
Bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu. Perut Agatha terasa sangat lapar karena sejak pagi belum terisi oleh makanan. Dia lupa untuk sarapan karena kembali bangun kesiangan, beruntung kali ini dia tidak terlambat lagi.
"Chacha, kantin yuk."
"Mager, Tha."
"Ayolah, Cha, temenin gue. Gue laper banget nih."
"Males ah, gue mau baca novel aja. Penasaran banget sama ceritanya."
Agatha mendengus kesal, sahabatnya itu ketika sedang membaca novel maka tidak akan ada yang boleh mengganggunya.
"Terus gue sama siapa dong? Gak mau sendirian, ah." Agatha malas pergi ke kantin sendirian, tapi dirinya sangat lapar. Chacha pasti tidak akan mau meski dirinya terus merengek.
"Sama gue aja."
Suara seseorang yang terdengar familiar, masuk ke dalam indra pendengaran Agatha. Gadis itu mendongak, di sana ada seorang pemuda yang sedang berdiri di depan pintu kelas yang terbuka sembari menyandarkan tubuhnya pada dinding. Wajahnya tersenyum hangat, membuat ketampanannya bertambah beberapa kali lipat di mata Agatha. Ah, Agatha baru menyadari bahwa Sandi memang sangat tampan, lebih tampan dari Elvano, mungkin?
"Eh, Kak Sandi. Kok ada di sini?" Jarak antara tempat duduk Agatha dan pintu kelas memang tidak terlalu jauh karena Agatha duduk di barisan ke dua dari depan.
"Jemput lo, ayo ke kantin bareng," ajak Sandi. Sepertinya sekarang dia tidak perlu ragu mendekati Agatha secara terang-terangan. Dia sudah memastikan bahwa Agatha memang tidak menjalin hubungan dengan siapapun, terutama Elvano.
Chacha yang sedari tadi sibuk membaca bukunya kini mendongak dengan cepat ketika mendengar ajakan Sandi. Gadis itu segera menatap Agatha sembari menggerakkan tangannya seolah-olah mengusir.
"Nah kebetulan ada Kak Sandi. Udah sana pergi, katanya laper banget tadi," ujar Chacha.
Agatha terlihat berpikir sejenak sebelum mengangguk. Tidak ada salahnya menerima ajakan Sandi. Toh tidak ada lagi hati yang harus dia jaga.
"Yaudah, gue pergi dulu, Cha," pamit Agatha.
...***...
"Van, coba lihat ke sana!" Lucky menunjuk seseorang yang tengah memasuki kantin.
"Apa?" tanya Elvano malas.
Mereka bertiga sedang berada di kantin, ditambah Elisa yang selalu mengikuti kemanapun Elvano pergi.
"Agatha sama Sandi." Farhan ikut menunjuk ke arah Agatha dan Sandi yang kini duduk tidak jauh dari tempat mereka.
Kedua tangan Elvano mengepal, rahangnya mengeras tanda bahwa pemuda itu tengah menahan emosinya ketika melihat Sandi yang terus menatap Agatha. Mereka berdua saling melempar senyum, sesekali terlihat tertawa bersama.
Ada rasa cemburu ketika melihat Agatha tertawa lepas ketika bersama Sandi. Berbeda ketika Agatha bersama dengannya dulu, gadis itu terlihat selalu murung setelah mendapat penolakan dari Elvano. Meski setelahnya kembali tersenyum sekakan tidak terjadi apapun.
Brengsek, Elvano mengumpat dalam hati. Dia marah, tetapi tidak bisa melakukan apapun.
"Kan, kan, keduluan sama Sandi," ejek Farhan. Dia ingin tertawa dengan keras, tetapi takut Elvano akan mengamuk dan memukulnya.
"Apa gue bilang? Goblok sih lo!" timpal Lucky. Tidak ada gunanya Elvano mengakui perasaannya jika sekarang sudah ada penggantinya.
"Diem lo berdua!" geram Elvano. Bukannya membuatnya tenang, kedua sahabatnya malah membuatnya semakin emosi.
"Kalau kamu sayang, ungkapin perasaan kamu ke dia. Aku yakin Agatha masih sayang sama kamu," ujar Elisa lembut.
"Bener tuh kata Elis," dukung Lucky.
Elvano berdecak kesal, "Iya!"
"Jangan mau kalah sama Sandi," ujar Farhan menyemangati.
"Hm."
Suasana hening, mereka semua kembali sibuk dengan makanan masing-masing. Kecuali Elvano yang masih menatap tajam ke arah Sandi. Dia tidak berselera untuk makan, dia hanya ingin memukul wajah Sandi.
"Kok pedes banget ya baksonya," celetuk Lucky. Mukanya memerah karena kepedasan.
"Gue kasih 3 sendok sambal," ujar Farhan tanpa dosa kemudian kembali melanjutkan makannya.
"Kampret lo," kesal Lucky.
"Ini minum, biar gak kepedesan." Elisa menyodorkan gelas minuman miliknya karena milik Lucky sudah habis.
"Aduh perhatian banget," goda Farhan, dia beberapa kali berpura-pura terbatuk.
"Diem lo, nyet!" Lucky menatap tajam Farhan, kemudian pandangan beralih pada Elisa. Seketika tatapannya melembut.
"Makasih, ya, Elis." Lucky tersenyum lebar sembari meminum minuman Elisa.
"Sama-sama," jawab Elisa balas tersenyum.
"Ngapain ngeliatin Elis sampai segitunya?" tanya Elvano ketus pada Lucky.
"Sirik aja lo, Van," cibir Lucky. Terserah lah dia mau menatap Elisa seperti apa.
"Iri ya? Haha, makanya jadian sama Agatha, biar gak jomblo lagi," ledek Farhan.
"Ngaca."
"Gue udah punya gebetan, namanya Chacha," balas Farhan santai.
"Gue gak akan restuin adek gue pacaran sama playboy kayak lo," ujar Lucky kesal. Mengapa Farhan membawa-bawa Chacha.
"Yaelah, sama adik ipar gak boleh gitu."
"Jijik! Gak Sudi punya adik ipar kayak lo!"
...***...
Panggilin pemadam kebakaran dong, hati El lagi kebakaran tuh :)