsung masuk. Toh, ini bukan pertama kalinya dia berkunjung ke rumah Lucky. Sudah biasa.
"Kok gak bilang mau ke sini?" tanya Lucky heran mendapati kekasihnya tiba-tiba datang.
"Kenapa? Gak boleh?" tanya Elisa sembari mengambil duduk di sebelah Lucky.
"Bukan gitu, boleh banget kok, sayang. Tapi kalau kamu bilang kan aku bisa jemput," ujar Lucky menatap Elisa gemas.
"Gapapa, aku naik taksi kok," balas Elisa sembari tersenyum lembut. Dia tidak ingin merepotkan Lucky. Mau bagaimana pun, gadis itu harus berusaha mandiri.
"Tai, kalau mesra-mesraan gak usah di sini kali," kesal Farhan. Telinganya panas mendengar obrolan sepasang sejoli itu. Mana pakai sayang-sayangan pula.
"Iya, gak liat apa ya di sini ada yang jomblo," sambung Chacha ikut merasa kesal.
Lucky hanya tertawa mengejek sedangkan Elisa merasa malu. Lupa kalau di ruangan ini tidak hanya mereka berdua.
"Oh iya, aku mau nunjukin sesuatu," ujar Elisa setelah menormalkan raut wajahnya. Dia merogoh tasnya untuk mencari benda yang ingin ia tunjukkan pada mereka.
"Apa? Apa?" tanya Chacha penasaran.
"Ini, di handphone Elvano ada chat dari nomor gak dikenal. Aku gak sengaja baca waktu ngecek handphone dia. Nomor itu ngirim foto Agatha sama Sandi waktu mereka lagi ada di restoran. Tapi ini chat-nya udah lumayan lama sih. Kalian inget waktu Agatha sama Elvano berantem dulu? Itu semua gara-gara orang ini," jelas Elisa sembari menunjukkan chat yang dia maksud.
"Nomor siapa nih?" tanya Farhan.
"Mungkin gak sih kalau orang yang nyelakain Elvano itu sama kayak orang yang udah bikin Elvano dan Agatha berantem?" tanya Elisa.
"Kita lacak aja nomornya ini. Cha, ambilin laptop di kamar gue dong," perintah Lucky. Dengan segera, Chacha berlari menaiki tangga menuju kamar Lucky.
"Kira-kira tujuan orang ini apa ya?" tanya Lucky ketika melihat isi chat dari nomor asing tersebut.
"Dia pengen bikin Agatha sama Elvano berantem, mungkin?" ujar Elisa ragu.
"Itu artinya, orang ini pengen hancurin hubungan mereka berdua. Makanya ngirim foto begitu biar Elvano salah paham sama Agatha," jelas Farhan yakin.
Lucky terdiam memikirkan perkataan keduanya. Bisa saja memang benar seperti itu.
Beberapa menit hanya diisi oleh keheningan. Mereka sibuk mengamati Lucky yang sedang berkutat dengan laptopnya.
"Ketemu!" teriak Lucky dengan semangat.
"Apa? Di mana? Siapa?" tanya Chacha tidak mengerti.
"Lokasinya gak jauh dari sekolah. Gue curiga kalau dia ternyata salah satu murid di sekolah kita," jelas Lucky mengamati tanda merah yang menunjukkan lokasi nomor asing tersebut.
"Jadi, kita mau ke sana?" tanya Chacha.
Farhan mengangguk semangat, "Mumpung belum terlalu malem. Ayo berangkat."
...***...
Di sisi lain, Agatha tengah duduk sambil termenung menatap Elvano yang masih menutup matanya. Tidak ada tanda-tanda pemuda itu akan bangun meski berkali-kali Agatha memanggil namanya.
Lamunan Agatha terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu. Kebetulan gadis itu sedang sendirian, Hana sedang berada di kantin untuk membeli makan malam. Dengan malas, Agatha beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu.
Terlihat seorang pria paruh baya berdiri di depan ruangan sembari membawa sebuket bunga mawar. Dilihat dari seragam yang ia kenakan, sepertinya pria tersebut adalah salah satu satpam yang berjaga di rumah sakit.
"Maaf, ada apa ya, Pak?" tanya Agatha dengan ramah.
"Bisa saya bicara dengan Mbak Agatha?" tanya satpam itu balik.
"Iya, saya sendiri." Agatha mengernyit heran, ada apa sebenarnya? Tumben sekali ada satpam yang mencarinya.
"Ini ada titipan bunga dari temen Mbak." Satpam tersebut memberikan buket bunga yang ia bawa pada Agatha. Meskipun bingung, gadis itu tetap menerimanya.
"Dari siapa ya, Pak?"
"Maaf, saya tidak tahu."
"Oh oke. Makasih, Pak."
Setelah satpam tersebut pergi, Agatha kembali masuk ke dalam ruang rawat Elvano. Dia menatap buket bunga mawar di tangannya dengan bingung. Satpam itu bilang, bunga ini dari temannya. Tapi teman yang mana? Agatha meneliti kembali bunga itu, siapa tahu ada surat dari pengirimnya. Dan benar saja, ia menemukan sepucuk surat yang diselipkan ditengah-tengahnya.
Hai Agatha.
Gimana keadaan pacar lo? Baik-baik aja atau udah sekarat? Gue sih berharap dia gak akan bangun lagi.
Gimana hadiah dari gue? Suka gak? Oh iya lupa, happy birthday my girl, love you.
-Your Boyfriend
Agatha membanting bunga mawar itu ke lantai. Tangannya meremas surat yang baru saja ia baca. Gadis itu berdiri mematung dengan air mata yang meleleh membahasi pipinya.
"Gak mungkin," gumam Agatha. Dia merasa sangat terkejut dengan isi surat itu.
"Si-siapa dia?" lirih Agatha. Gadis itu menatap Elvano dengan air mana yang tidak berhenti mengalir.
Siapa orang yang berani nyakitin kamu?
"Agatha?"
Hana terkejut melihat Agatha yang menangis sesenggukan. Wanita itu baru saja kembali dari membeli makanan.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Hana khawatir. Agatha yang ditanya seperti itu justru semakin menangis. Dia mendekat pada Hana dan memeluknya dengan erat.
"Hey, ada apa?" Hana mengusap kepala Agatha dengan sayang.
Agatha tidak menjawab, dia hanya menangis di pelukan Hana. Tangannya meremas surat itu semakin erat, berusaha untuk menyembunyikannya dari Hana. Ia tidak ingin membuat wanita itu merasa khawatir ketika membacanya. Agatha berjanji, dia akan mencari tau siapa orang yang mengirim bunga itu.
...***...
Tutorial jadi detektif dong ಥ‿ಥ