COLD BOY - NEW VERSION

COLD BOY - NEW VERSION
BAB 43 - Maaf



Kelas XI IPA 1 sudah ramai dengan murid-murid yang datang. Termasuk Chacha yang baru saja duduk di sebelah Agatha. Gadis itu menatap sahabatnya dengan pandangan menyelidik ketika menyadari mata bengkaknya.


"Lo habis nangis ya?" tanya Chacha tepat sasaran.


"Enggak, kok," elak Agatha. Gadis itu sedang malas membahas soal itu. Takut dirinya kembali menangis lagi.


"Gak usah bohong. Gue tau lo habis nangis," ujar Chacha yang jelas tidak percaya.


"Enggak, Chacha. Gue gak nangis," ujar Agatha dengan tersenyum untuk meyakinkan Chacha meski itu percuma.


Chacha mendengus kesal, "Kenapa sih cewek itu selalu sok kuat padahal aslinya lemah."


"Ngaca woy, lo juga cewek." Agatha menoyor kepala Chacha kesal, sedangkan sahabatnya itu hanya terkekeh pelan.


"Tapi serius, lo kenapa?" tanya Chacha dengan wajah serius. Kali ini dia tidak ingin becanda.


Agatha menghela napas panjang sebelum mulai bercerita.


"Elvano marah sama gue."


"Kok bisa?"


"Inget waktu kita makan siang bareng Kak Sandi? Pas lo ke toilet, ada yang nge-fotoin gue sama Kak Sandi. Terus foto itu di kirim ke Elvano," jelas Agatha.


"Sialan. Siapa sih tuh orang? Bikin kesel aja, kalau ketemu, gue bunuh juga lo," kesal Chacha.


"Emang berani?" tantang Agatha.


"Enggak," balas Chacha dengan cengirannya.


"Eh, eh, liat ke pintu," lanjut Chacha sembari menepuk lengan Agatha pelan.


"Apa sih?" tanya Agatha penasaran, gadis itu mengikuti arah pandang Chacha.


Deg


"Aga. Ikut aku sebentar, ya?" Elvano berdiri di sebelah Agatha dengan tatapan memohon.


Agatha bingung, dia masih merasa sakit hati atas perlakuan Elvano padanya. Gadis itu menatap Chacha dengan pandangan bertanya yang di balas anggukan.


"Hm." Agatha mengangguk dan berjalan mengekori Elvano.


...***...


Di sinilah mereka sekarang. Taman sekolah. Pagi ini taman belum terlalu ramai. Keduanya duduk berdampingan di bawah pohon mangga yang teduh.


Agatha hanya diam, menunggu Elvano yang memulai percakapan. Dia lelah berbicara jika pada akhirnya tidak pernah di dengar.


"Maaf."


Agatha menoleh, menatap Elvano yang sedang menunduk.


"Semuanya." Elvano merubah posisi duduknya agar berada di depan Agatha. Pemuda itu meraih kedua tangan Agatha untuk di genggam. Matanya terus menatap gadis itu dengan tatapan menyesal.


"Maaf, aku kekanakan. Maaf, aku gak percaya sama kamu. Maaf karena udah berpikir yang enggak-enggak. Maaf, karena udah nyakitin hati kamu."


Agatha menghela napas pelan, dadanya kembali sesak ketika mengingat perlakuan Elvano padanya.


"Hm, kenapa? Bukannya kemarin kamu gak mau bicara sama aku? Kenapa tiba-tiba?"


Elvano semakin merasa bersalah melihat mata Agatha yang berkaca-kaca. Pemuda itu menunduk, mencium kedua tangan Agatha yang masih dia genggam.


"Maaf, aku yang salah. Aku terlalu cemburu sampai sampai gak bisa bedain mana yang benar dan salah. Maafin aku." Elvano masih menunduk, tidak berani menatap mata Agatha yang memancarkan luka, dan luka itu karena dirinya.


Agatha tersenyum meski air matanya mengalir.


"Iya, gak papa. Lagi pula aku udah biasa kamu cuekin. Dulu pun kamu emang sering cuekin aku. Aku mah kuat," ujar Agatha dengan ceria. Seolah dirinya baik-baik saja.


Elvano mendongak, dadanya sesak ketika melihat Agatha menangis tetapi tersenyum. Dengan pelan, Elvano mengusap air mata yang membasahi pipi Agatha.


"Maaf," ucap Elvano untuk kesekian kalinya.


"Gak papa. Gak perlu minta maaf. Aku juga salah karena nerima ajakan Kak Sandi, padahal aku udah punya kamu. Harusnya aku gak deket-deket sama cowok lain," ujar Agatha.


Elvano sudah tidak tahan, pemuda itu memeluk Agatha dengan erat. Jika waktu bisa di putar kembali, dia tidak ingin menyakiti hati gadisnya.


"Maaf, aku terlalu emosi."


Agatha mengangguk dalam pelukan Elvano. Setelahnya gadis itu meminta Elvano untuk duduk di sebelahnya.


Agatha menyandarkan kepalanya di bahu Elvano dengan tangan yang memeluk lengan pemuda itu erat. Sedangkan Elvano menggenggam sebelah tangan Agatha.


"Waktu Chacha pergi ke toilet, Kak Sandi nyatain perasaannya ke aku," ujar Agatha pelan. Dia tidak ingin menyembunyikan apapun. Tidak ingin lagi ada kesalahpahaman yang lainnya.


Elvano yang mendengarnya, mengepalkan kedua tangannya. Agatha yang menyadari pemuda itu tengah emosi memilih untuk mengusap lengannya, berusaha untuk meredam amarahnya.


"Tapi aku tolak. Kamu mau tau gak kenapa aku tolak? Karena cuma kamu orang yang aku suka. Karena cuma kamu satu-satunya cowok yang ada di hati aku."


Agatha tersenyum sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.


"Aku gak tau kenapa ada orang yang tega memfitnah aku. Aku gak pernah selingkuh, El." Air mata kembali mengalir membasahi pipinya.


"Iya, aku tau. Maaf." Elvano mengecup puncak kepala Agatha dengan sayang. Pemuda itu kembali memeluk Agatha dengan erat, membiarkan Agatha menangis sesenggukan untuk kali ini.


"Liat kamu yang cuekin aku beberapa hari, bikin hati aku sakit, El. Sakit banget."


"Maaf, maaf, maaf."


...***...


Udah kok, aku gasuka keributan soalnya :)